Talak dan Kedatangannya
“A-apa Mas, cerai? “ ucap Mona tercekat. Pelupuk matanya sudah mulai membengkak akibat tangis yang tak kunjung reda.
“Ya, Mona. Kita bercerai saja. “ Andika berbicara begitu entengnya.
Tak lupa, Andika yang saat itu tengah menalak Mona, malah sedang duduk dengan rapihnya di sebuah sofa bersama wanita lain, yang tak lain adalah kekasih gelapnya selama ini.
Ah, berbicara tentang kekasih gelap, Mona malah meragukan hal itu. Setelah Andika yang saat ini sedang menalak dirinya di hadapan seorang wanita, ia malah ragu bahwa dirinya lah yang ternyata pendatang di kehidupan Andika dan kekasihnya itu.
Pernikahan yang diatur seperti yang dialami Mona saat ini, memang sangat langka keberhasilannya.
Ya, betul. Pernikahan Mona dan Andika sendiri sedari awal memang tak pernah di dasari oleh rasa cinta.
Mereka adalah korban sebuah perjodohan antar orang tua mereka sendiri.
Namun, setelah sepuluh hari mereka menyandang sebuah status suami istri yang sah, lambat laun, benih-benih cinta itu datang juga pada Mona.
Ia beberapa kali dibuat jatuh cinta pada sikap Andika yang begitu amat perhatian terhadap dirinya.
Akan tetapi, hari ini ... Tepat sepuluh hari mereka menjadi suami istri, tiba-tiba saja Andika malah masuk ke dalam rumah mereka berdua dengan menggandeng seorang wanita.
Apa tidak terpukul hati Mona saat itu. Apalagi, Andika seperti tak memberikan jeda untuk dirinya bertanya lebih. Karena yang sudah terjadi, Andika masuk ke dalam rumah dan tanpa banyak penjelasan apapun, ia langsung memperkenalkan wanita yang ia gandeng itu sebagai kekasihnya. Dan sebagai gantinya, ia malah menceraikan Mona begitu saja.
"Ta-tapi... Apa salahku, Mas? " tanya Mona yang masih berusaha mendapatkan sebuah jawaban.
Akan tetapi, Andika yang ditanya malah tak mengindahkan pertanyaan tersebut. Ia malah asik bermesraan bersama wanita yang baru saja ia perkenalkan sebagai kekasihnya tersebut.
Alhasil, Mona segera mendekati Andika dan tanpa pikir panjang lagi, ia langsung menarik lengan wanita yang ada di samping suaminya itu sehingga membuat wanita itu berdiri.
"Kamu pergi sekarang juga dari rumahku, atau... "
"MONA!!, Apa-apan kau ini, hah? " Teriak Andika yang seketika menepis tangan Mona dari kekasihnya itu.
"Rumah? " ulang wanita itu, mencibir.
Mona yang saat itu tengah terkejut atas perbuatan suaminya itu pada dirinya, kini semakin prustasi dan hanya bisa melongo dengan sikap perempuan perusak rumah tangganya itu.
"Rumah ini bukanlah milikmu, adek kecil, " lanjut wanita itu dengan wajah yang menjengkelkan. "Tapi, rumahku! "
Air mata yang tadi sempat terhenti, kini mulai kembali menetes tanpa henti. Kedua tangannya mengepal di bawah sana dengan tatapan penuh kecewa yang ia tujukan pada Andika, suaminya.
Dan, belum sempat Mona mengatakan apapun lagi, Andika menarik lengan Mona dan menyeretnya ke dapur yang tak jauh dari sana.
"Lepas, Mas! " seru Mona berontak.
Jujur saja, genggaman tangan Andika saat itu begitu keras sehingga membuat lengan Mona memerah.
"Itu tak seberapa dengan apa yang kamu lakukan terhadap Prisila barusan, Mona! " sahut Andika sembari memalingkan wajahnya dari Mona.
"Hah? Tak seberapa? " ulang Mona seperti tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
Andika pun membalikan tubuhnya lagi dan kini menatap Mona dengan tatapan yang anehnya begitu sendu, seakan ada sesuatu yang membuatnya sedih. Tapi Mona tak tahu apa itu.
"Dengar, Mona. Kita bercerai saja. Pernikahan ini tak akan pernah berhasil, karena aku tak pernah mencintaimu. Walau itu hanya sebutir debu sekalipun." Ucap Andika yang sontak saja membuat tubuh Mona semakin lemas.
Mona menatap Andika tak percaya. "Mas, ak- "
"Pergilah," ucap Andika yang kembali memalingkan wajahnya. "Aku sudah mengirim sejumlah uang ke rekeningmu. Aku harap itu cukup untukmu mencari sebuah rumah untuk tinggal."
Mona menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia raih tangan suaminya itu dan menangis dalam diam. Hanya air matanya saja yang keluar tanpa henti, sementara bibirnya, bibirnya begitu bergetar hebat seakan ia menahan sebuah rengekkan yang akan keluar dari mulutnya tersebut.
"M-mas... " Lirih Mona.
"Anggap saja itu adalah hadiah dariku untuk perpisahan kita, Mona. " Sela Andika yang seketika melepas tangan Mona yang saat itu tengah menggenggam lengannya.
Hati Mona hancur seketika saat itu juga. Ia sungguh tak mempercayainya. Ia tak percaya jika hidupnya saat itu seperti di dalam neraka.
Entah ini karena rasa cinta yang sudah tumbuh di dalam hatinya, atau hanya karena ia merasa kecewa terhadap satu-satunya orang yang ia percaya selama ini.
***
Mona akhirnya benar-benar pergi meninggalkan rumah itu dengan wajah yang memerah dan mata yang masih sembab.
Langkahnya sedikit terseok akibat badannya yang terasa lemas. Mona tak menyangka jika rasa kecewa karena dihianati sang suami nyatanya begitu menguras tenaganya. Ditambah sebuah koper yang ia bawa saat ini bisa dibilang cukup besar, terlihat kontras sekali dengan badannya yang mungil.
Andika sebenarnya memberikan sebuah mobil juga untuk Mona kendarai. Mmm, harta pisah? Anggaplah seperti itu. Tapi Mona tak menerimanya, hatinya terlanjur sakit, bahkan mungkin sudah hancur bekeping-keping.
Pukul 01.00 dini hari, Mona masih saja berjalan menyusuri jalanan sepi Ibu Kota. Ia tak tahu kemana ia akan pergi, ia tak tahu tujuan yang sebenarnya. Mona, ia benar-benar kehilangan arah jalan, begitupun arah hidupnya.
Akan tetapi, ketika ia tengah berjalan di sebuah jembatan layang, samar-samar ia melihat siluet seseorang di ujung jembatan tersebut.
Awalnya, Mona ingin memutar kembali langkahnya, karena ia sempat takut bahwa orang tersebut adalah orang jahat yang akan merampas harta bendanya, seperti berita-berita yang ada di televisi. Ya, meski satu-satunya benda berharga yang ia miliki saat ini adalah benda pipih pemberian Andika, tapi Mona tetap saja merasa takut.
Namun, ketika baru saja Mona ingin melangkah pergi, Mona melihat sesuatu yang mencurigakan.
Sepintas, Mona melihat siluet seseorang itu terlihat seperti orang yang tengah membungkukkan setengah tubuhnya ke bawah, seperti orang yang hendak mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari jembatan layang tersebut.
"Heh heh, dia mau ngapain itu?" gumam Mona yang masih memperhatikan.
Dan akhirnya, ketika siluet itu terlihat semakin membungkukkan tubuhnya, tanpa pikir panjang lagi Mona segera berlari menghampiri siluet itu dan membiarkan koper besarnya tergeletak begitu saja.
Dan...