"Tuan Bram, Bi?" Ulangku memastikan, Bi Nur mengangguk mengiyakan. "Sekarang ya, Non." Bi Nur kembali menegaskan, aku mengangguk mengerti. "Iya, Bi. Zanna kesana." Aku melangkah pelan, meninggalkan Bi Nur, yang kemudian masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih. Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini, aku menarik nafas dalam, dan menghembuskan perlahan. Sadarku mulai menghampiri, membangunkan diri dari mimpi panjang yang indah. Ini hanya pernikahan sementara, hanya sebuah kontrak, mengapa aku menenggelamkan diri begitu dalam. Lalu, siapa yang akan aku salahkan, Kenzi dengan cinta nya, atau diriku yang terjebak dalam rasa yang sama. Suara berat seorang pria memintaku masuk, setelah aku mengetuk pintu. Aku memutar handling pintu, kemudian mendorongnya. Pandanganku langsung tertuju p

