Pagi begitu cerah ketika dua orang gadis berjalan menuju kantor. Tangan keduanya memegang secangkir kopi hangat yang baru dibeli dari supermarket di pinggir jalan. Sejak pagi, tidak ada pembicaraan di antara kedua sahabat itu. Nada masih mencerna semua yang terjadi, sedangkan Arelia masih menata hati supaya bisa menekan semua perasaan. Nada menyenggol pelan bahu gadis di sebelahnya. “Hei, masalah semalam tenang aja, ya. Lagian kamu tahu siapa yang kusuka,” ujanya sambil tersenyum, tetapi masih menatap ke gedung besar di depannya. Arelia tersenyum manis. Tentu, ia tahu bahwa perasaan Nada yang sekarang bukanlah untuk Nathan, tetapi seandainya Nada yang sebenarnya kembali, apa yang akan terjadi? “Itu rahasia kita berdua aja, ya. Kita lupain aja, okey?” jawab Arelia ceria dan menutupi seb

