BAB 25

1411 Kata
Perjalanan menuju Clivis * * * * * 6 jam telah berlalu, kereta kuda yang mengangkut seluruh pasukan Vadazs menuju Clivis telah berada di perbatasan kota menuju Kota Clivis. Karena banyaknya barang - barang dan persenjataan yang dibawa, kecepatan pun menurun drastis. Padahala jika mereka menggunakan kuda dari Istana ke Kota Clivis, mereka bisa tiba lebih cepat dari biasanya. "Tuan, apakah sebaiknya kita beristirahat dan membangun tenda dulu di hutan?" tanya Olivia yang melihat matahari terbenam. Mengingat para Netvor itu berkeliaran di sana, sangat tak mungkin jika mereka tetap melanjutkan perjalanan menuju Clivis di tengah kegelapan malam. Maverick mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang cocok untuk mereka beristirahat, matanya memicing kemudian menunjuk sebuah tempat yang cocok. "Kita ke sana, kita akan membangun tenda dan bermalam di hutan ini," ujar Maverick. "Baik, Tuan, akan aku sampaikan ke kereta yang lain," ujar Olivia kemudian turun dari kereta kuda dan menyampaikan pesan untuk beristirahat malam ini di tempat yang ditunjuk oleh Maverick barusan. Kereta kuda yang ditumpangi oleh Maverick tiba lebih dulu, begitu juga dengan 3 kereta kuda lainnya yang ikut di belakangnya. Satu per satu kereta kuda disejajarkan dan setelah para elf dari pasukan Vadazs itu turun, mereka pun mengikuti Maverick untuk membangun tenda dengan menggunakan kekuatan sihir mereka. Pembagian tugas dilakukan, sebagian dari mereka membangun tenda dan sebagian lagi mengurus kuda - kuda yang kelelahan karena membawa barang bawaan cukup berat selama 6 jam tanpa henti. Tiba - tiba saja di saat Maverick sedang membangun tenda, ada seorang rakyat elf biasa yang datang menghampiri mereka. Olivia sempat tersentak, dan Maverick yang merasakan aura sihir dari orang itu ikut menoleh. Karena aura sihir dari elf yang tiba - tiba datang itu tak begitu besar, Maverick bisa tahu jika elf yang mendatanginya bukanlah sebuah ancaman. "Tuan, ada seseorang," bisik Olivia. Maverick berbalik dan melangkahkan kakinya menghampiri orang asing tersebut. "Maaf jika saya mengganggu. Saya kemari karena mendengar rintihan kuda dan suara berisik," ujar orang itu dengan pakaian yang tampak lusuh, sangat jelas jika dia sepertinya bukan orang dari kerajaan yang terkenal dengan pakaian yang rapi. "Tidak apa - apa. Apakah anda dari Clivis?" tanya Maverick. "Saya Jodan, penghuni dari Desa Caspian," ujar pria yang bernama Jodan itu. "Desa Caspian?" gumam Maverick karena ia tak begitu ingat ada nama tempat seperti itu di Pulau Amadea. "Desa kecil yang ada di perbatasan antara kerajaan dengan Clivis. Secara kebetulan satu persatu orang keluar dari Clivis sebelum p*********n itu terjadi, dan akhirnya membangun sebuah rumah - rumah kecil. Apa kalian mau bermalam di Desa kami?" tanya Jodan. Maverick menoleh ke arah rekan - rekannya yang memang tampak kesulitan. Beberapa dari mereka tentu kelalahan di perjalanan. "Desa itu memang desa kecil, tidak banyak yang tahu karena hanya dihuni oleh beberapa orang saja. Dan kebanyakan dari mereka sudah tua," sahut Bradley. Maverick menganggukan kepalanya, "Baiklah, kami akan bermalam di sana." Jodan tampak tersenyum senang mendengarnya. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kalinya Caspian, sebuah desa kecil menerima tamu. Desa Caspian adalah tempat yang dibentuk secara tidak sengaja. Desa itu hanya berisikan belasan orang di dalamnya yang sudah berumurm lebih dari 1000 tahun. Bagi elf biasa yang tidak mendapatkan keberkahan dari Raja tentu saja hal itu adalah hal yang sangat biasa dan dihitung sudah tua. Kini pasukan Vadazs pun berangkat kembali menuju Desa Caspian yang terletak di balik hutan. Tempat itu benar - benar hanya diisi oleh beberapa rumah saja. Bahkan para penduduknya langsung menyambut kedatangan pasukan Vadazs yang baru saja tiba. Kuda - kuda yang tadi sudah dilepaskan dari kereta pun dibiarkan dibawa dengan dituntun saja, sedangkan kereta barang digerakan dengan menggunakan kekuatan sihir pasukan Vadazs. "Selamat datang di Caspian," sapa salah seorang wanita dengan wajah pucat. Meski sinar matahari tak lagi terang seperti saat di siang hari, Maverick bisa melihat wajah para penghuni Desa Caspian yang tersenyum menatapnya. Langkahan kaki Maverick terhenti saat Jodan yang ada di depannya juga terhenti. "Ini adalah rumah pertama, di dalam sana ada sekitar 5 kamar. Mungkin bisa ditempati oleh separuh dari kalian," ujar Jodan. Maverick mengangguk kemudian memberikan perintah agar 10 orang ditempatkan di sana. Karena halamannya cukup luas, jadi kuda - kuda pun diletakkan di depannya, begitu juga dengan persenjataan mereka. Lalu 10 orang sisanya pun ikut bersama dengan Jodan lagi dan langkahan kaki mereka kembali berhenti saat seorang wanita menghadang Jodan di depannya. "Maria, menyingkirlah. Mereka adalah orang - orang dari istana yang ingin istirahat," ujar Jodan. Wanita bernama Maria itu tersenyum kemudian menghampiri Bradley dan memeluk lengannya, "Tidurlah di rumahku. Kalian juga. Jika semua tidur di rumah Jodan pasti akan sangat sempit," ujar Maria. Jodan menoleh kemudian menganggukan kepala, "Baiklah kau boleh menjamu mereka." Maria tersenyum senang kemudian mengajak 3 orang dari Clivis dan 5 orang dari pasukan Vadazs untuk bermalam di rumahnya. Sekarang tinggal Maverick dan juga Olivia. "Kalian bermalam di rumahku yang sempit, tidak apa - apa?" tanya Maverick. "Tidak apa - apa, Tuan," balas Olivia. "Jangan memanggilku seperti itu. Bagaimana pun derajat kalian lebih tinggi dari aku. Panggil aku Jodan saja," balas Jodan. Jodan beserta Maverick dan Olivia masuk ke dalam sebuah rumah yang ukurannya memang jauh lebih kecil. Di dalam sana Maverick bisa melihat beberapa barang yang biasa digunakan oleh Jodan. "Aku tinggal sendiri setelah kepergian istriku dan kebanyakan masyarakat elf yang tinggal di Desa ini adalah orang - orang yang kesepian tapi masih ingin bersosialisasi, bisa dibilang kami adalah orang yang terbuang," ujar Jodan sembari menyiapkan air minum untuk Maverick dan juga Olivia. Olivia tampak tersentak, begitu juga dengan Maverick yang sama - sama terkejut karena ada tempat seperti ini. Bahkan Desa Caspian tidak pernah terdaftar keberadaannya ke Istana. "Apakah rumah tadi tidak dihuni?" tanya Olivia yang bertanya tentang rumah pertama dengan ukuran yang paling besar dibandingkan dengan rumah lainnya. "Iya. Itu dulunya adalah rumah Morbius. Dia adalah pemimpin dari Kota Clivis 500 tahun yang lalu. Dia memutuskan menua seorang diri karena istrinya meninggal tepat beberapa tahun sebelum menikah. Morbius juga tak memiliki seorang anak. Jadi rumah itu kosong. Ia hanya berpesan, siapapun boleh menempati rumah itu dan tidak perlu segan," ujar Jodan. Maverick menatap sekitarnya, namun kemudian Jodan berdiri dan membuka sebuah pintu kamar yang ia tunjukan kepada Maverick dan Olivia. "Karena kau perempuan, mungkin kau akan tidur di kamar sedangkan kau yang laki - laki bisa tidur bersamaku," ujar Jodan. Olivia menganggukan kepalanya. "Maaf rumah ini sangat kecil. Padahal aku paling tidak memiliki apapun disini tetapi mereka mempercayakan Desa kecil ini kepadaku," ujar Jodan sembari tersenyum dan berjalan ke arah Maverick serta Olivia. Maverick bergeser dari tempat duduknya dan mendekati Jodan yang baru saja duduk, "Panggil aku Maverick," ujar Maverick sembari mengulurkan tangannya. Jodan pun membalas jabatan tangan Maverick dan pria itu bisa merasakan bagaimana kekuatan sihir Maverick yang sangat kuat di dalam tubuhnya. "Tubuhmu kekar, sihirmu kuat, pantas saja kau berani pergi menuju Clivis yang sedang diserang oleh makhluk aneh," ujar Jodan. Olivia mengangkat sebelah alisnya, "Apakah anda tau?" "Tentu saja. Beberapa waktu lalu sebenarnya rumah kami sudah lebih dulu menjadi korban. Tetapi sepertinya energi sihir kami tidak memuaskan dahaga makhluk itu. Makhluk itu pergi dengan sendirinya," ujar Jodan. "Pergi? Jadi mereka sempat kemari?" tanya Olivia lagi. "Benar. Makhluk itu pergi begitu saja. Saat melihat pasukan kalian, aku berpikir pasti kalian dikirim dari kerajaan untuk membasmi makhluk aneh itu." "Benar, kami datang untuk itu." Maverick kemudian terpikirkan sesuatu, jika menyembunyikan energi sihir adalah salah satu jalan untuk mengusir Netvor, seharusnya Maverick bisa membuat sebuah selubung yang sama dan menggunakan sihirnya agar bangsa elf tidak terlihat kekuatannya. "Istirahat lah. Kalian masih harus melanjutkan perjalanan kan besok?" Jodan bangkit dari duduknya begitu juga Olivia. "Terima kasih sekali lagi," ujar Olivia. "Aku istirahat lebih dulu," ujar Jodan kemudian masuk ke dalam kamar. Setelah Jodan masuk, Olivia tampak merenggangkan tubuhnya. "Tuan, apa anda lelah?" tanya Olivia kepada Maverick. Olivia bisa melihat bagaimana Maverick yang tampak berpikir tentang sesuatu. "Tidur duluan saja, nanti aku akan tidur dengan Jodan," titah Maverick. "Saya sepertinya akan mandi dulu. Saya sudah beberapa hari tidak mandi," ujar Olivia. Maverick hanya menganggukan kepalanya. Setelah mendapatkan persetujuan dari Maverick, Olivia pun pergi ke arah belakang rumah. Namun langkahan kakinya terhenti saat ia menyadari tak ada kamar mandi di rumah itu. Tiba - tiba pintu kamar Jodan kembali terbuka, pria itu memperlihatkan kepalanya melalui celah pintu yang terbuka. "Oh ya aku lupa, jika kalian mau mandi atau buang air kecil, bisa pergi ke sungai yang ada di sebelah utara," ujar Jodan. "Su - sungai?" gumam Olivia. Maverick mengangguk, "Terima kasih atas pemberitahuannya." Jodan kembali menutup pintu. Sedangkan Olivia melempar tatapannya kepada Maverick. "Mau aku temani?" tanya Maverick.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN