Aina cukup terkejut dengan permintaan Bizar saat pulang sekolah tadi. Bizar minta diajari seputar tentang polisi. Alasan Bizar mengatakan itu tugas sekolahnya membuatnya tidak curiga sama sekali. Tapi tetap saja itu mengusik hatinya. Mendengar kata itu dan melihat seragamnya saja membuat Aina teringat seseorang. Teringat pada Gibran.
Beberapa bulan sejak peristiwa kematian kakak dan kakak iparnya, Aina baru berani bersinggungan dengan dunia luar. Itupun dengan melakukan penyamaran dan menggunakan identitas orang lain. Ia sendiri pernah mencaritahu tentang Gibran dan mendengar dari kabar jika laki-laki yang pernah dekat dengan keluarganya itu dimutasi kerja. Tapi entah ke mana dirinya tidak mendapat informasi lebih jauh. Pernah juga ia mendengar kabar jika Gibran ditugaskan ke luar negeri. Entah itu benar atau tidak, ia tidak peduli.
Awalnya ia hanya ingin tahu mengapa laki-laki yang berjanji untuk kembali menjemputnya dengan keponakannya itu tidak kembali? Apa teman dari kakak iparnya itu peduli dan ingat dengan janjinya atau tidak? Ia tidak bisa lupa bagaimana raut wajah Gibran memohon padanya untuk tidak percaya pada siapapun.
Raut wajah penyesalannya dan ketegangan yang coba disembunyikannya. Gibran bahkan menyiapkan stun gun dan sejumlah uang yang cukup banyak di dalam tas perlengkapan bayi Alif saat itu. Nominal lima belas juta rupiah bukan jumlah yang sedikit. Seolah Gibran tahu jika akan terjadi hal buruk atau sengaja ingin mendorong mereka berdua pergi sejauh mungkin.
Uang itu baru ia sentuh setelah hampir seminggu bersembunyi di panti jompo karena sudah tidak memiliki uang lagi. Ia bekerja sebagai juru masak dan bersih-bersih di panti itu. Namun kebutuhan susunya Alif dan juga popoknya tidak akan cukup dengan uang gajinya yang hanya sebesar tiga ratus ribu rupiah. Sudah syukur karena ia dan keponakannya mau ditampung di sana dan bisa makan tiga kali sehari.
Saat terdesak ia terpaksa mengambil gulungan uang lima juta rupiah dengan pecahan seratus ribu rupiah itu. Uang yang terselip di kotak susunya Alif. Disaat itu juga ia melihat tulisan tangan di masing-masing label bandel uang.
-Jika aku tidak segera kembali, bersembunyilah di mana pun, sampai aku datang menjemput kalian. Aku janji-
-Kalau terjadi sesuatu, hubungi perusahaan RAT!HKA, kamu hanya perlu bawa bandel uang ini-
-Aku diawasi. Jangan percaya siapapun. Sebaik apapun mereka padamu. Gibran.-
Hingga saat ini Aina melakukannya, tidak percaya pada siapapun. Termasuk pada Gibran yang tidak kembali menjemputnya dan Alif malam itu. Bukan lagi Alif, tapi Bizar. Nama yang disebut Aina untuk keponakannya sejak datang ke panti. Ia tadinya ingin mengubah nanya juga, namun ia takut jika Gibran tidak bisa menemukan mereka.
Setahun ia bertahan namun akhirnya ia memutuskan menutup masa lalu dan memulai hidupnya berdua dengan Bizar. Mencoba untuk mencari penghasilan tambahan dengan menulis dan melakukan riset dengan bantuan orang-orang di panti jompo. Pengalaman dan koneksi mereka jadi jendela hidup baru untuknya dan Bizar. Ia kembali bisa menabung untuk masa depan Bizar.
Tapi tetap saja kebutuhan hidupnya bertambah seiring waktu. Ia pun memutuskan menjadi karyawan salah satu toko kue saat usia Bizar empat tahun. Melamar pekerjaan itu untuk mendapatkan pengalaman dan mengetahui caranya merintis bisnis kue. Keinginannya sejak dulu membuka toko kuenya sendiri dengan bentuk semi kafe sehingga ia tidak perlu ke mana-mana dan bisa berpenghasilan tetap. Tujuan hidupnya adalah kebahagiaan Bizar. Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan Bizar.
Hingga suatu hari mainan Bizar rusak dan keponakannya tidak bisa berhenti menangis. Mainan kesayangannya yang diberikan Gibran untuk Alif kecil. Mainan yang dikira keponakannya pemberian papa dan mamanya. Mainan yang menjawab semua pertanyaan yang selama ini ia kira tidak akan pernah ada jawabnya. Mainan yang di dalamnya ada memori card yang dibalut selotip. Benda kecil itu ditempel dan disimpan di dalam mainan itu. Memori card yang berisi pesan Nura dan Ekadanta tentang apa yang mereka temukan dan ingin diberikan kepada Gibran.
Sesuatu yang menyebabkan keluarganya hancur berantakan karena teroris itu pasti mencari memori card tersebut. Memori card yang berisi rahasia besar kelompok mereka. Rahasia yang jujur saja membuatnya takut. Namun di sisi lain ia juga berpikir jika mereka tidak akan ceroboh dan mengambil resiko dirinya akan melaporkan barang bukti itu ke polisi.
Mereka menunggu dirinya bergerak dan saat ini ia memilih bungkam sebagai jaminan keselamatannya dan Bizar. Mencoba menunjukkan jika dirinya tidak tahu apa-apa. Diam dan pura-pura tidak tahu adalah senjata terbaik yang dimilikinya saat ini.
"Bunda, kita makannya apa? Bizar lapar," keluhnya.
"Sup ayam. Tumben Bizar sudah lapar?" Aina melirik jam dinding yang masih menunjukkan hampir pukul lima sore.
"Nggak tahu Bunda. Perutnya Bizar bunyi terus, kepalanya Bizar juga pusing gara-gara belajar tentang polisi. Aduh... Bizar pikir jadi polisi itu enak. Opa yang di panti dulu bilang, dia waktu masih jadi polisi merasa jadi orang keren kalau sudah tangkap penjahat. Ternyata susah sekali Bunda tangkap penjahat. Penjahatnya sudah mau ditembak sama polisi tapi masih kabur. Ditangkap lagi pakai borgol, eh... mereka kabur lagi di rumah sakit, karena pura-pura pingsan," celutuknya.
Aina hanya tersenyum mendengar celotehan Bizar yang baru saja selesai menonton animasi kartun bertema polisi. Tablet yang diletakkannya di meja belajar lipat itu sudah selesai menayangkan animasi edukasi itu. Ia bisa mendampinginya belajar nanti setelah ia selesai membuat kue. Sekarang Bizar sudah duduk di meja makan dengan pipi kiri yang menempel di meja dan bahunya merosot. Mirip seperti zombie tidur.
"Bunda... kalau hari Minggu nanti kita jalan-jalan lagi yuk! Bizar bosen. Salsa sama mamanya sama adeknya jalan-jalan makan es krim sama batagor," bujiknya. Sekarang kepalanya sudan tegak dengan dagu yang bertopang langsunb dj permukaan meja.
"Kenapa harus tunggu hari Minggu kalau mau makan es krim? Nanti kita bisa beli es krim sama singgah makan batagor atau apapun yang Bizar mau kalau pulang sekolah besok. Sekarang sudah mau malam, jadi bunda nggak kasih Bizar es krim walaupun ada dijual di warung yang di depan. Bizar kan harus tampil di depan teman-teman yang lain? Jadi Bizar harus jaga kesehatan," jelas Aina mengusap sayang kepala Bizar yang sudah mengulas senyum dan menaikturunkan alis tebalnya.
"Bunda, kalau Bizar besar nanti jadi apa?" tanyanya.
"Bunda tidak tahu. Bizar sukanya jadi apa? Apa ada yang Bizar kagumi? Maksud bunda Bizar suka lihat, suka dengar atau suka melakukannya." Aina berjongkok menggenggam kedua tangan kecilnya.
Keponakannya tampak sedang berpikir keras lalu berbisik, "Bizar suka makan."
"Kalau begitu jadi chef saja. Bizar jadi chef terkenal yang sekali masak bisa dibayar mahal dan bisa bikin perut orang lain kenyang. Diundang masak di tv, terus bisa buka restoran sendiri yang banyak pengunjungnya," saran Aina mengulum senyum.
"Bizar pikir-pikir dulu deh. Sup ayam Bunda...."
Aina terkekeh melihat wajah memelas Bizar. Keponakannya itu terlalu antusias belajar tentang polisi dan seperti apa pekerjaan itu. Tenaganya pasti terkuras sehingga rasa lapar pun mendera. Aina pun segera beranjak mengambil seporsi sup ayam setelah memberikan Bizar sebutir telur rebus. Meminta agar bocah kecil itu mengupas sendiri kulit telurnya. Aina tidak akan pernah membiarkannya tumbuh jadi sosok manja. Bizar pun beranjak mencuci tangannya sebelum mengupas kulit telur rebusnya.
***
Gibran menepati janjinya dan kembali datang ke sekolah. Selain karena tugas pengintaian yang dilakukan timnya, ia memang memiliki janji pada Abi. Kamil, Ali dan Samuel tentu saja dibuat bingung melihat bagaimana antusiasnya Gibran pagi ini. Laki-laki yang kemarin mendesah pasrah karena usulan timnya itu sama sekali tidak tampak seperti orang yang tertekan. Bahkan tidak sabaran menunggu waktu istirahat belajar untuk segera masuk ke balik pagar biru itu.
"Itu apaan Bang?" tanya Sam saat Gibran membuka bungkusan amplop dari dashboard mobilnya.
Gibran menoleh sambil tersenyum ceria dan membukanya. Sebuah miniatur mobil polisi jenis sedan berwarna abu kuning yang bisa berbunyi dengan sirine yang sama seperti mobil aslinya jika tombol merah di atasnya ditekan. Miniatur mobil di rak kamarnya yang selamat dari amukan Aluna adik sepupunya yang tega mengobrak-abrik kamarnya beberapa waktu lalu.
"Untuk siapa?" tanya Ali tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Gibran membuka galeri ponselnya dan menunjukkan foto selfienya kemarin bersama seorang bocah laki-laki. "Partner baru kita, namanya Abi. Bocah laki-laki di sekolah TK ini. Besok aku dan dia akan ikut lomba acara ayah dan anak. Menurut kalian, dia akan suka?" tanyanya antusias.
"Kalau aku jadi anak itu aku terpaksa menerima." Gibran dan Ali menoleh pada Samuel yang hendak memasang headset.
"Kenapa?" Gibran mengernyit.
"Kalau aku jadi anak TK, aku akan lebih senang dapat dapat miniatur Pat dari serial Tayo dibandingkan miniatur mobil aslinya." Samuel menunjukkan mobil yang dimaksudnya di layar tablet yang dipegangnya. Gibran dan Ali mengangguk. "Bang Ali bisa pesan mobil Bongbong sama Nuri diserial yang sama. Putri kecilnya Bang Ali pasti senang."
Gibran menyapa satpam sekolah yang sejak awal sudah tahu jika dirinya seorang polisi dan diam-diam menjadi informan Gibran sebulan terakhir. Senyum terbit di wajahnya ketika melihat Abi bermain perosotan bersama beberapa temannya. Guru mereka yang sedang mengawasi mereka menghampiri Gibran dan bertanya apa keperluannya.
"Nak Abi... ada ayah kamu. Ke sini sebentar!" panggilan wanita yang mengenakan jilbab syar'i yang Gibran perkirakan berusia 40-an tahun.
Abi dan beberapa temannya menoleh. Mereka melihat sosok pria tampan mengenakan kaos berkerah pas body berwarna putih dan celana jeans. Abi terdiam di tempatnya ketika melihat Gibran melambai. Ia tidak menyangka jika pria yang kemarin mengatakan akan menjadi ayah pura-puranya ada di sini.
Tidak, bukan ayah pura-pura, tapi mereka sudah sepakat jadi ayah dan anak karena mereka saling membantu. Melihat langkah Abi yang perlahan berlari ke arahnya, Gibran juga berlari. Meraih tubuh kecil itu dan menggendongnya sambil mengusap punggungnya. Entah kenapa Gibran merasa rapuh saat ini membayangkan saat memeluk Alif seperti ini. Kapankah?
"Ayah punya sesuatu buat Abi," kata Gibran merogoh sakunya dan memberikan miniatur mobil yang sejak awal ia siapkan.
"Om ayahnya Abi?" Gibran menoleh pada beberapa anak yang mengerumuninya. Salah satu di antara mereka Gibran tahu bernama Salsa.
"Iya, nama Om, Gibran. Kalian bisa panggil Om Gib." Gibran menurunkan Bizar dalam gendongannya dan berjongkok agar mereka tidak kesulitan mendongak. "Kenalkan ayah sama teman-temannya Abi."
Bizar memperkenalkan teman-temannya. Gibran sendiri tidak melepaskan tubuh kecil Bizar di lengan kirinya walau dalam posisi berjongkok di hadapan lima bocah lainnya. Mereka banyak bertanya pada Gibran dan entah mungkin tanpa sadar ia bahkan menjawab seadanya. Jawabannya mengalir apa adanya.
"Abi bilang Om nggak bisa dihubungi?" Salsa bertanya dengan wajah cemberut pada Bizar.
"Abi tidak bohong. Bundanya Abi juga tidak bohong sama Abi. Om kerja di luar kota. Kerjaan om tidak bisa ditinggal begitu saja. Kadang signalnya jelek atau ponselnya om lowbet. Kemarin om baru tahu kalau besok ada lomba ayah dan anak, jadi om langsung pulang deh," ungkap Gibran mencuri satu kecupan di pipi Abi.
"Om kerjanya apa?" tanya anak yang mengenakan kacamata.
"Tangkap orang jahat." Gibran menjawab sambil melirik Abi yang terus menatapnya sejak tadi.
"Om polisi?" tanya salah seorang anak dan Gibran mengangguk dan mengisyaratkan dengan telunjuknya agar jangan ada yang memberitahu agar besok jadi kejutan. Mereka pun menyebutkan pekerjaan ayah mereka juga yang berprofesi berbeda dengannya.
"Besok Om mau ikut lomba yang mana saja?" Salsa kembali bertanya dan Gibran bisa menebak jika Abi belum memilih.
"Yang Abi suka. Kalau Abi mau ikut semuanya, om juga siap. Abi ini jagoannya om," kata Gibran mengusap kepala Abi. "Jadi om percaya kalau dia pilih lombanya, artinya Abi merasa yakin bisa melakukannya." Jawaban itu jelas membuat Abi senang dan langsung melingkarkan tangannya di leher Gibran.
"Abical, jawab dong! Kamu itu kan belum kasih tahu bu gulu." Lagi-lagi Salsa membuat Bizar cemberut.
"Abi kenapa belum kasih tahu bu guru mau ikut lomba apa?" tanya Gibran saat memperbaiki perkat sepatu Abi.
"Abi mau kasih tahu bu guru kemarin. Tapi lupa, karena daftar sama bu guru harus sama ayah." Abi menjawab dengan raut wajah tidak enak hati pada Gibran.
"Kita daftar sekarang yuk! Ayah masih harus kerja. Tidak bisa lama karena masih harus kembali ke kantor. Kalian lanjut main lagi. Kita ketemu besok. Hati-hati kalian kalah sama timnya kami." Gibran ikut tertawa ketika bocah-bocah cilik itu mengatakan kalau mereka dan ayahnya juga tidak akan kalah.
"Abi suka warna apa?" tanya Gibran ketika mereka keluar dari ruang kelas setelah mendaftarkan nama mereka di item lomba besok.
"Biru Om."
"Kok om? Bukannya kita sudah sepakat jadi ayah dan anak? Kamu sekarang itu jagoannya ayah." Gibran kembali berjongkok dan memegang bahu kecil Abi.
"Ups... maaf salah ayah..." cicitnya.
"Besok lomba pertamanya tarik tambang. Tim yang lolos baru bisa ikut lomba inti. Lomba kedua itu lomba lari kelereng. Abi latihan sekali dua kali di rumah. Lomba ketiganya susun puzzle. Lomba terakhir lomba kekompakan yang masih dirahasiakan. Abi tetap semangat. Tapi Abi janji sama ayah, kalau besok kita kalah, tidak apa-apa. Kita akan berusaha lagi dalam lomba berikutnya. Lomba ini masih ada lomba intinya saat peringatan hari ayah nanti. Ayah cuma tidak ingin Abi main curang untuk menang atau terlalu sedih karena kalah," tutur Gibran mencoba menjelaskan. Lebih baik menyampaikannya sejak awal daripada besok dirinya harus membujuk.
"Iya Ayah." Bizar mengangguk dan kembali memeluk leher Gibran dan berbisik, "Ayah wangi."
Gibran tertawa lalu mengecup gemas pipi tembem itu. Bizar protes karena geli. Bakal rambut di wajah Gibran menggelitik pipinya.
"Besok kalau bundanya Abi tahu ada lomba, Abi bilang apa Ayah?" Gibran berpikir sejenak dan berbisik padanya. Bizar mengangguk penuh semangat dan mengisyaratkan ok dengan jari kecilnya. Beberapa pasang mata memperhatikan interaksi ayah dan anak itu terhibur ketika keduanya melakukan toss ala mereka berdua.
***