Pupus Luka part 2

1028 Kata
Dari kejauhan seorang wanita yang berpakaian mahal dari ujung kepala hingga ujung kaki datang ke konstruksi. Sungguh kontras dengan keadaan di sekitar. Tangannya membawa kotak bekal untuk diberikan kepada seseorang yang dicintai. Netra gadis itu menemukan sosok terkasih sedang menyantap makanan dengan lahap. Dengan wajah yang ditekuk, dilihatnya bawaan di tangan kanan. Niat awal ingin kembali, tetapi sebuah suara membuatnya berbalik. “Dareeeeen, awas!” teriak seorang lelaki bertubuh kekar dari atas bangunan kontruksi. Kayu-kayu yang ada di atas jatuh dan hampir menimpanya. Wanita itu berlari dan dengan sigap melindungi tubuh Dareen. Sontak teriakan terdengar dari semua yang ada di sana. Lelaki itu hanya terdiam, melihat tubuh seorang wanita yang sudah beberapa bulan ini mengganggunya dengan beribu pernyataan cinta. Orang-orang yang melihat itu berlari dan membawa tubuh wanita itu ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Sedangkan Dareen terdiam sambil memungut barang bawaan wanita itu dengan sendu. Rasa bersalah bersemanyam dalam hati. *** “Setelah itu, Erina dirawat di rumah sakit cukup lama. Dareen merasa semua salahnya. Sempat beberapa kali dia menemani Erina di rumah sakit. Beberapa hari setelah itu, dia berpikir untuk menerima pernyataan cinta Erina. Makanya sampai saat ini, dia nggak bisa menolak semua keinginan Erina,” jelas Nathan. Nada terdiam, mencoba mencerna semua kisah yang ada. Matanya hampir berkaca-kaca dengan nasib Dareen. Kini, ia tahu, tingkah kasar kekasih tercintanya pagi tadi pasti karena Erina. Tentu rasa bersalah itu yang membuatnya harus berkata kasar kepada Nada. Mau berapa lama dirimu larut dalam rasa bersalah, Dareen. “Kenapa dia harus nurutin semua keinginan Erina. Itu konyol. Udah cukup dengan jadi pacarnya, kan,” kata Nada kemudian yang sudah dibalut dengan rasa marah. Nathan tersenyum manis kemudian menyentil lembut dahi Nada. Tentu pemikiran gadis itu terlalu sederhana untuk seseorang yang hanya mengamati. Nathan sendiri tidak tahu yang dirasakan Dareen selama ini. Padahal mereka selalu bersama dalam banyak kesempatan. Namun, Dareen tidak pernah bisa terbuka kepada Nathan. “Kamu yang konyol, tentu Dareen merasa berterima kasih karena Erina dia selamat. Mungkin juga, ada kisah lain yang kita enggak pernah tau.” Di sela perbincangan mereka, Arelia berlari ke arah sahabatnya itu. Matanya sudah sembab karena menangis. Langkahnya seakan ingin memburu dan memeluk erat sahabat tercinta. Ia merasa bahwa semua yang terjadi tadi karena kesalahannya. Andai saja saat itu mereka jalan bersama. Tidak, andai saja saat itu mereka tidak terlambat pasti tidak akan bertemu Erina dan menyebabkan hal itu terjadi. Dalam rasa bersalah yang sangat dalam kepada Nada, Arelia menangis tersedu-sedu. Bahkan sampai mengeluarkan ingus dari hidung mungilnya. Nathan yang melihat itu memberikan sapu tangan yang sellau dibawa ke mana-mana kepada Arelia. Pemandangan yang ada sekarang sungguh menggelikan bagi lelaki seperti Nathan. Namun, ia takbisa menyembunyikan senyum hangatnya. Ia tahu bahwa kedua gadis di hadapannya perlu waktu untuk bercerita satu sama lain untuk menghapus semua kesal yang terus bersemanyam dalam hati mereka. “Areeel, maafin aku. Aku nggak bisa nanggung hidup kamu karena jadi pengangguran sekarang,” tutur Nada setelah melepas pelukan Arelia. Nathan yang mendengarnya menahan tawa. Arelia menjitak kepala Nada pelan. Sungguh, ia bingung dengan isi kepala Nada. Di saat seperti ini bukan hal itu yang seharusnya dikatakan. Perasaan luka Nada yang seharusnya ia pikirkan. “Kamu, ya,” tutur Arelia gemas, “kamu gimana? Masih sakit hati dengan kejadian tadi?” lanjutnya. Nada menggeleng dan menceritakan perihal Dareen yang datang untuk meminta maaf. Tentu hal ini membuat gadis yang diceritakan itu menjerit kegirangan. Tidak ada yang membuatnya lebih bahagia selain mendengar seorang CEO dingin macam Dareen berani untuk meminta maaf. “Terus terus gimana?” tanya Arelia penasaran dengan kelanjutan kisah langka itu. Nada menceritakan secara rinci semua yang terjadi semenjak pergi dari kantor mereka bahkan kisah masa lalu yang diceritakan Nathan. Arelia hanya mengangguk dan sesekali tersenyum. Namun, di akhir ia merasa iba dengan Dareen yang mungkin takakan bisa lepas dari jeratan rasa bersalah kepada Erina. Mungkin itu juga yang membuat lelaki itu dingin dan sulit untuk disentuh. “Tunggu, tunggu. Cerita begitu lengkap, kok, Nathan bisa tahu, ya,” tukas Arelia dan menatap satu-satunya lelaki di sana. “Ya, iyalah. Dareen kan memang sepupu saya, tinggal juga serumah,” jawabnya santai. Kedua gadis itu melongo, membulatkan mulut dengan kelopak mata yang membesar. Fakta yang baru diketahuinya benar-benar sesuatu yang di luar dugaan. Dua orang lelaki lajang tinggal di rumah yang sama. Tatapan keduanya kini berubah menjadi menyelidik dan aneh. Nathan yang dilihat merasakan aura horor. “Kita tingal di satu rumah dan beda kamar. Kalian mikir apa sih?” ujarnya kemudian. Jawaban itu membuat mereka berdua ber-oh ria. Setelah semua pembicaraan itu, mereka terdiam menikmati suasana yang terasa damai. Matahari yang sudah berada di tengah ketika semua percakapan itu selesai. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan surai mereka. Suara deru kendaraan mulai berkurang dan hanya beberapa kali lewat. Nathan mencoba untuk menghentikan keheningan yang ada. Lelaki itu berdiri kemudian berkata, “Nada besok datang ke kantor untuk kerja, Lia ayo kerja ini udah jam berapa.” Tangannya diangkat untuk menunjuk jam di lengan kirinya. Hal itu membuat mereka berdua melongo tak percaya. Sesaat mereka hanya bisa mengerjapkan mata, sampai sebuah tangan menarik paksa Arelia untuk bangkit. Baru kali ini, ada seorang atasan yang begitu santai dengan bawahannya. “Sebentar Nathan. Mau pamitan dulu sama Nada,” kata Arelia sambil memanyunkan bibir. Nathan mengangguk dan menunggu sambil berdiri. “Nada, dari sini kamu harus pulang ke rumah, ya. Jangan ke mana-mana lagi, istirahat. Besok kita ke kantor bareng. Udah lupain aja tentang Dareen dan cewek sombong itu, ya, ya,” kata Arelia panjang kali lebar. Nada mengangguk tanda setuju dengan pemikiran itu. Rasanya hari ini begitu buruk dan memalukan baginya. Ingin sekali dirinya tidur dan melupakan hubungan Dareen dan Erina yang mungkin sulit untuk dipisahkan. Ah, mungkin kembali ke dunianya lebih baik daripada di sini. Begitu pikir Nada. “Oh iya, ini ongkos taksi. Jangan naik bus, naik taksi aja, ya,” kata Arelia sembari memberikan dua lembar uang seratus ribu. Mereka kemudian saling melambaikan tangan sebelum akhirnya gadis mungil itu benar-benar ditarik paksa oleh atasannya. Dalam hati Nada ada rasa bersyukur pun ada rasa rindu untuk kembali ke dunianya. "Memangnya ada lowongan untuk divisi kita?" tanya Arelia kepada Nathan setelah mereka jauh. Nathan hanya tersenyum tipis menanggapi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN