Adek Kecil

1154 Kata
Satu minggu kemudian... Jam menunjukan pukul tujuh pagi ketika Mona berjalan di sebuah lorong bangunan yang begitu megah dengan kedua mata yang berbinar-binar. Ia masih tak menyangka jika apa yang telah ia lakukan beberapa hari lalu telah menggiringnya ke sebuah perusahaan ternama di Ibu Kota. "Aku pikir lelaki tua itu cuma membual saja, " ucap Mona, ia teringat dengan orang yang telah memberikannya sebuah pengalaman berharga seperti ini. Namun, baru saja Mona mengatupkan mulutnya, ia lantas menepuk dahinya kuat-kuat. "Ya ampun," gumamnya. "Kenapa aku sampai lupa menanyakan namanya!" lanjutnya lagi dengan wajah yang penuh dengan penyesalan. Ya, penyesalan. Karena memang apa yang lelaki itu katakan padanya malam itu, benar adanya. Mona benar-benar tak melakukan apapun untuk masuk ke dalam perusahaan tersebut. Ia hanya mengirimkan sebuah lamaran melalui email, lalu beberapa hari kemudian, ia mendapatkan sebuah balasan bahwa dirinya telah diterima. Dan hari inilah hari dimana ia masuk kerja untuk pertama kalinya. "Ternyata lelaki tua itu memang memiliki koneksi yang sangat baik di sini, " gumamnya lagi. Sampailah ia di sebuah pintu... "Selamat pagi!" ucap Mona, menyapa para karyawan yang ternyata sudah berada di kubikelnya masing-masing. Beberapa orang sempat mengintip dari balik kubikel itu, namun sebagiannya lagi terlihat begitu cuek. Meski tak nyaman dan bingung, Mona tetap tersenyum dan memberikan salam. Hingga beberapa detik kemudian, ada seseorang yang menghampiri Mona yang masih berdiri di depan pintu. "Mona ya?" tanya seorang wanita cantik nan seksi. Mona sempat terkesima untuk sesaat, namun ia langsung meraih lengan wanita itu yang entah sejak kapan sudah terulur padanya. "I-iya." jawab Mona terbata. Wanita itu pun tersenyum manis, lalu memutar tubuhnya ke arah ruangan yang cukup besar itu. "Gaes, kita kedatangan dedek gemes!" ucapnya setengah teriak. Mona sempat tertohok akan ucapan wanita yang ada di sampingnya itu, sungguh demi apapun, ingin rasanya ia pingsan saat itu juga. Mona malu bukan main, sungguh perkenalan yang sangat tak biasa. Akan tetapi, entah kenapa... Setelah wanita itu memperkenalkan Mona dengan cara tak biasanya, semua karyawan yang tadinya sibuk dan cuek, kini mulai berdatangan dengan memasang wajah yang sangat ramah pada Mona. Hingga tangan Mona mulai kebas akibat acara salaman yang hampir saja tiada akhir, wanita itu pun mulai memperkenalkan dirinya di akhir. "Gw Suni, panggil nama aja langsung. Gw ga terima kalo dipanggil Tante atau sebagainya." ucap Suni penuh tekanan. Melihat Mona yang tak merespon, Suni pun menghela napas. "Ok ok, karena umur kita hanya terpaut 7 tahun, khusus buat lo, boleh deh lo manggil gw Kaka." ucap Suni yang seakan mengerti apa yang ada di benak Mona. Mendengar hal itu, Mona hanya bisa tersenyum getir. Menit kemudian, Suni mengajak Mona untuk berkeliling. Dan dari sana lah Mona baru mengetahui bahwa Suni lah yang bertugas untuk men-training Mona selama masa percobaan. Dan Suni juga tahu Mona karena ia lah yang menerima email tersebut. Jadi, ia tahu bahwa Mona masih berumur 20 tahun saat ini. Dan, terjawablah sudah kenapa bisa Suni memperkenalkan dirinya sebagai dedek gemes di awal perkenalan tadi. "Masuk kerja kita memang jam sembilan pagi, tapi... Bos kita yang devil itu tidak pernah menerima alasan apapun ketika kita belum ada di meja sekitar pukul delapan pagi." terang Suni, menjelaskan. Mona mengangguk. 'Ooh jadi karena itu semua orang terlihat sibuk di pagi hari? ' batin Mona. "Tapi, mereka ga sibuk ko, cuma pura-pura sibuk aja." ucap Suni lagi seakan ia tahu apa yang Mona pikirkan. "Kalo lo lihat dengan seksama, mereka hanya setor muka saja di meja itu, selebihnya ada yang kutekan... Bahkan ada yang sedang main games ludo di kubikel masing-masing." jelasnya lagi dengan tawa yang renyah. Mona hanya bisa menanggapinya dengan seulas senyuman, meski dalam hati ia juga sangat ingin tertawa. Tapi, ini hari pertamanya bekerja, sungguh tak sopan jika ia bersikap demikian. **** Mona pamit ke toilet ketika sesi room tour selesai. Ia berkaca di cermin toilet itu dengan penuh semangat. "Mona, semangatlah. Tak ada yang perlu kau risau kan lagi sekarang. Kau tidak boleh terus-terusan mengingat mantan suami yang telah membuangmu." celetuk Mona lagi, berusaha menghipnotis dirinya sendiri. Dan ketika ia tersadar bahwa arloji di tangannya sudah menunjukan pukul 08.30 pagi, ia lantas ke luar dari toilet itu dengan perasaan yang sedikit lega. Awalnya ia berjalan seperti biasa, tak ada apa pun ketika ia berjalan di lorong yang megah itu. Akan tetapi, semakin ia mendekati ruang kerjanya, lamat-lamat ia melihat sosok seseorang yang tak asing di matanya. Meski ia hanya melihat dari punggungnya saja, tapi Mona sangat yakin dengan matanya sendiri. Dengan langkah yang sedikit dipercepat, Mona menepuk punggung itu dengan perlahan, namun cukup untuk membuat orang itu memutar tubuhnya hingga menghadap Mona. "Ah benar ternyata apa yang aku lihat, mataku memang tak pernah salah, " celetuk Mona dengan bibir yang tersenyum lebar. "Halo Lelaki tua, apa kabar?" Namun, lelaki itu hanya mengernyitkan dahinya. Tak ada respon sama sekali, sampai-sampai Mona dibuat kikuk untuk sepersekian detik. 'Oh iya, apa mungkin dia lupa padaku? Mungkin malam itu dia tak jelas melihat wajahku.' Mona membatin. "Aish, lupa?" ucap Mona lagi. Kali ini Mona bahkan menepuk lengan lelaki itu cukup keras. "Ini aku, adek kecil, " lanjut Mona dengan alis yang ia naik turunkan. Tetapi, apa yang Mona lakukan barusan nyatanya hanya membuat dirinya semakin kikuk. Tatapan mata lelaki itu begitu dingin terhadapnya, sungguh berbeda sekali dengan lelaki yang ia kenal malam itu. "Kamu... Benar-benar tak mengenalku?" tanya Mona lagi, kali ini ia sedikit berhati-hati. Sangking hati-hatinya, ia bahkan sangat kesusahan untuk menelan salivanya sendiri. Dan ketika ia hendak berucap kembali, tiba-tiba saja dari arah pintu yang tak jauh dari sana, terdengar seseorang datang dengan langkah yang sedikit terburu-buru. "Mona, ap-ha yang se-dang kamu lakukan di sini?" ucap orang itu yang tak lain adalah Suni. Suni berkata demikian dengan napas yang tersengal. Melihat hal itu, Mona sempat mengernyitkan dahinya. Ia menunjuk lelaki yang ada di hadapannya dengan begitu enteng. "Ini loh, aku lagi bicara sama dia." Dan baru saja Mona menyelesaikan kalimatnya, ia langsung menjerit ketika ia mendapat sebuah cubitan kecil di lengannya. "Aaww!!" teriak Mona reflek. Terlihat Suni yang sedikit membelalakan matanya, seperti orang yang sedang kesal. "Ngomong apa kamu Mon... " "Bukankah saya sudah bilang kalo dia adalah tanggung jawabmu, Suni?" sela lelaki itu tiba-tiba, yang anehnya berhasil membuat Suni kikuk bukan main. Mona bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa seniornya itu tengah tertunduk takut. Dan hal itu sangat membuat Mona kebingungan bukan main. Mona menatap keduanya dengan wajah yang tak bisa di kontrol. Ia benar-benar tak bisa menyembunyikan kebingungannya. "Ma-maaf Pak. Nanti akan saya ajari lagi dia." ucap Suni yang masih tertunduk. 'Pak?' gumam Mona dalam hati. 'Sebenarnya apa yang terjadi sih?' Dan belum juga Mona mengerti situasi yang sesungguhnya, Suni langsung menatap Mona dengan tatapan yang sangat tajam. "Beri salam sama Pak Bos, Mona!" bisik Suni dengan nada yang penuh penekanan. Tak lupa sebuah sikutan tangan di bawah sana. Mendengar hal itu, Mona sempat berdecak tak terima dengan sikutan Suni tersebut, lalu... "Selamat pagi Pak Booos...," ucap Mona tertahan. Ia seperti teringat sesuatu, .. "Hah, apa? Pak Bos?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN