“Siapa kamu?” tunjuk Nada yang tersungkur di tanah.
Lelaki itu semakin maju dan mempersempit jarak. Nada yang merasa kalau akan ada bahaya segera berdiri dan berlari. Namun, tangan kekarnya menarik kerah baju gadis mungil itu. Sontak hal itu membuat Nada terdiam mematung. Matanya terbelalak dan takut untuk melihat sosok di belakangnya.
“Ini bros punyamu, kancingin bajunya biar nggak kelihatan orang,” tutur lelaki dengan suara bass itu datar tanpa intonasi.
Rasa-rasanya kayak kenal suara ini, enggak mungkin ..., batinnya kemudian berbalik. Sayangnya dirinya hilang keseimbangan sehingga hampir jatuh kalau saja tidak dipegangi oleh lelaki di hadapannya.
“Dareen,” tuturnya pelan sepelan-pelannya.
Netra gadis itu takhenti menatap lelaki di depannya. Garis wajah yang sama, tetapi sifat yang berbeda. Senyum tipis tergambar dari wajah gadis bersurai hitam itu. Beberapa detik, Dareen hanya terdiam tanpa ekspresi. Bahkan di saat seperti itu takada perubahan air muka dari lelaki itu.
Sepersekian detik mereka tersadar dan membetulkan diri. Nada yang sempat kaget dengan gerakan Dareen, hampir saja jatuh lagi. Untungnya kali ini keseimbangannya begitu bagus. Lelaki itu menepuk pelan tangannya kemudian pergi dari hadapan gadis yang saat ini kembali cemberut.
“Kukira bakal ada scene romantis, tetep aja Dareen ya Dareen,” sindir Nada.
Senyuman yang sangat tipis tergambar dari raut wajah Dareen yang sudah berbalik dan berjalan. Seperti begitu terhibur dengan gerutu Nada. Dalam hati kecilnya, ia merasa begitu bersalah dengan sikapnya tadi pagi. Tubuhnya kembali diputar menghadap gadis mungil itu. Nada yang sedang menatap tanah terperanjat saat suara Dareen terdengar.
“Maaf ... untuk yang tadi maaf.” Dirinya langsung berbalik kembali dan semakin menjauhi gadis yang terpana dengan penuturan Dareen. Tentunya hal itu membuatnya senang takkaruan. Senyum cerah terlukis dari bibir.
Ketika punggung Dareen menjauh dan hilang dari pandangan, ia baru ingat nasibnya yang gagal untuk punya pekerjaan. Senyum itu berubah menjadi cemberut. Ingatan tentang wania pengganggu kehidupannya tergambar. Sungguh, ingin sekali menyeburkan ia ke laut atau menjambak rambutnya ala-ala sinetron Indonesia.
Dengan kesalnya, Nada menendang sebuah kaleng bekas minuman. Dari jauh terdengar suara seseorang menjerit. Gadis itu mematung, matanya membulat, bibirnya takmampu mengatup.
“Waduh, apa kena orang, ya?” tanya Nada tanpa jawab.
Seorang yang terkena tendangannya tadi ternyata lelaki bertubuh tinggi, bersurai cokelat tua dengan hidung sedikit mancung. Dandanan yang terkesan seperti boyband korea itu mampu membuat Nada menunduk bersalah. Kini lelaki tadi berjalan mendekat. Langkahnya panjang dan ringan. Netranya takhenti menatap Nada yang sudah semakin dekat.
“Akhirnya ketemu!” serunya dengan riang. Nada melongo tak mengerti, dalam pikirannya berkecamuk beribu pertanyaan.
“Arel dari tadi nyari kamu,” lanjutnya menjelaskan seperti mengerti pikiran gadis mungil di depannya.
“Oh ... siapa, ya?” tanya Nada sembari menunjuk sopan lelaki bersuara lembut itu.
“Kenalin, saya Nathan tadi lihat kamu dan Dareen berantem di depan kantor dan Arelia juga kayaknya khawatir banget. Makanya saya bantu cari.”
Nada mengangguk tanda mengerti. Namun, wajah lesunya takmampu untuk ditutupi. Embusan napas gadis itu terasa berat. Kali ini, ia membuat sahabatnya itu kesusahan lagi. Ada rasa bersalah yang bersarang dalam lubuk hati. Andai bisa kuputar waktu, tadi nggak perlu nyari masalah dengan Erina, jalang itu.
“Saya lagi nggak mau ketemu Arel, dia pasti kesal dengan tingkah saya tadi,” ungkap Nada dengan suara yang lesu.
Nathan menarik tangan Nada untuk duduk di bangku taman di pinggir pagar, “Kita duduk dulu di sana.”
Nada yang memang sudah tidak ingin berdebat, mengikuti saran lelaki yang baru ditemuinya itu. Langkahnya terasa berat seakan ada ribuan baja yang menggelayut. Matanya masih terus menunduk menatap jalan setapak yang dipijaknya. Sampai ketika mereka duduk, Nathan memberikan kaleng minuman yang masih ada isinya.
“Minum dulu.” Nada menerima kaleng minuman itu dan hanya memutar-mutarnya, tanpa ingin membuka ataupun meminumnya.
Natahan yang melihat itu, mengambil alih tugas membuka kaleng agar bisa diminum. Kemudian lelaki itu kembali menyodorkan minuman yang sudah dibuka itu. Nada melihat sekilas sikap sopan Nathan.
“Makasih,” tutur Nada.
Lelaki itu berdeham sebelum melanjutkan bicaranya, “Saya nggak tahu hubungan kamu dan Dareen itu apa, tapi satu hal saya mohon maaf atas nama Dareen.”
Nada menoleh sekilas kemudian sedikit tersenyum, “Kenapa kamu yang minta maaf? Lagian tadi Dareen sudah dateng untuk minta maaf.” Kali ini gadis itu semakin melebarkan senyumnya mengingat tingkah kaku Dareen tadi.
Seimilir angin berembus dan memainkan surai hitam Nada. Cahaya matahari yang sudah mulai naik menerpa wajahnya. Lagi-lagi bayangan akan Dareen terlintas dalam benak. Hal itu sama seperti saat pertama kali dirinya datang ke dunia ini. Di atas tubuh Dareen dengan cahaya matahari yang menerpa wajah. Kini netranya menatap sinar yang menyilaukan itu. Disipitkan matanya untuk menikmati nyanyian alam dengan segala elemennya.
Namun, ingatan tentang Erina kembali menghantui. Wanita yang paling dibencinya pun ada di dunia yang kini ia tempati. Apa memang dunia ini dan dunianya saling terhubung? Apa semua yang ada di sana pun ada di sini? Hanya itu satu pertanyaan yang terus berputar dalam benak. Ada rasa kesal mengingat kesan terakhirnya tentang Erina begitu buruk.
“Dareen itu memang kikuk dan Erina buat dia semakin kikuk. Walau bagaimanapun Dareen banyak berutang ke Erina,” jelas Nathan seakan tahu kerisauan hatinya.
Nada kembali melihat Nathan. Netranya seakan memancarkan keantusiasan tentang kisah mereka. Lelaki yang ditatap kemudian tertawa ringan dengan sikap gadis manis di sebelahnya. Nada ikutan tertawa tanpa tahu yang terjadi. Sontak membuat lelaki yang hendak melanjutkan kisah sepupunya itu tertawa semakin keras.
“Kenapa ketawa? Lanjut, dong ceritanya. Dareen kenapa?” tutur Nada.
“Kamu tuh lucu, memang kamu paham, saya ketawa kenapa?” tanya Nathan. Nada menggelengkan kepala dan nyengir, menampilkan sederet giginya yang rapi.
“Dasar,” tuturnya kemudian mengembuskan napas pelan dan mengatur emosi untuk bercerita.
“Dareen itu dulu pernah kecelakaan. Awalnya saat dia bekerja di kontruksi bangunan ....”
***
Cahaya mentari begitu pekat, sinarnya menerpa sebuah bangunan yang masih dalam proses membangun. Semilir angin memainkan surai hitam seorang lelaki yang sedang duduk di pinggir dan menyantap makan siangnya kala itu. Wajah lesu tergambar jelas dengan guratan emosi yang terpendam.
Sungguh, hari ini semua yang dikerjakannya tak ada yang benar. Mulai dari mengukur luas bangunan sampai hal kecil, seperti memaku yang salah tempat dan sebagainya. Belum lagi cacian dari teman kerjanya yang tak berhenti terucap. Rasanya hari ini, lelaki itu ingin pergi jauh dari semua aktivitas. Namun, itu bukan sifatnya, meninggalkan tanggung jawab dari semua pekerjaan.