Menata Serpihan Hati

1814 Kata

"Kenapa di aduk doang? diminum dong," ucap Santi yang melihatku hanya mengaduk gelas berisi es cendol di depanku. "Emm … nggak papa, kepikiran aja susah ternyata cari kost di sekitar sini," jawabku mencoba menutupi apa yang baru saja aku lihat. "Ntar juga dapet, Sayang. Harus semangat dong," ucap Santi lagi mencoba menghibur. "Mangat … selaku," jawabku sambil memaksa tersenyum. Meski manis minuman di depanku, tetap saja terasa hambar bagiku es cendolnya. Ada yang sakit dan perih, di sini di dalam d**a ini. Meski mencoba menerima semua dengan ikhlas, tetap saja aku hanya manusia biasa, yang mudah sekali terluka. "Lanjut?" tanya Santi setelah menghabiskan es cendolnya. Aku kemudian menjawab dengan sebuah anggukan. "Nggak dihabiskan?" tanyanya lagi, aku menggeleng. Dia mengambil gelas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN