Keesokan harinya
di Desa Caspian
* * * * *
Pagi hari pun tiba. Rumah Jodan tampak dipenuhi oleh para pasukan Vadazs yang memenuhi di depannya. Berita tentang Dominic yang terkena serangan Netvor sampai ke telinga seluruh pasukan. Bahkan beberapa di antara mereka merasa takut dan ingin rasanya mundur dari pasukan.
Bahkan sebagian dari pasukan yang ada di luar ingin melihat kondisi Dominic. Tak jarang dari mereka yang bergumam karena takut dengan Netvor dan ingin menyerah sebelum perang dimulai.
"Rasanya aku semakin takut."
"Benar."
"Aku ingin pulang."
"Tolong aku belum siap mati dan menghadapi ini semua.'
"Kenapa aku merasa berada di ambang batas kematian."
Puluhan, ah tidak bahkan ratusan ucapan masuk ke dalam telinga Maverick.
Maverick berdiri dari duduknya dan membuat para pasukan Vadazs tersentak. Padahal pria itu sedari tadi duduk diam dan hanya memejamkan mata sambil menyilangkan kedua tangannya di depan d**a.
Maverick membuka matanya dan menatap pasukan Vadazs yang ada di hadapnnya. Tatapannya tampak mengintimidasi.
Sedangkan Olivia yang masih merawat Dominic di sampingnya hanya menoleh dan kembali memulihkan kekuatan Dominic dengan menggunakan sihirnya.
"Jika kalian merasa takut, kalian bisa mundur dari sekarang," ujar Maverick.
Para pasukan Vadazs terdiam.
"Ada yang mau kembali pulang ke Istana Tessitura? Silakan saja. Aku tak akan memaksa kalian melanjutkan perjalanan," ujar Maverick lagi.
Mendengar Maverick yang buka suara dan merasa semua ini akibat dari kesalahannya, Dominic pun berusaha mengulurkan tangannya dan meraih celana yang dikenakan oleh Maverick.
Orang - orang terdiam, termasuk Olivia.
"T - tuan," panggil Dominic terbata - bata.
Maverick menoleh dan kembali duduk, "Kau istirahat saja di rumah Pak Jodan sampai urusan berakhir. Tak perlu memikirkan kami, kondisimu sangat parah," ujar Maverick.
"Maafkan aku, Tuan. Tadi malam aku berpikir hanya akan berjalan sebentar dan tak memikirkan jika ada Netvor yang berkeliaran. Aku sangat ceroboh dan ini semua akibat kesalahanku," ujar Dominic berusaha sekuat tenaga memberitahu apa yang terjadi tadi malam.
Olivia yang penasaran pun mendekati Dominic dan bertanya kepadanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam, Dominic? Bisakah kau beritahu kepada kami?" tanya Olivia.
Dominic menganggukan kepalanya dan berusaha duduk. Olivia pun dengan cepat membantu Dominic untuk duduk. Kondisinya sudah mulai membaik dan perlahan pulih akibat bantuan dari sihir Olivia yang mampu meregenerasi kemampuan Dominic agar kembali seperti sedia kala.
"Tadi malam aku keluar dengan maksud mencari udara segar. Karena merasa bosan, aku berlatih kemampuan sihirku pada sebuah batu, tapi tiba - tiba saja aku merasa tanah berguncang dan Netvor itu hadir di depanku. Aku tak tahu dari mana mereka muncul tapi sepertinya Netvor muncul di saat aku lengah," ujar Dominic.
"Apa ada kemungkinan Netvor berpindah dengan menggunakan tanah dan ada di bawah sana?" tanya Maverick.
"Sepertinya tidak, Tuan. Tak ada galian tanah. Aku merasa Netvor bisa merasakan energi sihir yang aku keluarkan," jawab Dominic.
Olivia pun teringat saat tadi malam ia juga merasakan guncangan tanah namun tak begitu terasa besar.
"Jadi mereka bisa merasakan aura sihir yang kita keluarkan ya?" gumam Olivia.
"Be - benar, Olivia," jawab Dominic.
Olivia kembali mengobati Dominic yang terluka.
Tiba - tiba saja pintu kamar Jodan terbuka dan menampilkan sosok pria yang berpakaian sama persis seperti tadi malam.
Maverick bahkan tidak tahu sejak kapan Jodan terbangun, "Maaf menganggu tidurmu di pagi hari. Aku tidak tahu mereka semua berkumpul saat mendengar berita tentang Dominic tadi malam," ujar Maverick yang langsung berdiri untuk meminta maaf.
Jodan tertawa mendengarnya, "Santai saja. Lagi pula tidurku sangat nyenyak."
Baru saja Jodan hendak berjalan ke arah dapur, langkahan kakinya terhenti saat melihat sebuah luka terbakar pada bagian bahu Dominic.
"Serangan Netvor ya?" ujar Jodan.
"Iya, Jodan," balas Maverick.
Jodan kemudian mengambil segelas air, dan membawanya kepada Dominic kemudian . . .
Byurrrr !
Tanpa aba - aba apapun Jodan menyiramkan air kepada tubuh Dominic yang terkena seperti luka bakar di bagian bahunya. Olivia dan Maverick sama - sama tersentak.
Luka yang diberikan oleh Netvor seperti bentuk dahan yang terbakar, bahkan bara apinya tak langsung menghilang meski diobati dengan sihir bangsa elf.
Syuuusshh !
Luka bakar yang dibuat oleh Netvor pada bahu Dominic menghilang seketika. Dominic merasa tubuhnya jauh lebih membaik dan semua orang ikut terkejut melihatnya.
"Terima kasih, Tuan!" ujar Dominic yang merasakan tubuhnya kembali membaik.
Maverick menatap Jodan dengan tatapan penasaran dan penuh dengan tanda tanya.
"Aku sudah katakan pada kalian jika Netvor pernah kemari. Aku juga menjadi korban dan aku menemukan obatnya secara tidak sengaja, yaitu air. Sepertinya mereka juga takut dengan air," ujar Jodan.
"Air? Apa itu yang membuat Netvor langsung menjauh saat tahu aku sedang mandi di dalam sungai tadi malam?" ujar Olivia.
"Kau merasakannya?" tanya Maverick.
Olivia menganggukan kepalanya.
"Netvor memang takut dengan air, luka yang ditimbulkan juga bisa disembuhkan dengan air. Tapi sayangnya mereka tidak bisa dibunuh dengan air saja," ujar Jodan.
"Apa anda pernah mencobanya?" tanya Olivia.
"Pernah. Saat Netvor itu ramai kemari. Kami bertahan karena ada air sungai mengalir dan ditambah menyembunyikan sihir kami dengan bersembunyi di dalam rumah dan membuat pelindung sihir dengan kekuatan air di setiap depan rumah," ujar Jodan.
"Mungkin itu sebabnya setiap rumah terasa lembab," gumam Maverick.
"Tepat sekali," balas Jodan.
Kini Maverick mengerti dan memahami 1 hal yang membuat pasukan Vadazs menuju langkah kemenangan.
Netvor adalah makhluk yang menghisap sihir setiap elf sampai kering, setiap bagian tubuh yang disentuh akan menghasilkan luka bakar dan luka itu bisa disembuhkan hanya dengan air.
Netvor sendiri makhluk yang takut dengan air, tetapi tidak bisa dibunuh dengan air. Harus dengan cara ditebas kepalanya sampai terpisah dari tubuhnya.
"Sekarang aku mengerti cara melawannya, kalau begitu kita bawa pasokan air. Setiap orang silakan membawa masing - masing 1 botol air untuk kebutuhan pribadi. Dan jika ada yang mau mundur, silakan saja. Aku tak akan memaksa," ujar Maverick.
Semua pasukan justru tampak bertekad.
"Jika sudah seperti ini, apa ada alasan bagi kami untuk mundur, Tuan?" tanya Dominic.
"Aku tahu kalian takut-"
"Kami hanya takut dan kami rasa perasaan itu wajar. Tenang saja, Tuan. Kami tidak akan meninggalkanmu. Peperangan, tugas dan misi ini adalah milik pasukan Vadazs. Kami yakin, Tuan memilih kami karena kemampuan kami dan artinya Tuan percaya pada kami," ujar salah satu pasukan Vadazs.
Pasukan Vadazs yang lain pun setuju. Mereka mengatakan hal yang sama berulang kami dan mengatakan mereka tak akan mundur.
"Kalau begitu sebelum kita berangkat, kita bersama - sama akan pergi ke sungai untuk mengambil air," ujar Maverick.
Jodan menepuk bahu Maverick, "Satu lagi, mereka muncul di malam hari," ujar Jodan.
Maverick menganggukan kepalanya. Informasi yang ia peroleh sangat bermanfaat.
Untung saja mereka beristirahat di desa itu, jika tidak mungkin mereka hanya menemui Netvor tanpa tahu apapun.
Satu persatu pasukan Vadazs meninggalkan area rumah Jodan. Begitu juga dengan Dominic yang sudah merasa sehat dan diikuti dengan Olivia.
Kini tinggal tersisa Maverick dan Jodan saja.
"Terima kasih atas bantuannya dan tempat tinggalnya, kami sangat berhutang pudi kepadamu, Jodan," ujar Maverick.
"Santai saja. Sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan bantuan kepada kalian," balas Jodan.
"Tapi, apakah Netvor ini sudah ada cukup lama? Sepertinya anda cukup paham? Hanya saja berita ini baru sampai ke telinga Raja beberapa hari yang lalu."
Jodan menghela napasnya kemudian mulai kembali berbicara.
"Awalnya kami bisa kewalahan dan hendak melapor ke Kerajaan tapi rekan kami di Desa Caspian yang mendirikan desa ini berasumsi bisa mengalahkan. Sampai ia selalu bertugas seorang diri dan menemukan beberapa hal yang menjadi sisi lemah dari Netvor."
"Benarkah? Sepertinya aku harus berterima kasih kepadanya."
"Dia sedang tak ada di rumahnya, Maverick. Kau tahu kan ini adalah Desa kecil yang dibangun karena tidak sengaja."
"Kalau begitu sampaikan rasa terima kasihku."
"Nanti akan kusampaikan. Lanjutkan perjalananmu, tuntaskan habis bangsa Netvor yang menyerap energi sihir elf sampai habis itu."
"Tentu saja. Setelah pulang, akan kupastikan Fin mengakui Desa kecil ini."
"Oh ya satu lagi, Netvor hanya takut pada air biasa saja. Mungkin itu sebabnya mereka ke Clivis yang merupakan kota tanpa sungai," ujar Jodan.
"Ah sekarang aku mengerti. Terima kasih sekali lagi, Jodan."
Jodan tersenyum mendengarnya kemudian menepuk bahu Maverick dan berjalan meninggalkan Maverick.
Setelah selesai pembicaraan, Maverick keluar dan ikut menyusul ke arah sungai untuk membantu mengambil air.
Mungkin karena Clivis adalah sebuah tempat yang ada di pesisir pantai dan minim air sungai, membuat Netvor bisa leluasa dan menghisap energi sihir bangsa elf dengan mudahnya.
Setelah kepergian Maverick, Jodan tampak melihat ke arah luar jendela, ia pun teringat bagaimana Desa Caspian pertama dibuat. Lalu serangan Netvor yang tiba - tiba saja entah dari mana membuat Desa itu kehilangan orangnya satu persatu.
Pendiri desa mereka adalah Galnariel yang memutuskan untuk hidup dalam kesendirian dan satu persatu ditemani oleh orang - orang elf yang juga sudah menua.
"Perjuanganmu akan dilanjutkan dengan pasukan kerajaan seperti ucapanamu, Galnariel. Kau pasti akan kembali ke desa ini kan?" gumam Jodan.
Sebetulnya tak ada yang tahu kemana Galnariel pergi. Setelah berhasil mengusir Netvor, Galnariel pergi dengan alasan ingin merncari seusatu.
Rumahnya tetap kosong namun diurus oleh Maria, seorang wanita yang dipercayakan untuk merawat rumah milik Galnariel.