BAB 29

2343 Kata
Kota Clivis, Kerajaan Tessitura Pulau Amadea * * * * * Malam hari pun tiba, para pasukan Vadazs bersiap untuk melakukan pemberantasan Netvor yang menghantui Kota Clivis selama beberapa hari terakhir. Setelah kesepakatan antara Maverick dan juga Sanura sang pemimpin kota, Vadazs akhirnya bisa melakukan perintah Raja Fin untuk memberikan bantuan dalam memberantas Netvor dari Clivis. Bradley, Jasper dan Shane ikut tergabung dalam pasukan Vadazs atas izin Maverick. Sebenarnya bukan tanpa alasan, melihat Netvor yang menelan banyak korban sudah pasti pasukan Vadazs yang hanya beranggotakan sedikit orang bisa kalah telak jumlahnya. Maka dari itu Maverick memutuskan memasukan Bradley, Jasper dan juga Shane ke dalam tim mereka. Persiapan telah matang, persenjataan sudah disiapkan dan kebutuhan air untuk sebagai obat mereka yang menjadi korban masing - masing telah dibawa. "Sudah siap semua?" tanya Olivia kepada rekan - rekan pasukannya. Semua orang yang ada di ruangan itu menganggukan kepalanya, "Sudah," balas mereka bersamaan dengan semangat yang membara. Maverick tampak melilitkan ikat pinggang pedangnya dengan erat. Jika anggota yang lain hanya mengenakan 1 pedang dan juga sebuah busur panah, lain halnya dengan Maverick yang membawa 2 pedang sekaligus. Padahal pedang - pedang yang dibuat oleh kerajaan sangat berat, bahkan tak pernah ada sejarahnya pedang di sana terasa ringan. Sata mengayunkan pedang saja sangat terasa bagaimana beratnya pedang - pedang itu. Tetapi Maverick bisa menggunakan 2 pedang sekaligus dan pedang di punggungnya bukanlah sebuah beban yang bisa menyurutkan semangatnya. "Bradley, Shane, Jasper, kalian sudah bawa airnya?" tanya Maverick. Ketiga orang itu menganggukan kepalanya, "Sudah, Tuan." "Bagus. Kita akan berburu sekarang. Air itu tidak akan membunuh Netvor tapi bisa menyelamatkan kalian. Oleh karena itu, tetaplah hati - hati. Tugas kita malam ini akan berjalan sampai esok pagi, tetaplah semangat," ujar Maverick kepada yang lainnya juga. "Baik Tuan!" "Tetap jaga keselamatan yang paling utama. Jika kalian merasa lelah, mundur saja namun jangan sampai ada Netvor yang ikut kemari. Sanura bisa dalam bahaya," tambah Maverick. Sanura yang melihat persiapan Maverick dari ambang pintu hanya menyilangkan tangannya di depan d**a sembari menatap pasukan Vadazs. Setelah mendapatkan pesan - pesan terakhir sebelum bertempur memburu Netvor, pasukan Vadazs satu persatu keluar dari ruangan sana. Maverick menghentikan langkahan kakinya saat melewati Sanura, "Sebaiknya kau tidur nyenyak saja. Kami akan pastikan malam - malam akan menjadi damai dengan kehadiran pasukan kami," ujar Maverick. Sanura menganggukan kepalanya dan tersenyum, "Baiklah." "Aku pamit." Belum sempat Maverick pergi, tiba - tiba Sanura menarik tangan Maverick hingga pria itu berhenti melangkah. "Kenapa?" tanya Maverick. "Hati - hati," ujar Sanura. "Tentu." Maverick melanjutkan perjalanannya ke arah luar rumah Sanura, ikut bersama dengan pasukan Vadazs lainnya. Setibanya di luar rumah Sanura, Maverick bisa merasakan guncangan tanah yang tidak terlalu keras namun tetap terasa. "Mereka datang," gumam Dominic. Maverick mengeluarkan pedang peraknya dari sarungnya dan berdiri di depan pasukan Vadazs. Ssrrrruuuuggghh ! Tiba - tiba saja Netvor muncul di hadapan mereka. Orang yang belum pernah melihat Netvor tampak tersentak namun tidak dengan dengan Maverick. Maverick mengerenyitkan keningnya dan dalam satu kali langkahan kaki, Maverick langsung berlari ke arah Netvor yang mengulurkan tangannya ke arah Maverick kemudian . . . . "Elf! Elf!" pekik sang Netvor yang bersuara. Namun . . . . Ctassss ! Pedang perak Maverick langsung menebas leher Netvor itu hingga kepalanya terjatuh ke tanah. Satu persatu Netvor muncul di malam hari. Pancingan Maverick untuk mengeluarkan sihirnya agar auranya tersebar berhasil. Netvor terpancing dan dengan cepat diberantas oleh bangsa Netvor satu persatu. "Aaargggh!" pekik salah seorang pasukan yang tiba - tiba saja terdengar. Maverick menoleh dan mendapati salah seorang pasukannya yang digigit kakinya oleh Netvor. Sontak saja Maverick berlari ke arah sana dan menebas lehernya. Tangan Maverick terulur dan membantu bawahannya berdiri, "Kau baik - baik saja?" tanya Maverick. Orang itu mengangguken kepalanya kemudian mengeluarkan botol air yang ia bawa dan digunakan untuk menyiram luka yang diakibatkan oleh Netvor. "Jangan lengah," ujar Maverick. "Baik Tuan!" Netvor mulai bermunculan, yang tadinya jumlahnya hanya belasan menjadi puluhan. Maverick berdiri dan berteriak, "Tutup aura kalian sekarang, cukup kita berantas Netvor yang ada di depan kita sekarang malam ini! " titah Maverick kepada pasukan Vadazs. "Baik, Tuan!" balas yang lainnya. Suara pedang beradu dengan suara gemuruh. Netvor - netvor itu berteriak. Meski tak jelas, yang pasti Maverick bisa mengerti jika Netvor itu menyebut elf berulang kali. Seolah - olah memang para Netvor itu tahu jika mangsa mereka adalah bangsa elf yang lemah. Dan hebatnya lagi, para Netvor menyerang desa yang bahkan minim untuk mengalahkan mereka. * * * * * Satu jam . . . Dua jam . . . Tiga jam . . . Empat jam . . . Lima jam . . . Enam jam . . . Tujuh jam . . . Delapan jam . . . Sembilan jam . . . Sepuluh jam . . . Sebelas jam . . . Dua belas jam . . . Dua belas jam pun berlalu. Para Netvor yang bermunculan sebanyak 70 itu berhasil di berantas oleh pasukan Netvor. Awalnya hanya beberapa, kemudian semakin bertambah. Matahari mulai menunjukan sinarnya dan Netvor yang berhasil kabur dibiarkan pergi. Seluruh pasukan Vadazs kelalahan. Beberapa di antara mereka banyak yang cedera dan bahkan kehabisan air yang mereka bawa. "Tuan, sebelah sini!" pekik Olivia yang mengajak Maverick ke arah lain. Shane terluka parah, punggungnya mendapatkan luka besar. Maverick langsung berjongkok di hadapan Shane dan menuangkan airnya yang masih utuh. "Te - terima kasih, Tuan!" ujar Shane. Setelah menuangkan air, Maverick kembali berdiri sembari menutup tutup botolnya, "Bisa berdiri?" tanya Maverick sembari mengulurkan tangannya. Shane membalas uluran tangan Maverick dan berdiri, "Bi - bisa Tuan!" Dari kejauhan, Jasper dan Bradley datang ke arah Shane dan langsung memegangi tubuh Shane. Wajah Shane terlihat puncak. "Untuk malam ini kita cukupkan. Ini baru di daerah depan saja, kita harus berkeliling dan memastikan Netvor itu pergi dari Clivis dan bahkan tidak kabur ke hutan," ujar Maverick. "Apa sebaiknya kita beritahu ke Sanura agar menutup jalur di sekitar Clivis?" tanya Olivia. "Ide bagus, sekarang kita kembali ke rumah Sanura," balas Maverick. Pasukan Vadazs ditarik mundur dan kembali ke rumah Sanura. Beberapa dari mereka tampak selamat dan tanpa luka, tetapi ada juga yang cedera dan bahkan sampai bajunya robek akibat terbakar kekuatan Netvor. Lebih tepatnya seperti racun yang dikeluarkan oleh Netvor hingga kulit mereka bisa terluka seperti dahan pohon yang dibakar dan dengan api yang masih menyala. Di depan rumah Sanura, rupanya Sanura sudah berdiri dengan beberapa rakyat Clivis lainnya yang langsung membantu kedatangan pasukan Vadazs. "Bradley!" pekik salah seorang wanita yang langsung berlari ke arah Bradley saat melihat kehadiran Bradley. Wanita itu segera memeluk Bradley dengan erat. "Viviane!" balas Bradley dan ikut memeluk wanita itu dengan erat. Bradley melepas pelukannya dan menatap wanita itu dari atas kepala sampai ujung kaki, "Kau baik - baik saja kan?" Bukannya menjawab, Viviane justru menangis, "Astaga aku pikir kau sudah mati!" pekik Viviane. "Aku disini," ujar Bradley dan kembali memeluk Viviane, istrinya. Maverick berjalan ke arah Sanura dan langsung disambut oleh Sanura. "Syukurlah kalian selamat," ujar Sanura. "Terima kasih sudah menanti kepulangan kami di depan rumah," ujar Maverick. Sanura mengangguk, "Ayo kita masuk. Para rakyat Clivis membuatkan hidangan laut untuk kalian," ujar Sanura. Pasukan Vadazs bersorak mendengarnya. Bagaimana tidak, setelah selama semalaman mereka bertempur melawan Netvor dan bahkan sampai terluka. Energi mereka habis seketika, dan ketika diberitahukan mereka dihidangkan dengan makanan laut, tentu saja mereka bersorak. Sanura dan Maverick masuk lebih dulu, lalu diikuti dengan pasukan Vadazs lainnya dan juga rakyat Clivis yang rupanya ikut menanti kedatangan para pasukan Vadazs. * * * * * Di atas meja makan, Maverick bisa melihat hidangan yang sangat banyak. Bahkan jumlahnya lebih banyak dibandingkan hidangan kerajaan yang biasa ia lihat. "Ini semua untuk kami?" tanya Maverick. "Tentu saja. Mereka semua memberikan ini untuk kalian. Kalian pasti lelah. Cepat ambil duduk," ujar Sanura sembari berjalan ke arah tempat duduknya. Olivia segera mengambil tempat duduk di samping Maverick dan memposisikan tubuhnya dengan nyaman. Di sisi lain, Bradley yang baru saja bertemu dengan istrinya padahal telah pulang sejak kemarin langsung menghabiskan waktu berdua dengan makan bersama. Viviane tak henti - hentinya memperhatikan Bradley dan tak ingin suaminya terluka walau hanya sedikit. Tak hanya pasukan Vadazs saja, rakyat Clivis yang datang pun ikut makan bersama mereka di atas meja yang begitu besar dan tersaji hidangan yang sangat banyak. "Tuan, apa anda mau ikan ini?" tanya Olivia sembari memberikan ikan ke hadapan Maverick. Maverick mengangguk, "Tentu. Tolong letakkan di atas piringku," ujar Maverick. Olivia bersemangat dan meletakkan ikan itu di atas piring Maverick. Maverick mulai menyantap makanannya. Di saat ia sedang makan, ia melirik ke arah Olivia yang tampak kesulitan membuka kerang. Tanpa berbicara apapun, Maverick mengambil alih kerang yang sedang berusaha dibuka oleh Olivia dan membantunya. Krek ! Kerang itu langsung terbuka dan ia berikan kepada Olivia. "Te - terima kasih, Tuan!" ujar Olivia. Rasanya otaknya berhenti bergerak saat Maverick tiba - tiba saja membantunya bahkan tanpa berkata - kata apapun. "Ngomong - ngomong, apakah pasukan Vadazs kekurangan orang?" tanya Sanura. Maverick menoleh ke arah Sanura dan semua orang ikut terdiam. "Maverick?" panggil Sanura. Maverick mengeluarkan duri ikan dari dalam mulutnya baru membalas pertanyaan Sanura, "Sebenarnya begitu. Melihat banyaknya Netvor yang mengisi Clivis," balas Maverick. "Syukurlah. Kebetulan dari Clivis, kami ingin menawarkan bantuan. Apa kau bersedia, Maverick?" tanya Sanura. Maverick mengedarkan pandangannya kemudian menatap orang - orang yang ada di meja makan. Rupanya mereka adalah orang - orang yang hendak tergabung ke dalam pasukan Vadazs untuk ikut memberantas Netvor. "Kalian yakin?" tanya Maverick kepada orang - orang Clivis. Mereka semua langsung menganggukan kepalanya. "Saat kami mendengar ada pasukan kerajaan yang diutus untuk memberantas makhluk aneh yang ada di Clivis, kami sempat merasa tak yakin. Apa lagi kalian sempat mengirimkan 2 orang yang justru menjadi korban. Tapi hari ini kalian berhasil kembali dengan selamat, dan ditambah kota ini juga menjadi tempat tinggal kami. Tak ada salahnya kan kami masuk ke dalam pasukan Vadazs?" ujar salah seorang warga Clivis. "Benar, Tuan! Kami bertekad untuk membantu," ujar salah seorang yang lainnya lagi. Maverick menghela napasnya, "Kalian yakin? Nyawa menjadi taruhan. Malam ini bisa saja kami selamat, entah dengan besok, lusa, minggu depan atau di waktu mendatang lainnya," ujar Maverick. "Kami yakin!" sahut Viviane. Bradley tersentak, "Viviane? Kau ikut?" Viviane menganggukan kepalanya. "Aku mau Clivis kembali damai. Mungkin dengan bantuan kami, kami bisa mempercepat pemberantasan Netvor," ujar Viviane. "Baiklah. Tapi sebelum itu aku mau meminta sesuatu," ujar Maverick. Maverick pun kemudian memberitahu jika Clivis harus membangun tembok agar tak ada Netvor yang datang baru dan bahkan kabur dari Clivis. "Bagaimana?" tanya Maverick setelah memberikan permintaannya. "Kami akan membangunnya siang ini dan mungkin butuh waktu yang cukup lama. Tapi kami akan melakukannya," ujar salah seorang rakyat Clivis. "Baiklah. Kalau begitu aku akan membagi rakyar Clivis yang akan membantu pasukan kerajaan. Akan ada yang membangun tembok dan ada yang ikut berperang langsung. Bagaimana?" sahut Sanura. Semua orang tampak setuju. Hal ini juga akan mempercepat agar Netvor menghilang dari Clivis. Tapi sebelum itu, Maverick pun harus membagi beberapa wilayah yang akan menjadi tempat buruan setiap malam. Bahkan sepertinya mereka tidak bisa memberantas Netvor hanya dalam waktu singkat. Butuh waktu yang cukup lama untuk memberantas Netvor itu. "Oke, nanti aku akan bagikan tugasnya sekaligus mempersiapkan persenjataan. Karena anggota baru tentu butuh s*****a," ujar Maverick. Para rakyat Clivis tampak senang melihat Maverick yang mau menerima bantuan mereka. Meski mereka belum pernah memegang pedang, tetapi Maverick akan memberikan pelatihan. Di siang hari mereka akan berlatih dengan boneka jerami dan malam harinya akan memberantas Netvor itu. * * * * * Setelah selesai sarapan bersama, pasukan Vadazs yang tadi malam bertugas pun tidur dengan nyenyak di dalam kamar yang sudah disiapkan oleh Sanura. Sedangkan Maverick justru masih tetap terjaga sembari membagi tugas rakyat Clivis yang hendak bergabung. Mereka harus membuat s*****a, membangun tembok dan menerima pelatihan. Tentu saja hal itu tidak mudah, mengingat Clivis bukanlah kota yang kecil. Sanura berjalan menghampiri Maverick yang massih berkutat dengan buku kecilnya di ruang tengah, wanita itu kemudian duduk di samping Maverick sembari memperhatikan wajah Maverick yang tampan. "Kau sudah menikah?" tanya Sanura tiba - tiba. Maverick menoleh dan menyunggingkan senyumannya, "Apa aku tampak tua?" tanya Maverick. "Tidak juga. Kau tampan." "Tampan?" Maverick menaikkan sebelah alisnya dan menggelengkan kepalanya. "Abaikan pertanyaanku. Aku hanya penasaran," ujar Sanura. "Aku belum menikah. Aku menunggu temanku menikah." Sanura tertawa, "Apa? Temanmu?" "Ya, Raja Fin. Aku bertekad memperkenalkan dia pada seorang wanita." "Astaga bukan main! Kau berteman dengan Raja?" "Ya. Sudah ribuan tahun." "Bagaimana peringai Raja? Aku dengar dia orang yang suka membaca dan berlatih sihir di sore hari." "Tidak juga. Dia lebih banyak makan dan menikmati pemandangan di sore hari." "Menarik." Maverick hanya menganggukan kepalanya. Setelah selesai membagi tugas dan persiapan selama beberapa waktu ke depan, Maverick pun kembali menutup buku. "Sudah selesai?" tanya Sanura. "Sudah, aku mau istirahat." "Silakan. Jika butuh sesuatu, aku ada di lantai 2." "Terima kasih." Baru saja Maverick hendak beranjak dari sana, mata Maverick justru tertuju pada sebuah lukisan yang ada di ruangan itu. Kakinya pun melangkah ke arah sana dan melihat lukisan itu dari jarak dekat. "Lukisan keluarga kerajaan, ya?" gumam Maverick. Sanura yang berdiri di belakangnya mengangguk, "Keluargaku sangat patuh terhadap keluarga kerajaan. Bahkan menyimpan lukisan ini. Mereka berpesan untuk tidak membuangnya." Maverick mengangguk, tiba - tiba matanya memicing saat melihat lukisan keluarga Ezra yang dimana di sana terdapat Marie dan juga Morrigan serta seorang pria lainnya. "Ini siapa?" tanya Maverick sambil menunjuk sebuah wajah yang seperti terbakar. Wajah seorang pria yang berdiri tepat di samping Morrigan. "Entahlah. Orang tuaku bilang pria itu adalah asisten Raja Ezra dahulu," ujar Sanura. Maverick menganggukan kepalanya tapi sembari mencari jawaban dalam benaknya. "Sejak kapan lukisan keluarga kerajaan dan ajudan ikut ke dalamnya? Bahkan pakaian yang dikenakan memiliki kualitas yang sama dengan Raja Morrigan," gumam Maverick di dalam hatinya. Maverick tahu betul jika ajudan kerajaan pertama adalah Galnariel. Galnariel sendiri menghilang tepat setelah Ezra memutuskan untuk tidur abadi. Setelah Morrigan menjadi Raja, Galnariel hilang seperti ditelan bumi. Tapi Maverick tidak mau ambil pusing, ia pun meninggalkan tempat berdirinya dan akhirnya pamit dengan Sanura untuk beristirahat. Walau sebenarnya ia sangat penasaran siapa orang yang wajahnya dibakar di dalam lukisan kerajaan itu. Jika dilihat dari fotonya, Morrigan masih tampak sangat muda dan belum menikah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN