Part 26 Aku tak ingin mengganggunya, melihatnya baik-baik saja itu sudah cukup bagiku. Tak berapa lama ada dua orang pria lainnya yang datang. Mereka terlihat akrab ngobrol, sesekali tawa menyelingi obrolan mereka. "Kamu kenal?" Aku kaget saat Santi mendekatkan wajahnya. Sesaat aku menolehnya lalu menggelengkan kepala. "Terus ngapain senyum-senyum gitu? Suka? Ganteng sih, ngeri tapi banyak tatonya." Santi bergidik sendiri. "Tapi, hatinya bagai malaikat." Aku masih melihat ke arah Bara, yang sedang mengobrol dengan temannya. "Katanya nggak kenal, tau dari mana hatinya bagai malaikat," selidik Santi. Aku keceplosan, kemudian kembali menggeleng. "Nggak, maksudku kadang kelihatannya sanggar, tapi ternyata hatinya baik," ralatku. Santi masih menatapku, terlihat tak puas dengan jawaba

