Dasar Rese

1083 Kata
Pagi tampak begitu sunyi. Suara burung bersahutan terdengar mengalun dengan merdu. Angin terus berderu memainkan daun-daun kering yang jatuh dari pohonnya. Dentuman sepeda motor tidak ada satu pun yang lewat. Gadis bersurai hitam sebahu itu masih sibuk merapikan dan mematut diri di cermin. Netranya menggambarkan kobaran semangat yang mulai terbentuk dalam dirinya. Setelah dirasa cukup, ia akan berdecak kagum dan tersenyum lebar. "Ayo mau berangkat, jangan kelamaan bercermin," tutur seorang gadis dari luar pintu rumahnya. Nada berpikir sejenak dan mengingat perihal sesuatu yang mungkin saja tertinggal. Setelah dirasa cukup, dirinya berjalan dengan dagu yang sedikit diangkat. Percaya dirinya begitu besar kali ini. Tentu. Seorang atasan langsung nerima dirinya untuk bekerja, padahal tak pernah tahu kualifikasi yang dimiliki gadis bertubuh mungil itu. "Arel, ayo berangkat," tuturnya. Gadis yang diajak mengangguk pasti. Mereka berjalan ala-ala film action. Seakan angin yang bermain dengan mereka adalah sebuah efek dari kehadiran sosok pahlawan. Namun, semua khayalan buyar kala bus yang akan mereka tumpangi tak kunjung datang. Sudah hampir setengah jam berlalu sejak mereka nunggu di halte. Orang silih berganti datang dan pergi. Namun, mereka masih terus diam di tempat. "Tumben busnya lama, ya. Apa mau naik taksi aja?" tukas Arelia mantap. Nada mengangguk tanda menyetujui saran sahabatnya itu. Nahasnya, kali ini tidak ada satu pun taksi yang lewat. Akhirnya Arelia menelepon Nathan bahwa mereka berdua akan sedikit terlambat. Belum selesai dan bahkan belum dimatikan, sebuah sedan berhenti tepat di depan mereka. Sesorang yang mengendarai, menurunkan kaca di sebelahnya untuk memberitahu lawan bicaranya. "Arel, Nada. Ayo masuk," ucapnya sembari menggerakkan kepala tanda isyarat untuk masuk. Kedua gadis itu berteriak kegirangan. Setelah bertatapan dan saling tersenyum, mereka membuka pintu bagian belakang dan naik. Ada rasa bersyukur dalam hati Arelia karena tidak perlu mengeluarkan ongkos taksi untuk pergi ke kantor. "Kenapa kamu tiba-tiba lewat sini?" tanya Nada ketika mereka sudah duduk manis dengan sabuk pengaman tersampir. "Iya, tadi kebetulan lewat karena nyari makanan. Udah pada makan?" Nada dan Arelia kompak menggeleng. Mereka memang berniat membeli sarapan sesampainya di kantor. Tidak disangka, kejadian sulit mencari bus terjadi. Alhasil, mereka sudah merelakan perut mungil itu kelaparan. "Ambil tuh di jok depan. Abisin aja buat kalian," ucap Nathan sambil menunjuk dengan isyarat kepala. Kedua gadis itu tentu begitu senang. Hari ini, seakan semua hal baik terjadi. Memang benar istilah setelah kemalangan selalu ada kebaikan. Dengan sigap, tangan Nada mengulur mengambil sarapan roti sandwich dan s**u segar. Luar biasa sarapan orang kaya, batinnya. Perjalanan mereka memakan waktu 20 menit. Akhirnya mereka tiba di depan jalanan menuju kantor. Kedua gadis itu turun dan memilih jalan kaki ke kantor yang jaraknya tidak begitu jauh. Mereka takut kalau teman kantor lainnya melihat hal itu dan berpikir yang macam-macam. Di kejauhan, seorang lelaki bertubuh kecil dan berkacamata melihat ketika kedua gadis itu turun dari mobil. Tentu ia tahu bahwa mobil yang dikendarai adalah mobil atasannya. Kemudian lelaki itu tersenyum miring, seakan menemukan mangsa. *** "Perkenalkan, ini Nada Risvi yang akan magang beberapa bulan di sini. Mohon semua bantu dia, ya," kata Nathan di sebuah ruangan bernuansa putih itu. Seluruh yang ada di sana bertepuk tangan menyambut kedatangan teman baru atau mungkin mereka senang karena ada seseorang yang akan disuruh-suruh. Tentu saja lelaki berkacamata tadi juga ada di ruangan. Ekspresinya jelas menampakkan ketidaksukaan dirinya kepada gadis bermata diamond itu. "Mohon bimbingannya semuanya. Saya Nada," tukas Nada sembari membungkukkan badan 90 derajat. "Tempat kerjamu di ujung sana, ya. Sebelah Fakri," tunjuk Nathan. Nada menggerakan tangannya seakan hormat tanda bahwa ia siap menjalankan tugas. Walau sebenarnya dirinya tidak tahu tugas yang harus dikerjakan. Ya, baginya itu dipikirkan nanti saja. Kini gadis itu berpikir untuk meletakan dahulu barang-barangnya. Dengan riang kakinya melangkah, tetapi tiba-tiba ia hampir terjatuh karena sebuah kaki menghalangi jalannya. Orang yang melakukan itu tertawa melihat lawannya hampir jatuh tersungkur. Nada mengembuskan napas kesal. Pasalnya belum ada apa pun, seseorang sudah begitu jahil terhadap dirinya. Gadis itu membetulkan dirinya kemudian menoleh ke arah Fakri yang memiringkan sudut bibirnya. Sungguh, lelaki itu membuat Nada kesal. Apa salahnya? Bukannya ini pertama kali mereka bertemu? Namun, Nada memilih berlalu dan tidak mempermasalahkan hal itu. Hari pertamanya bekerja tentu harus mendapatkan kesan yang baik. Langkah kakinya terus dilajukan menuju meja kerjanya. Air muka gadis itu diubah menjadi mode ceria. *** Jam istirahat tiba. Nada yang masih memiliki banyak kerjaan dari teman-teman lainnya, memilih untuk tidak ke kantin untuk makan siang. Netra gadis itu tidak berhenti dari layar komputer. Walau sebenernya pegal juga berlama-lama di depan kerjaan, ia tetap berusaha menyelesaikan semua. Suasana kantor saat itu sepi. Selain Nada, tidak ada lagi yang menemani bahkan Arelia, sahabatnya. Dareen berjalan melewatinya terkaget karena keberadaan gadis itu. Dengan cepat, lelaki itu berlari ke ruangan Nathan. Ia membuka kasar pintu itu dan masuk tanpa izin. "Nathan, bisa jelasin kenapa cewek itu ada di sini?" tanya Dareen menunjuk ke arah luar ruangan. Nathan yang kaget dengan kehadiran dan teriakan Dareen sontak berdiri. Ia menggiring tubuh lelaki tampan itu ke sofa. Kemudian mengambilkan minuman untuknya. "Kamu nggak merasa sikapmu itu terlalu kasar ke Nada," tuturnya setelah menaruh minuman di hadapan Dareen. "Mau aku kasar atau nggak itu bukan urusanmu. Lagian Erina bisa ngamuk kalau ngeliat dia di kantor. Terus juga kenapa kamu taruh dia di samping Fakri? Bisa-bisanya kamu lupa hal itu," kata Dareen panjang lebar. Nathan seakan tahu maksud perkataan sepupunya itu terdiam. Lelaki itu mencoba berpikir. Memang benar yang dikatakan Dareen dan hal itu juga membuatnya resah sejak pagi. "Kita lihat aja dulu sambil mantau yang bakal terjadi." "Terserahmulah. Setelah makan siang, datang ke ruangan. Ada yang mau diobrolin terkait proyek." Nathan mengangguk dan kembali ke meja kerja untuk menyelesaikan laporan. Akhirnya, Dareen pun ikut pergi. Di luar ruangan Nathan, matanya melihat Nada yang sedang mengerjakan begitu banyak tugas. Gadis yang dilihat itu bahkan tidak sadar bahwa ia menjadi obyek pengamatan. Tentu dirinya tidak mau membuang-buang waktu. Namun, sebuah deheman membuatnya menoleh. "Dareeen," teriaknya girang. Lelaki itu hanya mengarahkan jari telunjuk ke mulutnya. Teriakan gadis yang baru dikenalnya itu begitu memekakan telinga. Belum sempat Dareen mendekat, ia sadar bahwa ada seseorang di ujung ruangan yang melihat interaksinya. Sontak kalimat kasar terlontar kepada Nada. Gadis itu dibuat bingung dengan perubahan ekspresi Dareen. Arah pandangnya mengikuti arah pandang lelaki itu. Ah, ternyata ada Fakri di ujung ruangan. Mungkinkah Dareen takut dengan Fakri? "Ya sudah balik aja sana ke ruangan. Ngapain juga di ruangan ini," kata Nada dengan intonasi yang tinggi. Dareen yang mendengar penuturan itu hanya berbalik dan meninggalkan dirinya. Fakri yang melihat itu terdiam dengan wajah seakan tidak suka. Interaksi dua orang yang baru dilihatnya membuat rasa curiga begitu besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN