Part 41 "Hai Junior, mau main sama papa, ya?" Kenzi menempelkan telinganya di perutku. Sesaat kemudian dia mengangkat wajahnya, dengan senyum lebar. "Kamu tau sayang, dia bilang apa? Dia mau main bola sama papanya," ucap Kenzie. "Terus dia juga lagi sebel, Karena mamanya nangis terus, sedih terus," ucap Kenzi, kali ini tak ada senyum menyertai kalimatnya. "Mana ada dia bilang gitu?!" Bibirku manyun seketika. Melihat bibirku mengerucut, justru Kenzi tersenyum kembali. "Ada, sayang." Kenzi berucap masih dengan senyumnya. "Aku rindu, rindu manjamu, rindu senyummu, semuanya." Kenzi mendekatkan wajahnya padaku, memangkas jarak yang ada. Bibir basahnya kembali mengecupku di bagian yang sama. Sekilas ditariknya sebentar, dan kembali dia membekap bibirku yang setengah terbuka. Tak menolak

