BAB 30

1724 Kata
2 tahun kemudian . . . Kota Clivis, Pulau Amadea Pemerintahan Raja Ke - 3 Elf, Fingolfin Sie Amblaibh * * * * * Tanpa terasa, waktu yang dihabiskan untuk memberantas Netvor yang semula hanya satu bulan bertambah menjad 3 bulan, kemudian bertambah lagi menjadi 6 bulan, 1 tahun dan pada akhirnya barulah bisa diberantas habis sampai tak tersisa di tahun ke - 2. Netvor yang merupakan makhluk yang menjadi pusat rasa takut bangsa elf akhirnya berhasil dibasmi di Kota Clivis. Setiap sudut, titik, rumah - rumah dan bahkan tempat lainnya diperiksa secara bertahap oleh pasukan Vadazs. Bahkan tembok - tembok yang diminta oleh Maverick akhirnya dirampungkan sehingga setiap sisi perbatasan Clivis sekarang dijaga ketat oleh para penjaga dari Clivis langsung. Pasukan Vadazs pun terus bertambah jumlahnya, yang tadinya hanya 20 orang, menjadi 50, 100 dan sekarang sudah ratusan bahkan hampir ribuan. Meski tak bisa dipungkiri, pasukan Vadazs pun banyak yang berjatuhan di dalam misi tersebut. "Maverick," panggil Sanura saat melihat Maverick yang tampak mengenakan pakaian kerajaan untuk bersiap kembali ke Istana Tessitura yang selama 2 tahun ini tidak ia pijak. Bahkan Maverick sama sekali tak berkomunikasi dengan Fin selama ia bertugas di Clivis. "Ya?" balas Maverick sembari berbalik menatap Sanura yang berdiri tepat di belakangnya. Sanura berjalan menghampiri Maverick, membantu membetulkan posisi kerah jubahnya dan menatap Maverick dengan lekat. "Sudah mau kembali ke Istana ya?" tanya Sanura. "Tentu. Aku harus kembali. Tugasku disini sudah selesai. Aku juga sudah mengirimkan 5 orang untuk pergi ke Throne dan Katara untuk dibantu dibuatkan s*****a," ujar Maverick. Throne dan Katara adalah 2 buah pulau kembar yang berisikan bangsa dwarf. Dwarf sendiri adalah makhluk kerdil yang memang bekerja dengan membuat s*****a. Bahkan tak hanya s*****a saja, melainkan juga kebutuhan untuk membangun rumah termasuk bahan - bahan untuk membuat tembok yang menutup Clivis agar terhindar dari Netvor yang terus berdatangan. "Terima kasih atas bantuanmu selama ini. Mungkin tanpa pasukan Vadazs, Clivis hanya akan tinggal nama," balas Sanura. "Berterima kasihlah kepada Raja Fin langsung. Berkatnya, ia langsung bergerak cepat dan mengirimkan bantuan ke tempat ini." "Nanti aku akan ke Istana untuk mengucapkan terima kasih." "Aku tunggu di sana." Maverick kembali berbalik, menatap pantulannya pada cermin kemudian beranjak ke sisi lainnya untuk memasukan barang bawaannya ke dalam tas. Selama ia tinggal di Clivis, Maverick secara khusus mendapatkan kamar sendiri. Ia bahkan bisa tidur dengan nyenyak di atas tempat tidur yang nyaman. Sama seperti pasukan lainnya, Maverick juga pernah terluka, terbakar dan bahkan tidak bisa bergerak selama beberapa hari akibat melawan Netvor yang semakin kuat ketika menyerap energi sihir bangsa elf. Sanura menatap Maverick yang mengenakan tasnya dan sudah bersiap untuk pergi. Sebenarnya ada perasaan sedih dari dalam benaknya karena ia akan berpisah dengan Maverick. "Kenapa?" tanya Maverick yang langsung menemukan kejanggalan dari wajah Sanura. Sanura adalah elf wanita berusia ratusan tahun. Bisa dibilang ia adalah pemimpin paling muda dibandingkan dengan pimimpin kota elf lainnya. "Tidak ada," jawab Sanura sembari menggelengkan kepalanya. "Baiklah. Kalau begitu aku turun ke bawah duluan, mereka pasti sudah menungguku," ujar Maverick sembari mengambil 2 bilah pedang miliknya kemudian membawanya. Saat kakinya hendak mengarah ke arah pintu, secara tiba - tiba saja Sanura memeluk Maverick dari belakang dengan cukup erat. Dreg ! Maverick tersentak saat merasakan pergelangan tangan Sanura yang melingkar di pinggangnya, "Ada apa?" tanya Maverick. "Apakah kau bisa tinggal lebih lama, Maverick?" tanya Sanura. Maverick membalik badannya dan melepas pelukan Sanura dari pinggangnya, "Sebenarnya aku ingin. Mengingat Clivis memiliki kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Tetapi tugasku dan juga Rajaku menunggu di Istana. Aku harus kembali, lagi pula tak ada alasan lagi aku harus tinggal. Pasukanku yang lain, yang masih tersisa pasti merindukan keluarganya." Memang benar, dari 20 orang yang ikut dan tergabung ke dalam pasukan Vadazs hanya 7 orang yang tersisa termasuk Maverick. Jumlahnya berkurang drastis, satu per satu dari mereka jatuh berguguran. Bahkan 3 orang Clivis yang dengan tekad luar biasa kini hanya menyisakan Jasper. Shane dan Bradley sudah lama pergi akibat perjuangan mereka. Luka berat yang mereka alami sudah tidak bisa tertolong. Hingga akhirnya Shane menghembuskan napas terakhirnya 8 bulan yang lalu dan 3 bulan kemudian Bradley ikut pergi menyusul kepergian Shane yang sudah lebih dulu meninggalkannya. "Apakah selama 2 tahun ini kau tidak ada perasaan sama sekali kepadaku, Maverick?" tanya Sanura lagi. Maverick menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu Sanura?" tanya Maverick. "Aku menyukaimu." Deg ! Seketika Maverick terdiam. Wanita yang selama ini ia anggap sebagai partnernya justru jatuh cinta kepadanya. "Maaf," ujar Maverick. Sanura tersentak mendengarnya, "Kenapa? Kau menolakku?" "Kau sudah tahu jawabannya." "Ta - tapi... Tapi, kenapa?" "Aku mau memastikan Fin menikah lebih dulu." "Aku bisa menunggu." "Tidak, Sanura. Masih banyak pria lain yang mencintaimu dan lebih pantas." "Kau pantas untukku!" Tok ! Tok ! Tok ! Ketukan pintu tiba - tiba saja menyadarkan Maverick, ia pun mengusap kepala Sanura dengan lembut dan berjalan pergi meninggalkan Sanura ke arah pintu. Sebelum keluar dari sana, Maverick berbalik sembari berkata, "Kapan - kapan aku akan berkunjung kemari. Kita masih berteman, kok," ujar Maverick kemudian pergi. Saat pintu terbuka, Maverick bisa melihat Olivia yang sudah menunggu di depan pintu. "Tuan," panggil Olivia. "Ayo kita pulang," ajak Maverick lalu berjalan lebih dulu. Mata Olivia dan Sanura bertemu, Olivia pun memberikan ucapan pamit terakhirnya sebelum akhirnya pergi dari sana. Di luar rumah Sanura, banyak rakyat elf Clivis yang sudah menanti kedatangan Maverick. Mereka hendak mengucapkan terima kasih kepada Maverick dan juga pasukan Vadazs yang sudah membasmi Netvor dari Kota Clivis. Selama mereka tinggal pun, para rakyat Clivis sangat membantu Maverick dan pasukan Vadazs. Mulai dari persediaan air yang selalu tersedia, sarana pengobatan bahkan sampai makanan yang tak pernah habis dan selalu tersedia. Setiap pagi sehabis bertempur, seluruh pasukan Vadazs akan disambut dengan hidangan sarapan pagi yang lezat serta selimut hangat yang digunakan untuk mereka tidur. "Tuan Maverick," panggil Dominic dengan beberapa tumpuk roti gandum lengkap dengan tuna di tangannya. Dominic tampak memberikan roti itu kepada Maverick. "Mereka memberikan ini dan ini bagian untuk Tuan, dan ini untukmu," ujar Dominic sembari memberikan roti tuna itu kepada Olivia. "Terima kasih," ujar Maverick dan Olivia bersamaan. Seluruh barang bawaan milik pasukan Vadazs sudah masuk ke kereta kuda. Bahkan mereka telah kembali mengenakan jubah kerajaan sebagai identitas bahwa mereka adalah penghuni Istana. "Tuan Maverick!" pekik salah seorang pria dari kejauhan. Maverick dan Olivia sama - sama menoleh. Mereka sudah tahu jika orang itu adalah Jasper. "Jangan berlari, luka di kakimu belum sembuh," ujar Maverick saat Jasper tiba di hadapannya dengan napas yang terengah - engah. Jasper tertawa mendengar omelan dari Maverick, "Tuan, aku pasti akan merindukan celotehanmu itu yang selalu memarahiku karena aku suka berlari," ujar Jasper. "Apakah tidak ada hal lain yang kau rindukan selain itu, Jasper?" tanya Maverick. Jasper tertawa mendengarnya. Sesaat kemudian ia pun teringat jika ia hendak memberikan sebuah kerang kepada Maverick. "Tuan, ini untukmu," ujar Jasper sembari memberikan sebuah kerang kepada Maverick. "Apa ini?" tanya Maverick. "Kerang yang kusimpan sejak kecil. Aku memberikannya kepadamu," jawab Jasper. "Tapi ini pasti berharga bagimu, kan?" "Sekarang aku percayakan benda itu kepadamu, Tuan." Maverick tersenyum mendengarnya, "Baiklah aku akan menjaganya dengan baik," ujar Maverick kemudian memasukan kerang itu ke dalam kantung jubahnya. Olivia memberitahukan kepada Maverick jika kereta kuda sudah siap dan mereka tinggal menunggu Maverick untuk masuk karena semua pasukan yang tersisa sudah masuk ke dalam kereta kuda. "Tuan," panggil Olivia. "Ya, aku segera ke sana," ujar Maverick. Jasper menatap Maverick, matanya berkaca - kaca. "Aku tidak menyangka, waktu 2 tahun terakhir akan menjadi tahun yang paling berharga dan penuh pelajaran untukku," ujar Jasper. Maverick pun menarik Jasper ke dalam pelukannya dan menepuk bahu pria itu. "Aku senang bisa mengenalmu. Datanglah ke Istana Tessitura sesekali. Aku akan mengajakmu berkeliling," ujar Maverick kemudian melepaskan pelukannya. Jasper menganggukan kepalanya bersemangat, "Tentu Tuan." Sebelum Maverick pergi Maverick memberikan salah satu pedang peraknya kepada Jasper. Jasper pun tersentak melihat barang yang diberikan oleh Maverick kepadanya. "Tu - tuan tapi pedang ini-" "Rawatlah dengan baik. Aku juga akan merawat kerangmu dengan baik," potong Maverick. Jasper menangis, "Terima kasih, Tuan!" Sebelum pergi Maverick berbalik dan menatap Sanura yang melihatnya dari dalam rumahnya di lantai 2. Ia pun melambaikan tangannya seolah tak pernah terjadi jika ia habis menolak cinta Sanura. Waktu 2 tahun berlalu dengan cepat, bahkan Maverick tidak merasakan waktu melambat. Bahkan jika ia bisa mengulang waktu, Maverick ingin kebersamaan dirinya dengan rakyat Clivis tidak berakhir. Kehangatan rakyat Clivis membuatnya rindu bahkan sebelum ia pergi dari sana. Saat Maverick melangkah masuk, sebuah memori tentang perjalanannya di Clivis berputar. Seolah - olah memori itu akan disimpan dengan baik dalam ingatan. Tak mau membuat yang lain menunggu lama, akhirnya Maverick masuk ke dalam dan pintu kereta kuda tertutup. Saat kereta perlahan berjalan, Maverick membuka jendela dan melambaikan tangannya pada warga Clivis yang rela mengantarkan kepulangan mereka dan memberikan oleh - oleh kepada mereka untuk dibawa pulang. "Terima kasih banyak!" ujar para rakyat Clivis itu. Akhirnya kereta kuda itu pergi meninggalkan Clivis. Saat keluar gerbang Maverick pun berkata kepada Dominic yang menjadi supir kuda. "Dominic," panggil Maverick. "Ya, Tuan," balas Dominic. "Nanti kita mampir ke Desa Caspian dulu. Aku mau memberikan beberapa hadiah kepada Jodan dan Maria," ujar Maverick. "Baik, Tuan." * * * * * Di sisi lain . . . Desa Caspian * * * * * Jodan melangkahkan kakinya menuju sebuah rumah yang akhirnya penghuninya kembali setelah sekian lama pergi tanpa kabar. Pria itu tampak berdiri di depan pintu. Tok ! Baru satu ketukan, tiba - tiba saja pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Galnariel. "Gal- Tuan!" pekik Jodan. "Panggil aku Galnariel saja. Ada apa, Jodan?" tanya Galnariel. "Clivis sudah terhindar dari serangan Netvor," ujar Jodan. Galnariel menyunggingkan senyumannya, "Ternyata mereka berhasil. Baguslah jika begitu." "Lalu apakah kau akan pergi lagi? Nanti malam kami ada acara makan bersama karena sepertinya pasukan Vadazs akan kembali kemari." "Tidak. Aku akan pergi ke Saga sore ini. Kalian saja." "Saga? Bukankah itu tempat bangsa blood elf?" "Ya. Aku ada sedikit urusan." "Baiklah. Jaga kesehatanmu." Jodan pun pergi dari depan rumah Galnariel. Galnariel melihat kepergian Jodan sampai pria itu pergi menuju salah satu rumah lainnya yang sepertinya hendak memberikan kabar atas keberhasilan Vadazs dan juga kedatangan Maverick beserta pasukannya nanti malam. Sebelum masuk, Galnariel tampak menyunggingkan senyumannya, "Ezra pasti senang melihat keberhasilan Fin. Ini belum seberapa, karena kegelapan akan datang. Aku akan membantu sebisaku, bertahanlah wahai keturunan Ezra," gumam Galnariel kemudian kembali masuk ke dalam rumahnya untuk mempersiapkan barang - barang yang akan ia bawa pergi ke Pulau Saga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN