Part 7 Seperti Woody

2055 Kata
Kamil, Ali dan Samuel saling lirik ketika menemukan ide. Masalahnya sekarang adalah bagaimana mengatakannya pada Gibran? Informasi yang mereka dapatkan dari satpam sekolah TK itu sangat menguntungkan mereka saat ini. Ada acara lomba ayah dan anak yang akan diselenggarakan besok lusa. Dari hasil penelusuran mereka, di sekolah TK ini ada jaringan narkoba. Pelaku yang sedang mereka incar adalah ibu karyawan kantin sekolah. Akan ada pemasok yang akan membawa barang haram itu secara berkala dan diselundupkan di dagangan kantin. Sementara ibu karyawan kantin akan menyalurkannya barang tersebut pada orang tua murid atau siapapun yang datang menjemput dan mengaku sebagai wali dari anak yang bersekolah di sini. "Ehem...." Kamil berdehem sambil menatap atasannya yang sedang sibuk memperhatikan data-data yang didapatkan anggota timnya. "Dia sedang berada di planet lain Kamil, jadi bersabarlah," kata Ali mendesah dan memilih untuk menyandarkan tubuhnya. Sementara Samuel sibuk menghabiskan sarapannya. Bagaimana lagi, Gibran meminta mereka mengintai secara bergantian agar tidak ada yang curiga. Seperti hari ini, mereka berempat harus duduk di dalam mobil kecil. Gibran sengaja meminta Samuel untuk merental sebuah mobil kecil untuk melakukan pengintaian pagi ini. Akan mengundang kecurigaan jika menggunakan mobil yang sama dalam beberapa waktu. "Ada apa Bang?" Gibran akhirnya meletakkan tablet di pangkuannya dan menoleh pada Kamil dan Ali. Walaupun pangkatnya lebih tinggi, Gibran selalu memanggil mereka dengan sebutan 'Bang' yang membuatnya nyaman. Hanya di depan atasan saja atau tempat-tempat tertentu ia akan memanggil mereka dengan sebutan formal berdasarkan pangkat mereka. Gibran mengangkat sebelah alisnya pada Samuel yang membalas dengan acungan jempol. Menu sarapannya dari dapur rumah atasannya itu tidak pernah mengecewakan. "Bang Ali sama Bang Kamil mau kalau Bang Gibran yang masuk ke sana. Aku masih terlalu muda untuk menyamar jadi ayah anak TK. Sekalipun lulus jadi brigadir dua, usiaku masih 19 tahun, belum cocok punya anak usia lima atau enam tahun." Samuel menjeda penuturannya dan kembali melanjutkannya setelah meneguk air minumnya. "Kalau Bang Ali yang masuk, guru-guru akan curiga karena ada tato di tubuhnya. Ya... meskipun tatonya tidak permanen. Bang Kamil apalagi? Sekarang penampilannya kayak Tormund Giantsbane, karakter game of Thrones yang sering aku mainkan. Kalau bocil cowok pasti langsung ingat tokoh Raikage keempat dalam serial Naruto Shippuden. Sementara kalau yang lihat bocil cewek, mereka akan ingat tokoh the Beast dalam kisah Beauty and the Beast." "Kalau mereka melihatku? Mereka akan teringat pada siapa?" tanya Ali menoleh pada Sam yang memindai dirinya yang sedang menyamar sebagai penjual sayur keliling dengan sendal jepit yang menjadi alas kaki favoritnya. "Luffy si Bajak Laut dalam cerita One Piece." Samuel mengacungkan jempol. "Bajak laut? Sekeren itu?" Ali yang penasaran langsung membuka gadgetnya dan mencari tokoh kartu yang baru saja disebutkan oleh partnernya. Gibran tertawa ketika melihat Ali mendelik tajam dan Samuel hanya cuek menggedikkan bahu. Dirinya ditanya dan ia hanya menjawab sesuai versi yang terpikirkan olehnya. "Jadi menurutmu aku yang harus masuk dan menyamar jadi orang tua siswa?" tanya Gibran menatap Samuel yang menggeleng. "Bukan menurutku, tapi menurut kami." Jawaban Samuel diangguki Kamil dan Ali. Kedua pria yang lebih tua darinya itu kembali bergeming. Gibran mendesah dan harusnya ia bisa. Bukankah sudah setahun lebih ia berinteraksi dengan Anggara putra dari rekannya Fikri? "Sam, kalau menurutmu aku mirip tokoh animasi yang mana?" tanya Gibran sambil mengembalikan tablet pada Kamil. "Woody, serial Toy Story." Samuel membuat Gibran kembali terkekeh, "Yang membuat Woody spesial adalah, dia tidak akan pernah meninggalkanmu. Apa pun yang terjadi, ia akan terus berada di sisimu. Itu yang dikatakan Andy." bisik batinnya lagi. Senyum di wajah Gibran membuatnya lega. "Kau pandai membujuk Sam!" Gibran keluar dari dalam mobil sambil menenteng sebuah buku gambar dengan sampul animasi mobil bus yang memiliki wajah. Semoga saja alasan buku gambar yang tertinggal akan membuatnya diizinkan masuk ke dalam. Rencana cadangan adalah ingin menyanyakan tentang sebuah pamflet yang diterimanya. *** "Ya ampuuuun, Abi kamu dali mana? Bu gulu cali-cali kamu telus. Kamu mau nda daptal acala besok lusa. Besok telakhil daftalnya. Kok kamu cembelut?" tanya seorang gadis kecil yang menghentikan langkah kala teman justru memunggunginya. Lidah cadelnya membuatnya terdengar menggemaskan. "Nggak." Bocah laki-laki itu menggeleng. "Kenapah?" Bocah perempuan itu menghampiri dan ikut duduk di sampingnya. "Ayah sibuk kerja. Kata bunda nggak bisa ditelpon," akunya sendu. "Tapi besok lusa kamu sendilian dong nggak ikut. Tian sama Nabil yang nggak punya ayah kalena udah ke surga tetap ikut. Tian ikut lombanya sama omnya. Nabil ikut sama kakeknya. Kamu minta om kamu juga dong gantiin ayah kamu ikut lomba. Bu gulu bilang boleh kalau papanya kita nggak bisa," bujuknya lagi. "Aku juga nggak punya om. Aku cuma tinggal berdua sama bunda," ujar bocah yang dipanggil Abi itu. Gibran menatap kedua punggung kecil dan dua pasang sepatu putih dan pink itu bergerak lucu karena saling ditepuk kedua ujungnya. Gibran berlalu dan bergegas ke arah kantin sekolah. Setengah jam kemudian Gibran duduk di salah satu pembatas taman. Setelah mencuci wajahnya di keran cuci tangan karena merasa mengantuk melakukan pengintaian sejak semalam. Ada tiga orang wanita yang dicurigainya di kantin sekolah. Setelah mengirimkan pesan pada rekannya agar kembali lebih awal karena pengintai sudah selesai untuk hari ini. Ia akan kembali dijemput Jay atau bisa pulang naik taksi. "Om, botolnya jangan ditinggal, buang di tempat sampah." Gibran menoleh. Kedua bola matanya menatap bocah laki-laki yang tadi sedang ia kuping pembicaraannya tanpa sengaja. Selain suaranya, Gibran yakin tidak salah orang melihat sepatu putih yang dikenakannya ada motif animasi Tayo. Ia tahu karena sama dengan buku gambar yang dibawanya tadi. "Om belum mau pergi. Om cuma meregangkan badan saja. Badannya om sakit," ujar Gibran tersenyum melihat wajah cemberut bocah laki-laki di hadapannya itu menggeleng menatapnya. "Jangan pura-pura karena sudah ketahuan Om. Bohong itu dosa. Bunda bilang, orang yang bohong masuk neraka terus dipanggang kayak sosis bakar. Terus Om akan tinggal di neraka, karena nggak bisa dijemput. Soalnya penjaga neraka tidak bisa dibujuk," ucapnya memberi petuah. Gibran tergelak mendengar perumpamaan itu. Gibran kembali duduk dan meraih botol air mineral kemasan plastik yang letakkannya tadi. Menenggaknya sedikit lalu menyimpannya kembali. Bocah laki-laki itu masih memandangnya dengan curiga. "Sini duduk. Berdiri di situ panas. Kamu bisa sakit kalau terus-terusan kena panas, padahal bisa bernaung," ajak Gibran sambil menepuk sisi tegel koridor di sampingnya. Bocah kecil itu menurut dan ikut duduk di samping Gibran sambil menumpukan siku di kedua lutut dan menopang pipi bulatnya. Tidak lama Gibran mendengar suara desahannya menatap ke arah papan pengumuman sekolah. Gibran tahu itu suara pasrah karena tidak bisa melakukan apa-apa. Sama seperti beberapa hari lalu ketika adik sepupunya mengatakan dirinya jahat dan tega membohonginya. Tanpa sadar Gibran juga mendesah berat dan membuat bocah kecil di sampingnya menoleh. "Om kenapa?" Gibran pun menoleh dan mengulas senyum kecil. "Om punya banyak masalah. Om juga punya banyak salah. Om juga banyak tugas kantor yang belum selesai. Om dimarahi atasan om. Dicuekin sama adiknya om. Diomelin sama papa dan mamanya om. Tapi yang paling berat adalah... om rindu. Rindu sama anak om dan bundanya," aku Gibran jujur. Menurutnya bocah itu tidak akan menertawakannya. "Anak sama istrinya Om ke mana?" tanyanya. Gibran mengulas senyum lagi mendengar bocah di sampingnya itu bertanya ke mana anak dan istrinya. Sementara ia sendiri belum menikah. Anak itu tentu tidak tahu dan hanya menduga. "Anak om hilang. Sembunyi di suatu tempat sama bundanya. Om cari-cari belum ketemu. Pasti sudah sebesar kamu sekarang. Umur kamu lima tahun kan?" Bocah itu mengangguk. Teringat akan ulang tahun terakhir yang dirayakan bundanya di panti dengan kue spesial dan ada lilin nomor lima di atasnya. "Cowok apa cewek Om?" tanyanya penasaran. "Cowok kayak kamu. Namanya Alif." Bocah itu terkesiap menatap Gibran yang kini menekuk kakinya juga sambil menumpukan kedua siku di lututnya. Bedanya Gibran tidak menyangga pipinya, melainkan memijat kepalanya. "Alif? Sama kayak nama aku. Tapi aku kan dipanggilnya Bizar, bukan Alif," batin Bizar kembali mendesah berat. "Kamu sendiri kenapa di sini? Kamu seperti sedang ada masalah? Mau cerita sama om?" tawar Gibran. "Masalah Abi itu Om. Kertas yang bu guru tempel di papan." Bizar menunjuk kertas A3 yang terpasang di papan pengumuman. Gibran beranjak dan membaca informasi itu. Informasi yang sama dengan yang didapatkan Sam. Pamflet yang sama dibacanya dalam tablet sebelum ia turun dari mobil. "Ini?" tanya Gibran sembari menunjuk pada pamflet kuning yang ditempel itu. Bocah dengan pipi bulat itu mengangguk. Terlihat menggemaskan di mata Gibran karena ia sedang cemberut memegang pipinya. "Mau om bantu?" Gibran memanggil dan memintanya mendekat. "Di sini tulisannya ada acara lomba untuk ayah dan anak. Ayah akan menceritakan masa kecil anaknya dan sang anak akan menceritakan tentang pekerjaan ayah mereka atau apa yang mereka sukai dan kagumi dari ayah mereka," ujar Gibran karena mengira bocah itu belum bisa membacanya. "Abi sudah tahu Om. Tadi juga bu guru sudah bilang. Masalahnya ayahnya Abi lagi sibuk kerja di tempat jauh. Bunda bilang tidak bisa dihubungi. Mungkin ayahnya Abi sudah lupa sama Abi dan juga bunda. Mau ajak papa, tapi papa sama mamanya Abi sudah ke surga. Abi jadi pusing. Salsa juga bikin Abi pusing," keluhnya. "Salsa?" "Salsa teman duduknya Abi Om. Dia cerewet. Dia bilang kalau ayahnya Abi sibuk, bisa minta tolong sama omnya Abi. Tapi Abi juga nggak punya om. Abi cuma punya banyak kakek sama banyak nenek." Gibran kembali tersenyum dan berjongkok di hadapannya. "Mau jadi anaknya Om?" Gibran menatap mata bulat jernih yang mengerjap lucu itu. Keningnya berkerut karena bingung. "Maksud om, cuma pura-pura. Tapi jangan bilang siapa-siapa. Kita berdua ikut lomba itu. Anggap saja kamu bantu om yang rindu sama Alif. Om bantu kamu biar Salsa nggak cerewet lagi dan kamu bisa tampil seperti yang lainnya. Kita kenalan dulu. Nama om... Gib. Nama kamu?" "Abi Om," ucap Bizar menyambut uluran tangan Gibran. "Tapi ini rahasia ya Om. Soalnya Abi nggak mau kalau ada yang tahu Abi bohong. Kalau Abi minta tolong sama bunda, pasti bunda bakalan sedih." "Bocah penyayang," batin Gibran yang mengangguk atas permintaan partner barunya. "Om juga nggak mau bohong sama kamu. Sebenarnya Om juga butuh bantuan. Om suka datang ke sini karena om sering rindu kalau ingat sama anak om. Om penasaran bagaimana Alif bermain, belajar di kelas sama masih banyak lagi. Tapi sampai sekarang om cari-cari belum ketemu. Om akan anggap kamu anaknya om. Jadi kita tidak bohong sama orang lain. Kamu mau kan jadi anaknya om? Om akan jadi ayah yang baik kok. Kalau om salah, kamu boleh kok marah dan tegur om kayak tadi." Gibran melirik botol air minumnya. Mereka berdua tertawa. "Ok deh Om. Ingat Om, ini rahasia kita. Kalau Om ingkar janji, Abi laporin ke polisi," ancamnya dengan telujuk kanan yang diacungkan. Seketika mengingatkan Gibran pada Derdi. "Nggak usah lapor jauh-jauh, om ini polisi," bisik Gibran. "Tapi jangan bilang-bilang, kita ada misi rahasia buat ikut lomba." "Tapi nanti Om cerita tentang Abi bagaimana? Om kan nggak tahu tentang Abi waktu kecil. Abi juga nggak tahu karena nggak ingat." Bocah itu kembali murung. "Gampang. Om tinggal cerita tentang Alif anaknya om. Kan tidak ada yang tahu kecuali kita berdua. Besok om datang lagi buat ketemu kamu di sini. Kalau soal pekerjaan om, kamu bisa belajar sama bunda kamu di rumah. Biar bunda kamu tidak curiga, bilang saja kamu dapat tugas buat cerita di depan teman-teman kamu tentang polisi," saran Gibran. "Om beneran polisi? Om nggak bohong?" Bizar kembali memicing curiga. Gibran mendesah pasrah untuk kesekian kalinya. Ia harus meyakinkan bocah ini agar bisa punya akses keluar masuk sekolah ini jika dirinya dianggap ayah dari anak ini. Meskipun terkesan memanfaatkan, tapi hati Gibran tulus untuk membantunya. Jujur saja rindunya pada Alif sedikit terobati. Gibran membuka galeri ponselnya. Memperlihatkan fotonya yang memakai seragam polisi. Bizar kembali mendekat dan duduk di sampingnya. Di tempat semula mereka bernaung sambil memperhatikan isi galeri ponsel ayah barunya. Bisa ia lihat foto Gibran bersama keluarganya. Saat melihat foto anak kecil laki-laki bersama anak kecil perempuan ia pun bertanya apakah itu Alif? Gibran menggeleng dan mengatakan jika itu keponakannya. Anak dari temannya yang juga seorang polisi. "Om suka boneka Barbie?" tanya Bizar. "Tidak. Ini adiknya om. Mukanya memang cantik kayak Barbie. Nah dia tadi yang om bilang lagi ngambek, marah sama om," ujar Gibran. Adik sepupunya memang merajuk dan Gibran tahu pasti itu hanya akal-akalannya untuk dibujuk permen kapas. "Cantik banget Om. Tapi bundaku juga cantik, kayak model majalah. Kayak itu Om, foto cewek yang besar, yang pakai jilbab di depan toko baju di depan sekolah," ungkapnya tidak mau kalah. "Oh ya? Tapi menurut om, lebih cantik bundanya Alif," ujar Gibran yang membuat bocah cilik itu cemberut. Keduanya tidak tahu jika sedang membicarakan orang yang sama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN