BAB 31

1166 Kata
Istana Tessitura Pulau Amadea Pemerintahan Raja Ke - 3 High Elf, Fingolfin Sie Amblaibh * * * * * Keberangkatan Maverick dan pasukan Vadazs dari Kota Clivis menuju Desa Caspian membutuhkan waktu sampai 12 jam. Dan benar saja, Maverick beserta yang lainnya pun kembali beristirahat di Desa Caspian. Jodan dan Maria ikut merayakan keberhasilan Maverick dan pasukannya dalam mengusir Netvor namun lagi - lagi mereka tak bisa bertemu dengan pendiri Desa Caspian, yang kata Jodan sedang ada urusan mendesak. Lalu keesokan paginya, Maverick dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan menuju Istana Tessitura. Sampai akhirnya mereka tiba sore ini di depan Istana Tessitura yang megah. Akhirnya, setelah 2 tahun berlalu dalam melaksanakan tugasnya, Maverick pun kembali ke tempat dimana ia seharusnya berada. Kedatangan pasukan Vadazs yang kini hanya menyisakan 7 orang, langsung disambut baik. Gerbang kerajaan yang semula tertutup langsung terbuka saat sang penjaga gerbang mengenali energi sihir milik Maverick. "Pasukan Vadazs dari Clivis telah kembali!" pekik sang penjaga gerbang sembari membuka gerbang kerajaan dan mempersilakan kereta kuda yang membawa pasukan Vadazs masuk ke dalam area istana. Suasana berubah menjadi ricuh. Pelayan kerajaan berlarian ke arah gerbang untuk menyambut kedatangan Maverick beserta pasukan Vadazs. Berita itu pun sampai terdengar ke telinga Fin yang sedang asik membaca buku di ruang baca. Atlas yang berada di taman pun turut mendengarnya. Luna menoleh ke arah Atlas kemudian menganggukan kepalanya, begitu juga dengan Winter yang sedang bersama dengan Fin. "Tuan Maverick telah kembali bersama dengan pasukan Vadazs yang tersisa," ujar Winter kepada Fin. Sontak saja Maverick langsung menutup buku yang sedang ia baca dan berlarian ke arah luar kerajaan. Saat sampai di gerbang pintu utama, Fin berpapasan dengan Atlas yang rupanya berlarian dari arah belakang taman istana menuju pintu utama. "Tuan," sapa Atlas sembari memberikan salamnya kepada Fin. Fin mengangguk kemudian melempar pandangannya. 3 buah kereta kuda datang ke arah gerbang pintu utama kerajaan. Menghampiri Fin yang sedang berdiri di ambang pintu kerajaan lengkap dengan jubahnya. Kereta kuda yang pada 2 tahun lalu pergi sebanyak 7 buah, kini hanya tersisa 3 kereta. Fin sudah bisa menduga jika pasukan yang ia buat sudah pasti tidak bisa bertahan semua. Tetapi sebuah keajaiban datang. Orang yang paling Fin harapkan untuk tetap hidup akhirnya bertahan. Bahkan pulang dalam keadaan sehat tanpa luka sedikit pun. Kereta kuda yang ditumpangi oleh Maverick berhenti lebih awal. Pintu pun terbuka dan Maverick turun dari sana. Wajahnya dengan penuh senyuman langsung menatap Fin dan juga Atlas. Tanpa menunggu izin, Maverick langsung memeluk 2 pria yang paling ia sayangi dalam hidupnya. "Akhirnya kau pulang," ujar Fin sembari menepuk bahu Maverick. Satu persatu pintu kereta kuda terbuka. Pasukan Vadazs yang tersisa pun turun dari sana. Dari 20 orang, hanya tersisa 7 orang yang selamat. Mereka adalah Maverick, Olivia, Dominic, Kenzo, Stephen, Nikki dan Rose. Masing - masing keluarga dari Dominic, Kenzo, Stephen, Nikki dan juga Rose langsung memeluk kedatangan anak mereka. Sedangkan orang tua mereka yang tak bertemu anak mereka langsung menunduk. Mereka tahu itu berarti anak mereka tak selamat. Melihat para orang tua bersedih, Olivia pun menghampiri para orang tua dan menghibur mereka. "Anak Anda adalah anak yang paling hebat di pasukan Vadazs. Jika anda tersenyum, pasti anak anda akan bahagia melihatnya," ujar Olivia sembari memeluk para orang tua yang bersedih itu satu persatu. "Terima kasih," ujar mereka. Fin menatap para orang tua yang bersedia kemudian Olivia pun ikut menoleh. Sadar jika Fin dan Olivia saling melempar tatapan, Maverick pun teringat. "Banyak dari kita yang gugur. Maaf aku tidak bisa menyelamatkan mereka," ujar Maverick. Fin menepuk bahu Maverick, "Dengan kau kembali bersama