Melawan Rival

1092 Kata
Matahari mengintip dari balik tirai. Memendar dan menghangatkan pagi. Hal itu membuat yang punya kamar terbangun karena hawa panasnya. Ia tidak sadar sudah berkali-kali mematikan jam beker di pinggir kasur. Padahal hari ini adalah peristiwa penting yang akan mengubah hidupnya. Namun, tidak dihiraukan suara bising itu. Sebuah ketukan di pintu menyadarkan bahwa ia harus bangkit dan melawan rasa kantuk dan malas yang mendera. Dengan setengah sadar, gadis berpiyama beruang itu jalan dengan gontai layaknya zombi ke arah pintu. Setelah terbuka, sebuah wajah yang selalu dilihatnya menyembul dan menoyor kepala mungilnya. “Ini sudah jam berapa, ya? Nggak jadi ikutan interview, nih,” tutur Arelia sambil berkacak pinggang. “Memangnya sekarang jam berapa? Aku masih ngantuk, Arel,” jawabnya.  “Sekarang sudah jam ... tujuh lewat lima belas menit.” Kelopak mata Nada terbuka lebar. Mulutnya menganga dan seketika ia berlari untuk mandi. Selang beberapa menit, ia sudah selesai dan bersiap memakai baju yang sudah disiapkan semalam untuk wawancara. Namun, nahas salah satu kancingnya terlepas. Dikarenakan waktu yang terbatas, gadis itu hanya menyematkan sebuah bros untuk menutupi bagian yang terbuka.  “Arel, tungguin, ya,” teriak Nada. “Iya, buruan. Kita naik taksi hari ini biar nggak telat, ya.” Nada bergegas memakai sepatu lusuh yang beberapa kulitnya sudah terkelupas dan menyampir tas berukuran sedang pemberian Arelia. Ia bertekad untuk mengganti semua yang dikenakannya saat gajian nanti. Ahirnya mereka berangkat. Dalam perjalanan, Nada terus saja mengoceh dan tidak berhenti membicarkan Dareen. Gadis itu sudah benar-benar jatuh cinta dengan Dareen. Pesona dan aura lelaki itu sudah bersemanyam terlalu lama dan dalam. “Bisa nggak ya kita ubah topik. Memangnya nggak bosen ngebucin mulu,” tukas Arelia mengakhiri percakaan dan khayalan Nada. “Nggak bisa, kalau nggak mau denger tinggal tutup kuping.” Nada tersenyum bangga dengan penuturannya barusan. Arelia memilih untuk diam ketimbang berdebat dengan Nada. Tentu saja, ia takakan menang melawannya. Kali ini gadis berhidung pesek itu memilih melihat ke luar jendela mobil. Akhirnya selang beberapa menit, mereka sampai di perusahaan Dareen sekaligus tempat kerja Arelia. Nada yang tak merasa punya kepentingan untuk membayar langsung pergi dengan langkah riang. Namun, dikarenakan kecerobohannya, bros yang dipakainy untuk merekatkan baju, terlepas. Gadis itu menunduk untuk mengambil benda kecil itu, tetapi tiba-tiba kepalanya memanas. Sebuah cairan beraroma kopi tumpah dan mengguyur tubuh mungilnya. Sontak ia berdiri dan menoleh. Betapa terkejutnya, ternyata yang menumpahkan adalah seorang wanita yang paling dibencinya. “Erinaaa?” Mata Nada membesar. Mulutnya seakan ingin mengeluarkan segala jenis makian untuk wanita itu. “Siapa kamu? Aku nggak bakalan minta maaf, salah sendiri malah jongkok di jalanku,” tuturnya sombong dengan tangan yang dilipat. “Lah, kamu seharusnya lihat-lihat dong kalau jalan. Ini kan bukan jalanmu, ini jalan umum, ya,” teriak Nada. Mereka terus saling menyalahkan. Nada memberikan tatapan jijik ke Erina. Begitu pun lawannya, terus memberikan kata-kata kasar. Sungguh, di mana pun wanita itu tetap seorang yang menyebalkan. Awas saja kalau ketemu Dareen bakal aku laporin. Begitu pikirnya. Baru saja berpikir tentang lelaki itu, ia sudah datang berjalan ke arah mereka. Di mata Nada kedatangannya bagai seorang pangeran yang menjemput sang putri. Angin yang berembus dan membuat surai Dareen goyang, seakan efek dari kedatangannya. Nada tersenyum manis ke arah Dareen. Matanya terpaku melihat aura sang terkasih. Jemari hampir saja dilambaikan sebelum akhirnya lelaki itu menyapa wanita di sebelahnya. “Erina, kenapa di sini? Ayo masuk,” tutur Dareen. “Ini, cewek ini rese banget Dareen, masa aku jalan dihalangi sama dia,” adu Erina sembari melingkarkan lengannya di lengan Dareen. Dareen menatap Nada dari atas ke bawah. Rambut yang berantakan, riasan yang sudah bercampur dengan kopi, baju yang kusam dan terbuka karena satu kancing yang lepas, belum lagi sepatu lusuh yang dipakainya. Sungguh, penampilan itu membuat Dareen mengernyitkan dahi. “Kamu bukannya yang waktu itu sembarang masuk ke rumah!” tukasnya menunjuk gadis itu menyeluruh. Nada tersenyum tipis dan menganggukan kepala. Pipi tembamnya berubah menjadi merah merona. Ada rasa bahagia kala Dareen masih mengingat dirinya. Namun, perkataan selanjutnya membuatnya terdiam. “Bukannya sudah dibilang untuk pergi dari hadapan saya,” kata Dareen dengan wajah tanpa ekspresi. “Kenapa coba sekarang malah berantem di perusahan milik orang.” “B-bukan begitu, lagian dia duluan yang buat salah, kenapa malah dia yang dibela?” Nada berkilah dengan sura paraunya. Tatapan dingin itu membuat hati Nada hancur. Dirinya sudah taktahu lagi harus berbicara apa, mulutnya seakan terkunci dengan penuturan Dareen. Matanya sudah berkaca-kaca. Kalau saja bukan di hadapan Erina, ia pasti sudah menangis sejadi-jadinya. “Karena dia kekasih saya dan kamu bukan siapa-siapa saya,” kata Dareen sakartis. Kali ini, pertahanan gadis bermata diamond itu pecah. Buliran air mata jatuh membasahi pipi. Bukan ini yang ia bayangkan. Percuma hidup di sini kalau harus melihat Dareen jatuh ke pelukan Erina untuk kedua kalinya. “Kamu ... peserta wawancara di kantor ini ternyata,” tutur Erina setelah melihat name tag yang mengalung di leher Nada. “Dareen, kamu mua nerima dia jadi karyawan kamu, ya?” lanjutnya dengan nada manja yang dibuat-buat. “Tentu saja nggak, mulai saat ini kamu nggak perlu menginjakkan kaki di sini. Kamu dinyatakan gagal di wawancara ini,” tegas Dareen masih dengan tatapan dingin. Pupus sudah khayalan Nada tentang Dareen. Dengan cepat ia berlari, tak menghiraukan panggilan Arelia yang begitu khawatir dengan gadis itu. Ia hanya takingin siapa pun tahu bahwa dirinya menangis karena seorang Dareen Felix. “Dareen, kali ini kamu benar-benar keterlaluan,” kata Arelia pelan di hadapan lelaki itu. Ia yang menerima perkataan itu, hanya terdiam dengan wajah dingin. Dalam hati tentu ia merasa bersalah sudah membuat seorang gadis menangis. Namun, kekasihnya memaksa untuk melakukan hal itu. Arelia berlari setelah menelepon Nathan bahwa ia akan terlambat. Dirinya taktahu harus mencari Nada di mana lagi. Ia tahu betul betapa semangatnya gadis bersurai hitam itu saat bersiap semalam. Senyum manis dari Nada terus berputar diingatan. Kali ini, jangan buat sahabatnya itu terpuruk lagi. Sudah cukup penderitaan yang dialami gadis itu. Bayangan itu terus berkecamuk sehingga membuat larinya begitu cepat. Di sisi lain, Nada terdiam duduk di bawah pohon. Diputarnya kembali cara ia pergi ke dunia menyebalkan ini. Namun, nihil, ia taktahu harus bagaimana caranya untuk kembali. Sampai sebuah cermin usang tersemat dalam ingatan. Sejak ia pergi, tak sedetik pun menemukan keberadaan cermin itu. Apakah itu satu-satunya alat untuk membuatku kembali? batin Nada. “Aku ingin kembali, di dunia ini pun Dareen nggak akan bisa kugapai,” gumamnya sambil mengusap air mata dari pipi. Sebuah suara dari lelaki membuat pikirannya buyar. Ia menoleh dan mendapati seseorang berjalan. Sinar mentari membuat wajahnya sulit untuk dikenali kemudian ia berteriak saat sosok itu semakin mendekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN