BAB 26

1351 Kata
Desa Caspian, perbatasan antara Kerajaan Tessitura dan Kota Clivis * * * * * Di bawah sinar rembulan malam, Maverick bersama dengan Olivia pergi menyusuri hutan untuk menuju ke area sungai. Suasana Desa Caspian yang semula ramai, kini semakin sepi. Beberapa pasukan dari Vadazs pun banyak yang memutuskan untuk tidur lebih cepat dan beristirahat agar bisa menyimpan energi mereka untuk hari esok. Tapi sepertinya hal itu tak berlaku bagi Maverick dan Olivia. Olivia yang merasa tubuhnya berkeringat, lengket dan gatal mau tak mau mandi di air sungai yang mengalir di hutan. Sambil melangkahkan kakinya, Maverick menebas rumput - rumput yang tinggi dan menghalangi kakinya untuk bergerak. Sayup - sayup Olivia pun mendengar suara air mengalir namun tidak terlalu deras dan sangat tenang. "Sepertinya aku mendengar suara air mengalir," ujar Olivia kemudian berjalan mendahului Maverick dengan mengangkat kakinya lebih tinggi dan lebih lebar agar bisa sampai lebih cepat. Tangan Olivia terulur dan saat ia menyibakkan sebuah daun tanaman yang cukup lebar, akhirnya Olivia melihat air mengalir yang berada di bawah pantulan cahaya bulan purnama, Mata Olivia berbinar, dan tanpa berpikir panjang Olivia langsung mendekati sungai. "Astaga dia bahkan tidak memikirkan apakah ada Netvor di sekitar sini atau tidak," gumam Maverick kemudian berjalan menyusul Olivia. Olivia yang sudah tak sabar ingin merasakan air sungai yang segar dan sejuk langsung membuka pakaiannya dan sampai lupa jika Maverick ada di sana. "Astaga!" pekik Maverick saat melihat Olivia yang langsung membuka baju atasnya dan memperlihatkan punggungnya yang mulus. Olivia tersentak saat ia tersadar dan teringat ia bersama laki - laki. Sontak Olivia berbalik dan menutupi tubuh bagian atasnya yang sudah terekspos dengan menggunakan tangannya. Maverick yang tadi menoleh ke arah lain merasakan pipinya memanas. "Sudah sana lepas pakaianmu dan masuk ke dalam air, aku tak akan mengintip," ujar Maverick sembari mengulurkan tangannya dan memberikan isyarat kepada Olivia untuk masuk ke dalam air. "Jangan berbalik!" pekik Olivia dan akhirnya melepaskan seluruh pakaiannya, mengikat rambut panjangnya dan masuk ke dalam air. Seketika air dingin dari sungai yang berwarna biru itu langsung menyegarkan kulit Olivia. Maverick berjalan ke arah lain, mengambil sebuah daun yang bisa digunakan untuk menggosok kulit dan meruntuhkan kotoran - kotoran yang menempel. "Pakai ini," ujar Maverick sembari melemparkan daun itu kepada Olivia. Olivia dengan cepat menerimanya, "Terima kasih," balas Olivia dan kemudian menggunakan daun itu untuk membersihkan tubuhnya. Melihat Olivia yang mandi dengan air sungai dengan begitu segar terlebih dalam suasana alam yang sejuk dan tenang, Maverick pun merasa ingin ikut mandi. Alhasil saat Olivia berbalik dan tak menatap ke arahnya, Maverick melepas pakaiannya dan masuk ke dalam sungai. "Akh, ternyata segar sekali," gumam Maverick saat merasakan air sungai menerpa kulitnya. Olivia berbalik kemudian tersentak saat melihat Maverick yang sudah berada di belakangnya dan bagian bahu serta punggungnya terekspos. "Tuan!" pekik Olivia. "Hanya mandi saja. Jangan berpikir macam - macam," ujar Maverick kemudian ikut membersihkan dirinya menggunakan daun. Setelah merasa tubuhnya bersih, Maverick menenggelamkan dirinya ke dalam air dan kembali ke permukaan. Rambutnya yang semula kering kini basah akibat air. "A - aku ke atas lebih dulu. Jangan menatapku!" ujar Olivia. "Ya, silakan saja," balas Maverick dan berbalik ke arah lain. Setelah memastikan Maverick yang menghadap ke arah lain, barulah Olivia naik ke atas dan mengeringkan dirinya, kemudian kembali memakai pakaiannya dengan rapi. Olivia berbalik saat melihat Maverick yang hendak naik ke atas. Dengan cepat wanita itu berpura - pura terfokuskan kepada hal lain. Walau sebenarnya Maverick tahu jika Olivia canggung berada di dekatnya. Terlebih saat ini hanya mereka berdua di sana dan bahkan mereka sempat berada dalam jarak yang dekat tanpa mengenakan busana. Sebenarnya bukan tanpa alasan Maverick menemani Olivia yang ingin mandi di sungai. Melainkan karena Netvor yang berkeliaran dan Maverick tak ingin anak buahnya mati oleh makhluk aneh itu. Kesaksian dari Jodan pun mengatakan jika Netvor lebih aktif di malam hari di bandingkan siang hari. "Sudah selesai?" tanya Maverick. Olivia berbalik dan melihat Maverick yang sedang memasang kancing bajunya di hadapannya. "Aku sudah selesai. Ngomong - ngomong setahuku di dekat sini ada salah satu tanaman yang bisa digunakan untuk menyingkirkan makhluk sejenis Oriel yang cukup kuat," ujar Olivia sembari mengedarkan pandangannya. "Benarkah? Apa itu?" "Kacang almond." "Kacang almond?" "Iya. Kacang itu biasa digunakan untuk melawan makhluk aneh seperti target kita sekarang." "Bagaimana bisa?" "Dengan dihancurkan dan minyaknya dioleskan di pedang." Maverick menganggukan kepalanya, sebenarnya ia pernah mendengarnya tetapi ia pikir itu hanyalah mitos belaka. "Mau mencarinya disini?" tanya Maverick. "Tuan mau menemani saya? Atau sebaiknya Tuan kembali saja, saya bisa melakukannya sendiri," jawab Olivia. Bukannya menjawab pertanyaan Olivia, Maverick justru berjalan ke arah lain untuk memulai pencariannya. Alhasil Olivia tertinggal dan berlarian kecil menghampiri Maverick. Kedua orang itu berjalan ke tengah hutan, mencari pohon almond yang ada di dalam sana. Baru saja mereka beberapa langkah sedikit lebih dalam, Olivia pun menemukan tanaman yang ia maksud. "Itu dia!" pekik Olivia dan berlarian ke arah pohon kemudian mengambilnya. "Ini pertama kalinya aku melihat pohon dari buah ini," ujar Maverick. Olivia menoleh namun tangannya masih memetik buah almond yang ada di dahan. "Benarkah? Apa Tuan menyukai buah ini?" "Tidak juga. Fin yang menyukainya." "Sepertinya kalian sangat akrab." "Kami berteman sejak kecil. Itulah kenapa kami terlihat dekat." Olivia menganggukan kepalanya. Setelah mengumpulkan beberapa biji buah kacang almond, Olivia memasukkan kacang - kacang itu ke dalam sakunya. "Sudah selesai?" tanya Maverick. "Sudah, Tuan. Ayo kita kembali ke rumah Jodan dan beristirahat." Baru beberapa langkah Maverick dan Olivia berjalan meninggalkan hutan. Tiba - tiba saja mereka mendengar suara teriakan dari arah Desa. Aaaggghhh ! Sontak saja Maverick langsung berlari dan diikuti dengan Olivia. Tanpa berpikir panjang, Maverick mengeluarkan pedangnya. Langkahan kakinya terhenti, saat ia tiba di gerbang Desa Caspian. Matanya membulat melihat sosok makhluk yang ada di hadapannya. "Tuan!" pekik Olivia yang juga ikut tersentak melihat makhluk asing di hadapannya. "Netvor," gumam Maverick. "Jadi itu, makhluk itu?" Makhluk Netvor yang ada di depan mata Maverick dan Olivia tampak sedang menghisap sesuatu dari seorang elf yang ada di depannya. Olivia memicingkan matanya jika orang yang sedang dihisap energi sihirnya itu adalah pasukan Vadazs. Tanpa berpikir panjang Olivia segera berlari dan menebas lengan Netvor itu. Ctaaasss ! Brukkk ! Lengan makhluk bernama Netvor itu jatuh ke tanah. Begitu juga dengan tubuh pasukan Vadazs yang terjatuh ke tanah. "Dominic!" pekik Olivia yang langsung berlarian ke arah Dominic dan melihat tubuh Dominic yang semakin kurus. Padahal Dominic memiliki tubuh yang kekar. "Uhuk!" Dominic terbatuk dan membuka matanya. Ada sedikit napas lega dari Olivia saat melihat Dominic bernapas walau terbata - bata. "Dominic, kau baik - baik saja? Bisa dengar suaraku?" tanya Olivia. Dominic menganggukan kepalanya namun tak menjawab. Maverick melihat Netvor yang menatap Olivia dengan tatapan marah dna hendak mengincar Olivia. "Olivia, awas!" pekik Maverick kemudian berlari ke arah Netvor dan meloncat. Srek ! Taaasss ! Drug ! d**g ! d**g ! Dalam satu kali loncatan, Maverick berhasil menebas leher Netvor yang ada di hadapannya hingga terjatuh ke tanah. Olivia dan Dominic sama - sama menoleh saat mendengar suara yang cepat itu. Mata mereka membulat saat melihat Maverick yang tampak berlumuran darah karena menebas leher Netvor. "Tuan!" pekik Olivia. "Aku baik - baik saja. Urus saja Dominic," titah Maverick. "Baik, Tuan!" "Bawa dia ke rumah Jodan." Olivia pun menggendong tubuh Dominic yang lemas dan tak berdaya ke arah rumah Jodan. Sedangkan Maverick tampak membalik tubuhnya dan menatap Netvor yang baru saja ia tebas. Makhluk bernama Netvor itu perlahan menghilang seolah terbakar oleh sesuatu. Maverick mengulurkan tangannya dan berusaha merasakan aura sihir. Jika dari ciri - ciri kematiannya, seperti cara mati makhluk bangsa dark elf. Tapi sayangnya Maverick sama sekali tak merasakan aura sihir dari bangsa dark elf itu. "Aneh," gumam Maverick. Tesss ! Perlahan tubuh Netvor itu menghilang tanpa jejak. Bahkan tangannya yang semula ditebas oleh Olivia pun menghilang lebih dulu. Rasa penasaran Maverick semakin meningkat. Mengapa Netvor itu bisa menemukan mereka dan tahu jika ada kehadiran bangsa elf di sana. Karena Netvor sudah menemukan mereka, otomatis Maverick dan pasukan Vadazs yang lain mau tak mau harus meninggalkan Desa Caspian demi melindungi penduduk desa. Setelah memastikan tak ada Netvor lain yang hendak menyerang mereka, barulah Maverick menyusul ke rumah Jodan untuk memeriksa kondisi Dominic yang tadi hampir saja terbunuh oleh makhluk Netvor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN