Hari Berselancar

1190 Kata
Pagi itu Mery menguap keluar dari dalam rumah menuju teras dan menemukan mereka semua yang menikmati minuman hangat dimeja. "Seperti bukan wanita, bangun sesiang ini?" komentar Adi menyindir Mery. "Selama jodoh belum mendekat, biarlah aku bebas sesuka hatiku. Lagian apa urusannya denganmu," Mery terlihat kesal tapi mengontrol emosinya dengan baik. "Memang bukan wanita, ayo ke pantai! Aku ingin main air lalu mandi setelah itu!" Adi berjalan duluan kesana. "Eh tunggu, Di. Mery maafkan Adi yang sensitif itu ya! Dia sedikit lalu," Leon berlari menyusul Adi. Dari belakang disusul Gandi yang tanpa berkata apapun, mengikuti Leon dari belakang. "Kak Mery, ayok main air di pantai! " Runa mendekati Mery dan menggandeng tangannya untuk menuju ke Pantai. Larbi yang tiba-tiba di tinggal sendirian oleh Runa, akhirnya beranjak dan mengikutinya dari belakang. Mereka menikmati keindahan pantai di hari itu, mereka mulai bermain dengan air hingga terguyur ombak, pecah sudah tawa mereka saat itu, Larbi yang cukup lelah menyusul Gandi yang sudah duduk di pasir tepi pantai, mereka berdua sama-sama melihat kearah teman-temannya yang masih bermain dengan air laut. Larbi ternyata hanya terfokus pada satu wanita yang selalu tersenyum ketika bercanda dengan Mery  "Hei, Bro. Ada apa dengan wajahmu? memerah sambil tersenyum begitu," tanya Gandi menyenggol tubuh Larbi dengan pundaknya. "Aku hanya heran, Kenapa Runa terlihat begitu cantik saat tertawa?" Larbi masih terus memandang Runa dari kejauhan. "Ternyata begini jika melihat pria jatuh cinta?Bi, Bi kamu memang sudah berubah, semenjak ada Runa kamu sudah menghilangkan kebiasaan burukmu, seperti kasar, kejam dan terlihat galak. Runa bisa mengubahmu menjadi seperti itu," komentar Gandi sambil memandang indahnya lautan. "Dia memang gadis yang istimewa, mungkin banyak gadis yang cantik disekelilingku, tapi dia satu-satunya yang menarik dimataku, dia bisa kejam, bisa lembut dan berani melawanku. Dia tahu cara membuat orang bahagia walaupun caranya sederhana," Larbi masih memandangi Runa dari kejauhan. "Dia cantik seperti adikku, setiap aku melihatnya sorot matanya dan semua sikapnya mengingatkan aku dengan Lisa, Dia memang gadis yang luar biasa. Setiap aku melihat Runa, aku terlihat sangat merindukan Lisa," Gandi masih terus menatap lautan. "Kenapa aku punya firasat, Gandi menyukai Runa?" Batin Larbi memandangi Gandi yang masih melihat kearah lautan. "Jangan Berfikiran terlalu jauh!" Larbi menampik pikirannya  sendiri. "Kenapa kamu melihatku terus? Kamu baru tahu kalau aku ganteng?" Gandi yang kepedean membuyarkan pikiran Larbi. "Ya ampun, kamu bisa juga terlalu PD menilai dirimu sendiri," Larbi sedikit mengernyitkan dahi. "Hahahahahah, itu kenyataannya."  Tiba-tiba Runa dan yang lainnya menghampiri Larbi dan Gandi dengan membawa kelapa muda di tangan mereka. "Ayo kita minum!" Leon berteriak sambil membawakan dua buah kelapa muda untuk Larbi dan Gandi. "Makasih," jawab Larbi dan Gandi setelah meerima kelapa muda itu. Hari itu mereka menikmati pemandangan pantai pagi hari dengan kelapa muda di tangan. Hari sudah hampir siang, waktunya mereka mandi. Nenek ternyata sudah menyiapkan 5 kilogram ikan mentah untuk di masak. "Akhirnya kalian pulang juga, sambil antri mandi karena kamar mandi hanya satu, Runa dan Mery bisa bantu nenek di dapur. Untuk para pria yang masih menunggu giliran mandi, bantu nenek untuk menyiapkan kayu bakar untuk memanggang ikan, maafkan nenek disini hanya ada cara tradisional untuk memasak," jelas nenek Runa yang masih terlihat perkasa itu menjinjing ember berisi lima kilogram ikan segar. "Tidak apa-apa nek, jadi terlihat seperti camping. kami akan melakukannya!" Adi menjawab dengan antusias. Giliran mandi yang pertama adalah Adi setelah mereka melakukan hompimpah untuk menentukan urutan mereka mandi, Nenek, Runa dan Mery menyiapkan bumbu ikan untuk dimasak. Setelah mereka selesai di Dapur mereka keluar dan memanggang ikan bersama dengn yang lain, siang itu begitu ceria, satu persatu dari mereka mulai mandi dan beberapa orang mulai makan. Mereka saling bekerja sama untuk saling memasak, bercengkrama dan bercanda diatas pasir depan rumah Runa. "Aku sangat bahagia melihat banyak teman datang ke tempat ini, melihat senyum nenek yang begitu lepas, membuatku berfikir indahnya sebuah kebersamaan keluarga, " Runa berkata dalam hatinya sambil melihat mereka semua duduk melingkar. Larbi jelas mendengar suara hati Runa, dia tersenyum, mencoba bersikap tidak mendengar apapun. Tapi sepertinya Larbi tidak tahan ingin menatap mata Runa. "Mereka bisa datang lagi ketempat ini suatu hari nanti, " sahut Larbi dalam hati. Mata mereka berdua bertemu, karena mereka duduk berhadapan dengan jarak cukup jauh. "Aku lupa, jika suara hatiku bisa di dengar." Runa baru tersadar sambil berkata dalam hatinya. "Tidak apa, aku mulai terbiasa dengan telingaku ini. I love you Runa," Larbi mengucapkan dengan lembut dalam hatinya. Wajah Runa merona dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Love you too Larbi, kenapa kamu malah membuatku malu?" komentar Runa sembari membalik ikan yang sedang di panggang. Larbi tersenyum memandang Runa dan Runa pun membalas senyuman itu. "Aiss dua orang ini, kasmaran terus ya bikin iri," Komentar Mery dalam hati. "Hei, deketan aja kenapa? Jauh-jauhan tapi mata sama ketawa-ketiwi tetep, kalian ini, Berperasaanlah dengan yang masih jomblo," Mery tiba-tiba terlihat kesal. "Kak, bukankah ada seseorang yang kamu suka disini?" Runa dengan sigap menggoda Mery masih membolak-mbalikkan ikan. "Sssttttt, kamu tidak bisa bisa diam!" Mery menutup mulut Runa. "Emang Mery suka sama siapa?" Larbi bertanya kepada Runa dalam hati. "Leon, Bi." Jawab Runa singkat dalam hati menatap Larbi. "Oh, Dia. Astaga! Ku harap Mery berhati-hati, Dia itu Playboy cuma tingkahnya bisa terlihat sangat lugu," Komentar Larbi dalam hati yang selesai memanggang ikan di depannya. "Bagaimana jika dicoba?" Runa memberi saran dalam hati. "Itu mudah, aku bisa membantu." Larbi tiba-tiba berdiri dan mengangkat ikan yang masih panas itu, lalu berpura-pura tersandung dan menabrak Leon di sebelahnya. "Bruk!" Ikan itu jatuh tepat di tangan Leon. "Aww, Bi, apa-apaan sih, panas!" Leon langsung berdiri dan melihat tangannya merah melepuh. "Maaf, maaf aku nggak sengaja. Mery bisa mintakan obat untuk Leon?" Larbi spontan memberi perintah Mery untuk mengambilkan obat. "Hahh, aku?" Mery terkejut "Iya siapa lagi?"Larbi sedikit mengernyitkan dahi. "Ahh, iya, iya, Runa dimana kotak obatnya?" Mery sedikit panik. Larbi mengedipkan mata ke Runa seraya memberi isyarat. "Ternyata kamu jago berakting, Larbi" batin Runa. "Kak Kotak obat ada dibelakang pintu sebelah kiri," Runa memberi petunjuk. "Baiklah," Mery bergegas karena Leon mulai kesakitan. Dengan segera Mery mengambil obat luka bakar dan bergegas untuk mengobati Leon. Mery memberikannya ke Larbi tapi Larbi menolak. "Mer, kamu saja yang mengobati Leon, tanganku kotor." Larbi berpindah dan meneruskan untuk membakar ikan selanjutnya, membantu Gandi yang sedang memberi bumbu di setiap ikan. "Ahh iya," Mery canggung bukan kepalang. "Kenapa aku jadi deg-degan ya? Padahal kemarin sudah mulai terbiasa." Batin Mery sambil memegang tangan Leon dan mengoles luka dengan cottonbath. "Aww, pelan-pelan!" Leon sedikit menjerit menghentikan tangan Mery yang sedang mengobati. Tangan Mery yang di genggam Leon membuatnya mematung sejenak, Leon tersadar jika jantungnya tiba-tiba berdetak cepat, mereka berdua saling berpandangan beberapa detik mereka sadar dan membuang pandangan itu ke arah lain. Mery kembali melanjutkan untuk memberi obat. "Aww, aww," Leon masih sedikit merintih. "Sudah selesai," Mery membereskan kotak obat itu. "Makasih, " tanpa sadar Leon memperhatikan Mery. "Sama-sama," Mery bergegas pergi dan. mengembalikan kotak obat itu. "Kenapa aku merasa, Mery cantik ya? Dari dekat dia sangat menarik, padahal selama ini aku tidak, hahh, apa yang ku pikirkan?" Leon menyadarkan dirinya sendiri. Mery mengembalikan kotak obat itu di tempatnya, jantungnya tidak mau berhenti berdetak dengan cepat, dia tersenyum. "Sepertinya aku tidak salah menyukaimu sejak awal," Mery tersenyum sangat bahagia. Saat Mery kembali, Leon tanpa sadar memandang Mery yang berjalan ke tempat duduknya. "Sepertinya rencanaku berhasil, selebihnya biar mereka saja yang menjalani." Larbi berbicara dengan Runa dalam hati. "Makasih, Larbi." Runa tersenyum dan memandang Larbi dari kejauhan. "Sama-sama sayang, tapi kamu harus mengabulkan satu permintaanku!" Larbi mulai menatap Runa dengan tatapan menggoda. "Kamu terlihat pamrih, Apa yang harus kulakukan?" Komentar Runa dalam hati. "Akan kuberi tahu setelah kita selesai mandi," Larbi menatap mata Runa dengan senyuman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN