Mona berlari sekuat tenaga, ia tak menghiraukan apapun lagi termasuk dengan tenaganya yang hampir habis.
Satu-satunya yang ia hiraukan saat itu adalah orang yang berada di ujung jembatan sana.
Entah kenapa, Mona merasa apa yang akan dilakukan orang tersebut, hampir saja ia lakukan beberapa saat lalu.
Dan, ketika tinggal beberapa langkah lagi ...
KEP!
"Kamu mau ngapain?" tanya Mona yang entah sejak kapan sudah menarik lengan orang itu yang baru Mona sadari adalah seorang lelaki dewasa.
Namun, reaksi lelaki itu sungguh di luar antariksa, ia hanya menatap Mona sambil mengerutkan dahinya.
"Lepas!" Seru lelaki itu menghempaskan tangan Mona begitu saja.
Akan tetapi, diperlakukan begitu Mona tentu saja tak tinggal diam. Ia kembali meraih lengan lelaki itu dan menariknya sekuat tenaga hingga mereka berdua terjatuh ke aspal bersamaan.
"Rese banget sih." Gerutu lelaki itu dengan tangan yang mengusap kedua lengannya secara bergantian.
Memang untuk beberapa bagian seperti sikut dan lutut terlihat sedikit lecet akibat jatuhnya tadi. Begitu pun Mona.
Terlihat dari mimik wajahnya, Mona bisa memastikan bahwa lelaki itu tengah kesal karena apa yang akan ia lakukan tadi berhasil digagalkan olehnya. Pikir Mona.
"Ga usah ikut campur urusan orang, atau... "
"Aku tau kamu pasti sedang prustasi, aku juga sama sepertimu kok. Semua orang itu punya masalah masing-masing dalam hidupnya, bukan hanya kamu saja. Tapi, mengakhiri hidup dengan cara yang salah, apalagi mendahului kuasa Tuhan, tak baik juga." Ucap Mona tanpa jeda.
Dengan posisi yang masih terduduk akibat jatuh tadi, lelaki itu kembali menatap Mona dengan tatapan yang memicing. "Mengakhiri hidup?" gumam lelaki itu pelan, lalu menepuk dahinya pelan, "Sepertinya kamu sudah salah pah- "
"Kamu tau, entah apa masalahmu yang sesungguhnya, tapi yang jelas aku merasa masalah tersebut tak seberat masalahku saat ini. " Lagi dan lagi Mona menyela omongan lelaki itu.
Ia mengusap sikutnya yang lecet akibat kena aspal tadi, lalu kembali berkata... "Di usiaku yang baru dua puluh tahun ini, aku sudah menjadi janda. Dihianati, tak dicintai, bahkan sampai diusir oleh suami sendiri." Lanjutnya lagi, dengan wajah yang masih tertunduk.
Dan mendengar hal itu, lelaki itu entah kenapa hanya terdiam. Kali ini ia menatap wajah Mona dengan tatapan sendu, tak meruncing seperti tadi.
Lelaki itu lantas men-sejajarkan tubuhnya dengan Mona, lalu menyandarkan tubuhnya pada tembok jembatan tersebut.
"Harusnya aku sudah tau kalo hal ini akan terjadi. Secara, pernikahan kami memang di awali dengan perjodohan, dan bukan karena cinta. Jadi, sangat mustahil sekali akan berhasil, 'bukan? " ucap Mona lagi, seakan meminta pembenaran pada lelaki tersebut.
Dan anehnya, lelaki itu menganggukkan kepalanya, seperti setuju dengan asumsi Mona tersebut.
"Tapi anehnya, kenapa tadi aku menangis begitu sesenggukkan?" ucap Mona lagi, kali ini pertanyaan tersebut seperti diperuntukkan untuk dirinya sendiri.
"Mungkin cinta." Celetuk lelaki itu tiba-tiba.
"Hah?" Mona menatap lelaki yang kini ada di sampingnya itu dengan tatapan yang aneh.
Lelaki itu pun mengangguk, "cinta tak pernah meminta ijin untuk hadir dalam hidup seseorang. Ia akan datang tanpa kamu sadari, apalagi kalian sudah tinggal bersama. Hal itu lumrah terjadi." Jelas lelaki itu ringan.
Mona menatap lelaki itu cukup lama, hingga ia tersenyum getir dan kembali menatap jalanan sepi di ujung sana.
Dengan sangat jelas, dari sana ia bisa melihat kopernya yang tergeletak tak berdaya, seperti dirinya saat ini. "Anggaplah begitu, tapi sekarang sudah tidak lagi." Ucap Mona.
"Tidak lagi?" ulang lelaki itu.
Mona kembali mengangguk. "Bagaimana dia membuang ku seperti sampah seperti sekarang ini, rasa-rasanya cinta itu pun ikut terbuang." Hela Mona kemudian, seperti ada yang sesuatu yang berat yang baru saja ia sadari.
Dan helaan napas itu pun tentu saja disadari oleh lelaki itu. "Lalu kenapa kamu membuang napas yang begitu berat ade kecil? " tanya lelaki itu dengan sedikit ledekan.
Mona sempat berdesis mendengar lelaki itu memanggilnya adek kecil. Namun, ia lantas menggelengkan kepalanya untuk beberapa detik. "Aku bingung, sekarang aku harus tinggal dimana? Dan... Aku tak memiliki pekerjaan di Ibu kota ini. Rumahku jauh! " terang Mona.
Mendengar hal itu, lelaki yang baru saja Mona kenal itu hanya tertawa ringan. Namun, tentu saja tawa itu membuat Mona terheran-heran.
Ayolah, tak ada yang lucu dengan nasibnya. Begitulah pikir Mona.
"Apakah ada yang lucu, wahai lelaki tua?" tanya Mona. Sengaja ia menekankan lelaki tua sebagai balasan pada lelaki yang ada di sampingnya itu, karena tadi lelaki itu sempat menyebut dirinya sebagai adek kecil.
Sontak saja tawa lelaki itu hilang. Ia menatap Mona lekat-lekat. "Lelaki tua?" ulangnya pelan. Lalu ia pun kembali menganggukkan kepalanya dengan tangan yang merogoh sakunya secara bersamaan.
"Heh mau apa kamu, lelaki tua?" tanya Mona yang mulai curiga. Ia takut jika lelaki itu akan mengeluarkan benda tajam dari sakunya. Secara, tadi saja Mona melihat lelaki itu akan mengakhiri hidupnya, maka tidak ada kata tak mungkin jika lelaki itu juga membawa benda tajam sebagai rencana ke duanya. "Jangan coba-coba,"
"Ambil lah," ucap lelaki itu menyodorkan sebuah kertas yang seketika membuat Mona terdiam.
"Ini... Apa?" tanya Mona yang menerima secarik kertas tersebut.
"Kamu bilang tak memiliki pekerjaan," jawab lelaki itu enteng.
Mona mengangguk, lalu menatap secarik kertas itu lamat-lamat. "Ini- "
"Aku memiliki koneksi di sana. Jika kamu mau, aku bisa mengurusnya untukmu." Jelas lelaki itu.
Mona kembali menatap lelaki itu, ia tak menyangka jika karma memang ada. Ia menolong orang tanpa adanya maksud apa-apa, dan pekerjaan lah yang kini datang menghampirinya.
"Tapi... "
"Adek kecil, mau atau tidak?" tanya lelaki itu menarik sebelah pipi Mona.
Mona pun mengangguk, lemah. Ia masih syok dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya saat ini.
Hidupnya seperti sebuah bola, berputar tak menentu. Tadi sore ia diusir, dan sekarang ia mendapatkan sebuah pekerjaan dari orang yang tidak ia kenal.
"Bagus, besok datanglah ke sana. Aku pastikan kamu akan diterima tanpa banyak pertanyaan." Ujar lelaki itu lagi.
Akan tetapi, kali ini lelaki itu mengatakannya dengan bersiap pergi. Ia berdiri begitu saja tanpa memberitahukan apapun lagi.
"T-tunggu!" ucap Mona menghentikan langkah lelaki itu.
"Ah iya, namaku... "
"Sepatumu kemana?" tanya Mona di luar nalar.
Karena untuk beberapa detik lalu, lelaki itu beranggapan bahwa Mona menghentikan langkahnya untuk menanyakan nama. Tapi, ini... Sepatu?
"Se-patu?" ulang lelaki itu terkejut.
Lelaki itu lantas menundukkan kepalanya dan menatap kedua kakinya yang memang telanjang. "Aah... " Gumamnya yang baru mengerti sesuatu. "Ini... "
"Tunggu di sini. Aku sepertinya masih menyimpan sepatu di koperku." Sela Mona, ia berlari setelahnya.