“Waktuku kian berlalu, kita tak kunjung bersatu. Lantas kapan? Potongan Senja ini kian buram di babat malam.” - Senja masih menatap Tama. Laki laki itu terdiam entah kenapa, seperti seluruh tubuhnya di pause dengan tiba tiba. “Tama?” “Heh?” Tama menyadari kalau ia baru saja melamun, ia kembali menyadarakan diri karena tangan Senja sudah bergerak di hadapannya. “Kamu di sini saja, tunggu aku sampai pulang.” Keputusan Tama yang sepihak itu membuat Senja mengernyit karena bingung,”Iya, kamu tunggu aku sampai aku pulang. Kita akan pulang bersama....” lanjut Tama lagi. Sekarang, gantian Senja yang merasa sekujur tubuhnya menjadi kaku tak bisa di gerakan. Bahkan buku buku jarinya menjadi kaku tanpa alasan. Menatap

