Part 9 Sesak di d**a

2309 Kata
Gibran tidak henti-hentinya mengulas senyum di wajahnya saat jarinya terus bergerak di layar ponselnya. Menggulir tampilan foto selfie dirinya dan Abi. Bocah kecil itu sangat menggemaskan dan sedikit... sok tua. Tadi siang ia gagal untuk bertemu dengannya. Abi dan seorang wanita yang mengenakan pashmina hitam itu sudah lebih dulu naik ke mobil saat ia tiba. Ingin menyusul dengan mobilnya karena penasaran di mana mereka tinggal, sayangnya ia mendapat panggilan telpon dari rekannya. Sudah sebulan ia mengenal Abi dan jujur saja ia menyukai bocah itu. Andai saja Alif bersamanya, mungkin mereka berdua akan cocok jadi teman. Kadang Gibran merasa Allah sengaja mengirimkan Abi bertemu dengannya. Bukan hanya untuk mengisi hatinya yang kosong, melainkan menghadirkan rasa hangat agar dirinya tidak membeku akan dinginnya rindu. Rindu yang rasanya begitu luas dan dalam. Setiap detik rasanya semakin lambat berganti ketika memikirkan mereka berdua. Gibran tidak pernah menyesal mengenal keluarga Nura. Tidak pernah menyesal harus mengalami kecelakaan itu asal mereka berdua aman. Ia juga tidak menyesal karena mereka terpisah. Perpisahan itu menyelamatkan mereka dari kejadian malam itu. Tapi yang membuat Gibran dirundung penyesalan adalah dirinya ingkar janji. Ingkar janji tidak kembali menjemput mereka. Ia tidak berdaya malam itu. Bodohnya lagi bukti yang ia harapkan sebagai petunjuk akhir malah membuatnya kecewa sendiri. Gibran menyiapkan sejumlah uang dalam kotak s**u Alif malam itu untuk berjaga-jaga. Tapi karena tergesa-gesa, catatannya pasti hilang di suatu tempat. Mungkin juga hangus terbakar malam itu. Catatan yang berisi nomor seri uang ketika ia menulis pesan di kertas bandel uang itu. Setidaknya jika Aina menggunakannya dan menyetor itu ke bank agar aman menyimpannya. Ia akan tahu di mana gadis itu dan keponakannya dengan melacak nomor seri uang itu di bank. Itu bukan hal sulit jika dilakukan oleh seorang ahli. Bahkan dirinya pun bisa melakukannya. Tapi saat sadar dan meminta seseorang melacaknya, tidak ada transaksi seperti yang ia harapkan. Aina tidak menyetor uang itu di bank. Gibran hanya berharap jika mereka tidak kecopetan atau dirampok. Setidaknya Aina punya sedikit modal untuk bersembunyi. Hidup sendiri saja membutuhkan biaya, apalagi Aina yang harus membesarkan Alif seorang diri diusianya yang masih 22 tahun. Walau kerap kali bayangan buruk terlintas di benaknya, Gibran berusaha berpikir positif. Aina gadis pintar dan ia tidak akan bertindak gegabah menjadikan dirinya dan keponakannya berada dalam bahaya. Mereka hanya memiliki satu sama lain. Ia sudah menyewa banyak detektif swasta dan menyebarkan foto Aina pada jaringan rahasia miliknya. Sampai saat ini ia hanya berbagi hal itu dengan Bara. Mengenalkan adiknya dengan Damian, yang lebih dikenal sebagai Demon. Demon yang papanya sangka hanya teman kuliahnya di London. Sebenarnya ia dan Damian membuat perusahaan swasta yang bergerak dalam bidang keamanan dan jasa informasi. Tapi hingga saat ini hanya Bara yang tahu, walau ia curiga papanya mungkin sudah mengetahuinya. Sangat sulit menyembunyikan sesuatu dari seorang Hamizan Irsyad. Sehingga Gibran dan Bara memutuskan pura-pura tidak tahu saja kalau memang pala mereka tahu. "Ada apa denganmu?" Gibran mendongak menatap Fikri yang mengernyit ke arahnya. Garis-garis halus di dahi ayah dua anak itu menjadi bukti betapa seringnya ia berpikir. Gibran kembali tersenyum dan menunjukkan layar ponselnya. begitu bangga seperti Fikri yang kadang memamerkan fotonya bersama kedua anaknya. "Itu partner barunya Jendral Gib. Dia yang membantuku sehingga bisa punya akses keluar masuk sekolah TK itu dengan mudah. Menurutmu aku harus memberikannya hadiah apa? Belakangan ini putramu ingin apa? Mainan apa kira-kira? Apa yang populer di kalangan anak laki-laki?" Fikri mendesah pasrah dengan kebiasaan Gibran yang satu ini. Suka sekali memberondongi orang pertanyaan tanpa melihat siapapun orangnya seolah semua orang pelaku yang harus diintrogasi. "Kenapa tanya padaku yang sama sibuknya denganmu? Tanya saja pada Sam. Kau itu kan punya anggota tim yang akrab dengan google." "Kenapa aku sampai lupa?" tanya Gibran pada diri sendiri dan mengirim pesan pada Sam. Soal mencari data, jangan ragukan anak itu. Banyak yang berpikir Gibran terlalu gegabah mengajak anggota yang masih terlalu muda ke dalam timnya yang terkenal agresif. "Untung saja timmu berhasil menangkap pelakunya. Aku sendiri tidak habis pikir, tega sekali mereka ingin menjual camilan anak yang mengandung bahan berbahaya seperti itu. Aku tadinya berpikir mereka hanya menjadikan sekolah-sekolah TK sebagai kedok tempat mereka melakukan pengedaran, ternyata lebih dari itu." "Aku juga awalnya berpikir yang sama bang, sampai Abi bilang sejak sekolah ia melihat hampir semua temannya suka makan permen itu. Katanya ada hadiah kartunya. Itu menjadi daya tarik selain rasa dari permen itu yang memang unik. Aku tanya kenapa dia tidak beli juga. Dia bilang pernah jajan itu sekali, tapi bundanya melarang dia membeli permen itu lagi. Dia selalu diberi bekal sehat. Sampai minggu lalu di TK lain ada yang beberapa anak yang keracunan karena permen berhadiah kartu itu. Hasil lab mengatakan ada bahan yang kontra dalam permen itu jika dikonsumsi langsung dengan s**u nabati." "Permen jenis itu sekarang sudah ditarik di seluruh Indonesia. Menurutmu, berapa kerugian pelakunya?" Gibran terdiam sejenak lalu mengangkat 5 jarinya. "Minimal 5 M. Aku pulang duluan bang, si peri manja tunangan sama Bara malam ini. Om Derdi belum mau ekspos, tunggu undangan pernikahan mereka saja." Gibran meregangkan otot tubuhnya, "Setelah ini aku harus cari cara supaya masih bisa punya alasan bertemu dengannya." "Dengan siapa?" Fikri mengernyit untuk kedua kalinya. "Jagoannya Gibran. Anak ini. Jika bertemu dengannya rasanya seperti membayangkan bertemu Alif. Ternyata benar, rindu itu bisa membuat seseorang sesak napas ketimbang asma. Huh... ini bukan rindu biasa, tapi rindu yang menghadirkan sesak di dada." Fikri tertawa melihat sisi melankolis Gibran. "Aku ke sini ingin memberimu kabar penting." Fikri merogoh sakunya dan memberikan Gibran selembar amplop kecil. "Undangan apa?" Gibran membukanya amplop itu dan ada sebuah foto yang mengejutkannya. "Bukankah dia korban kasus kemarin? Dia menitipkan sesuatu pada anaknya Bi Sukma tanpa gadis itu sadari. Itu terekam di cctv mall. Sepertinya dia tahu kalau Ratna ada hubungan denganmu. Lakukan diam-diam. Tidak banyak yang tahu kalau gadis dalam cctv itu Ratna. Kalau bukan jam tangan yang digunakannya, aku mungkin tidak sadar. Aku langsung mengenalinya karena dia pernah ke rumah bersama Jay saat membawa titipan kado ulang tahun putriku karena kau tidak bisa datang." "Itu pasti bukti penting. Bang, yang tahu tentang ini?" "Hanya aku dan timku dan... Pak Derdi. Dia bilang kau yang harus mengambilnya diam-diam." Fikri berbisik sambil menepuk pundak Gibran dan beranjak lebih dulu. *** Hari berlalu dan rasanya ada yang kurang. Jika itu terjadi, maka ada tanda-tanda rindu yang hadir di hatimu. Sudah seminggu lebih Gibran tidak pernah lagi datang ke sekolah walau sebentar. Bizar kadang duduk murung memandang ke arah pintu gerbang. Sebulan ini walau tidak setiap hari, Gibran sesekali akan menemuinya saat jam istirahat. Walau hanya bertemu di post satpam atau di dekat kantin sekolahnya beberapa menit saja. Berbagi cerita di tempat rahasia mereka berdua. "Bizar kenapa lesu begitu? Makan juga tadi bunda perhatikan tidak selera. Padahal itu kesukaan Bizar." Aina duduk di sampingnya dan meletakkan segelas s**u hangat untuknya. "Bunda, kalau di sini selalu ada yang ganggu kenapa Bunda?" Bizar memegang dadanya dan mendesah berat, "Bizar mau bilang berat nggak ada yang tindis. Mau bilang sakit tapi nggak ada yang pukul. Mau bilang geli nggak ada yang gelitik Bunda." "Itu ciri-ciri kalau Bizar rindu. Bizar rindu ingat sama seseorang? Ingat sama siapa? Opa sama sama oma di panti? Atau teman sekolahnya Bizar?" Itu pertanyaan wajar bagi Aina. Baginya, tidak banyak yang mengenal Bizar, begitu sebaliknya. Selain orang-orang di panti jompo yang berjumlah sekitar 20-an orang dan orang-orang di lingkungan sekolah Bizar, ankanitu tidak mengenal siapapun. Aina merasa bersalah untuk itu, namun ia tidak berdaya. Ia punya beberapa kenalan di kota ini, temannya cukup banyak. Tapi akan mengundang kehebohan teman-temannya jika ia tiba-tiba kembali dan berstatus ibu tunggal. "Bizar tidak tahu juga bunda," ucap Bizar dengan bahu yang jatuh dan kembali mendesah, "Bizar rindu ayah bunda. Tapi kan Bizar tida kasih tahu bunda soal ayah Gib. Bizar takut nanti bunda marah sama Bizar. Ayah sudah lama tidak ke sekolah ketemu Bizar," lanjut Bizar tapi hanya dalam hati saja. "Itu apa Bunda?" tanya Bizar ketika Aina membuka sebuah kotak kecil yang berkarat dan penuh tanah. "Harta karunnya bunda. Di dalam sini ada fotonya Bizar waktu baru lahir. Tapi bunda mau bersihkan dulu. Kotor, banyak tanahnya." Aina beranjak ke kamar mandi membawa kantongan hitam dari bawah tempat tidurnya. Kotak yang ia sembunyikan dihari kematian kakaknya. Beberapa waktu lalu saat Bizar mengikuti lomba dan memintanya belanja, ia memanfaatkan waktu itu untuk diam-diam mengunjungi rumah lama mereka. Ia meminta seorang tukang becak menggali di bagian belakang bekas rumah mereka dulu dengan bayaran dua ratus ribu rupiah dan memintanya merahasiakannya. Rumah yang sudah terbakar dan ditumbuhi semak belukar. "Kapan ya Bizar juga bisa punya harta Karun?" gumam Bizar yang memilih berhenti bermain dan merapikan mainannya ke dalam box. Ia beranjak ke kamar dan membuka kotak susunya. Kotak yang menjadi tempat persembunyian miniatur mobil polisi pemberian Gibran. "Ayah... Bizar rindu," gumamnya lagi sambil mencium miniatur itu. Buru-buru memasukkan kembali miniatur mobil polisinya agar tidak ketahuan Aina sambil mengusap air matanya. Naik ke tempat tidur memeluk boneka Doraemon yang hampir sama besar dengannya. Ia tidak tahu kenapa air matanya menetes dan tidak mau berhenti. *** Acara pertunangan sederhana Bara dan Aluna baru saja diresmikan. Beberapa tamu bahkan sudah pamit pulang. Acara itu memang hanya dihadiri keluarga inti dan beberapa sahabat Hamizan dan Derdi di kediaman Hamizan. Orang-orang yang sejak awal tahu tentang keberadaan Aluna sebelum Derdi kembali bertugas ke Sulawesi. Salah seorang anak buah kepercayaan Gibran yang bertubuh tinggi besar dan hobi makan melirik Gibran yang seperti orang resah. "Bos kenapa? Kayak orang patah hati saja adik Barbie-nya tunangan. Bos iri karena belum punya calon dan bos Bara mau nikah duluan?" tanya Fian yang sambil mengunyah sepiring kue. "Bukan. Senang malah sudah ada yang bakal jagain dia. Kamu tahu sendiri bagaimana susahnya jagain Aluna. Cuma lagi kurang fit saja. Kebanyakan begadang akhir-akhir ini," ungkap Gibran tidak sepenuhnya berbohong. Setelah pamit ingin ke kamarnya sebentar karena lupa minum obatnya, Gibran beranjak. Walau sudah dinyatakan pulih, Gibran memang masih harus mengkonsumsi obat tertentu untuk mendukung aktivitasnya yang tergolong berat. Meskipun tim dokter memintanya untuk tidak memporsir tubuhnya dengan kegiatan berat, tetap saja ia abai. Tidak mungkin baginya berpangku tangan sebelum menemukan Aina dan Alif. "Ada apa denganku? Kenapa dadaku sesak begini?" gumam Gibran yang beranjak membuka kotak obatnya. Tubuhnya lemas dan dadanya sesak. Rasanya seperti terhimpit sesuatu. Pandangannya mulai buram dan nyaris limbung jika saja tidak berpegang di tembok. Ia bahkan merasa nakas tempat tidur yang berjarak sekitar tiga meter itu terlalu jauh untuk ia gapai. Bugh!! Tubuh Gibran jatuh tergeletak di lantai. Sulit sekali ia menggerakkan tubuhnya sendiri. Ia tahu ia sedang tidak baik-baik saja, namun tidak mungkin ia memberitahu papanya atau Bara di saat seperti ini. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan yang sejak lama dinantikan keluarganya. Tidak akan ia biarkan wajah bahagia kedua orang tuanya berganti raut kesedihan. Dirinya memang masih mencari dan menunggu Aina dan Bizar, sehingga tidak bisa memenuhi keinginan mama dan papanya memberikan mereka menantu dengan memilih gadis lain. Menikah dengan seseorang yang tidak mencintai atau kau cintai itu bukan hal mudah. Ia bukan papanya atau mamanya yang ia jodohkan karena ingin punya seorang mama. Sampai akhirnya ia melihat kedua orang tuanya hidup bahagia dan saling mencintai. Hatinya tidak bisa berbohong dan ia tidak sanggup hidup dalam kepura-puraan lagi. "Alif... ayah minta maaf. Ayah rindu..." Gibran berbisik lirih entah pada siapa ia titip kalimat rindu itu. Terisak seperti ini ia benar-benar tidak menyukainya. Tapi ia juga tidak bisa mencegahnya. Bayangan kejadian malam itu kembali membuatnya semakin sesak. Hingga matanya terpejam dan bulir bening itu menetes tanpa permisi, hanya satu kalimat yang terucap lirih dari bibirnya. "I longing for you...." baiknya lirih sebelum tidak sadarkan diri. Sementara di tempat lain Aina juga terisak melihat keponakannya demam tinggi. Ia tidak tahu hal apa yang mengganggu pikiran Bizar. Siapa yang dirindukan keponakannya sampai seperti ini? Setelah memasangkan kaos kaki dan mengganti kompres Bizar, Aina turut berbaring di sisinya. Mendekap erat tubuh kecil Bizar dan mengusap punggungnya agar bisa tidur nyenyak. Menyanyikan lagu pengantar tidur seperti biasanya. "Ayahhh..." igau Bizar yang membuat Aina mematung. *** Gibran membuka mata dan yang pertama kali dilihatnya adalah langit-langit kamar yang sudah ia hapal. Langit-langit kamarnya yang putih bersih dan masih terang benderang disinari lampu LED. Di sampingnya ada Bara yang baru saja menyuntikkan sesuatu ke dalam botol infusnya. "Kak Gibran bisa dengar saya?" tanya Bara mengulum senyum. "Cerewet!" balas Gibran, ia mencoba memijat kepalanya, "Apa ada yang tahu kalau aku seperti ini?" "Cuma Aluna. Tadi ia ingin ke kamar mandi dan di kamar mandi bawah ada orang nadi naik ke kamar kak Gibran. Untung dia tidak teriak dan langsung telpon saya. Terima kasih sudah pingsan, saya jadi ditelpon tunangan." Bara kembali memasang cengiran di wajahnya. "Papa benar, kamu dokter Lucifer. Mana ada dokter yang senang pasiennya pingsan." Gibran mendelik. "Setidaknya saya bisa buat kak Gibran tidur nyenyak setelah ini. Saya turun dulu, tadi saya minta Aluna turun duluan dan bilang kalau saya ada panggilan darurat dari Jendral Gib. Jangan hawatir, saya akan bilang kalau kak Gibran ada panggilan konferens dari London. Tapi saya tidak bisa bohong sama papa kalau kak Gibran merasa pusing dan mengantuk setelah minum obat. Kalau tawaran saya ditolak, saya juga akan bilang sama mama." Bara memberi penawaran yang sama sekali tidak bisa ia pilih. Setelah melihat Gibran mendengus kesal sambil memperbaiki posisi tidurnya dengan memunggunginya, Bara pun beranjak keluar. Gibran mengulum senyum dan memilih tidur. Kondisinya harus segera pulih. "Im longing for you Aina... Alif... ayah rindu sama kalian. Ayah tidak akan menyerah untuk menemukan kalian," bisik Gibran sambil tersenyum walau air matanya kembali jatuh. Katakanlah ia rapuh, tapi ia tidak bisa terus-terusan mengeluh. Seperti tulisan Moammar Emka di bukunya 'Dear You' tentang mencium kerinduan. Menabung sedikit senyum malam ini, siapa tahu esok hari ada bahagia datang menyapa hati. *** -------------- Jangan lupa ❤️ cerita lainnya Ada kisahnya Bara- Aluna di DOKTER JANTUNGKU Masih ada lagi kisah yang tidak kalah romantis dari Pangeran Ibram & Putri Ahana Baca cerita dan tapp ❤️ Bukan Jendral Tapi Pangeran See you next episode ---------------
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN