Tama melepaskan cengekeramannya pada sendok. Memilih untuk menaruh tanganya ke saku celana bahannya yang mengkilat seperti jas yang ia kenakan. Mengendurkan dasi bermotif salur dengan warna hitam dan abu. Yah, dari sini Tama terlihat begitu menantang dengan ketampanannya. Nyaris sempurna. Terlihat begitu matang. Oh iya! Harus Senja akui, laki laki ini memang berada di usia matangnya. Usia tiga puluh dua. Tujuh tahun lebih tua dari usia Senja. “Kalau ini tidak ada kaitannya dengan uang, lalu apa?” Sial sial sial! Senja ingin mengumpat. Bagaimana mungkin ia menjelaskan alasannya?? Karena bosan berada di rumah besar itu? Bosan karena hanya melakukan tiga hal, belanja untuk harian, memasak sarapan, dan makan malam? Bisa bisa Tama sa