yang tersisa, itu sudah lebih dari cukup," ujar Fin. "Oh ya," ucapan Maverick terputus kemudian ia beralih pada kereta kuda dan mengeluarkan jubah - jubah kerajaan pasukan Vadazs milik anggota yang gugur. Maverick pun memberikan setiap jubah itu kepada orang tua mereka. "Maafkan aku," ujar Maverick bersedih karena merasa bersalah akibat tidak bisa menolong anggotanya yang mati. Para orang tua itu justru sudah ikhlas merelakan kepergian anak mereka. "Terima kasih sudah menemaninya bahkan sampai anakku pergi dengan tidur tenangnya," ujar para orang tua itu. Fin berjalan ke arah Maverick serta orang tua dari pasukan Vadazs yang gugur. "Aku akan memberikan penghormatan khusus atas meninggalnya anak - anak kalian," ujar Fin. Sontak saja mereka tersentak, bahkan Nikki dan juga Dominic sampai menoleh. "Kalian sudah menyelamatkan Clivis. Sudah sepatutnya aku beterima kasih, kan?" ujar Fin. "Sebenarnya tidak perlu-" "Kita akan makan malam dengan minggu depan. Kita juga akan menerbangkan lampion ke udara sebagai ucapan terakhir kepada mereka yang gugur di Clivis," potong Fin. "Kenapa minggu depan?" tanya Maverick. "Karena aku mau mengundang Sanura kemari," ujar Fin. "Sanura?" "Iya. Kau mengenalnya kan." "Ya aku bertemu dengannya." "Sepertinya aku juga akan menikah dengannya." "APA?!" Maverick dan Olivia sama - sama berteriak mendengarnya. Sedangkan Fin hanya menggaruk tengkuknya yang terasa tidak gatal. "Kalau begitu aku masuk ke dalam lebih dulu," pamit Fin kemudian langsung pergi meninggalkan tempatnya. Kemudian Maverick ikut berpamitan kepada yang lainnya dan menyusul Fin ke dalam. Atlas ikut bersama dengan Maverick, sedangkan Olivia beserta yang lain membereskan barang - barang mereka untuk diturunkan dari kereta kuda. Tak lupa, mereka harus mengembalikan kuda - kuda itu seperti semula dan memberi para kuda itu untuk makan. Meski mereka sudah sempat beristirahat di Desa Caspian, tampaknya itu tentu saja tidak cukup. Persenjataan pun harus dibersihkan dan ditata ulang di divisi keamanan kerajaan. * * * * * Ruang Baca Fin Istana Tessitura, Pulau Amadea * * * * * Di sisi lain, tepatnya di ruang baca Fin, Maverick dan Atlas ikut bersama dengan Fin. Dan baru saja mereka duduk, tiba - tiba pintu terbuka dan menampilkan sosok Kaiden, Kaiden dan Maverick saling melempar pandang, Kaiden pun berlarian ke arah Maverick dan memeluk salah satu murid terbaiknya. "Akhirnya kau pulang setelah 2 tahun menghilang tanpa kabar!" ujar Kaiden sembari memeluk Maverick dengan erat. Memang benar, selama ini Maverick beserta pasukan Vadazs bahkan tak pernah memberikan kabar ke Istana. Tak ada yang tahu siapa saja yang selamat termasuk Maverick. Mereka hanya terus berharap Maverick bisa bertahan hidup dan kembali dengan selamat dan dalam kondisi apapun. "Terima kasih sudah menungguku kembali, Kaiden," ujar Maverick. Kedua pria itu pun melepas pelukan dan menatap Fin. Fin juga kebingungan menatap Maverick dan juga Kaiden yang menatapnya. Merasa canggung, Atlas pun akhirnya pamit dan akan kembali ke rumah setelah 2 tahun menetap di Istana. Tentu saja ia akan menyiapkan tempat tidur yang nyaman untuk putranya agar bisa beristirahat dengan nyaman. "Tuan, saya permisi kembali ke rumah. Sepertinya keadaan telah aman," ujar Atlas. Fin menganggukan kepalanya, "Silakan." Sebelum keluar, Atlas menepuk bahu Maverick dan berbisik kepada putranya, "Aku akan menunggumu di rumah," ujar Atlas. Maverick mengangguk, "Baik, Ayah." Setelah kepergian Atlas, Maverick kembali menatap Fin yang berusaha mengalihkan perhatiannya pada buku miliknya. Kaiden yang tak mengerti justru menatap Maverick dan Fin bergantian. "Suasana canggung macam apa ini?" tanya Kaiden. Maverick menoleh ke arah Kaiden dan menyipitkan matanya, "Kau tidak tahu?" tanya Maverick. "Apa?" "Fin ingin menikahi Sanura, sang pemimpin Clivis." "APA?!" pekik Kaiden yang tak kalah terkejut sama seperti reaksi Maverick sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN