Mistake (Flashback#1)

1305 Kata
Author. Adam berteriak gusar, pertemuannya dengan Sita tidak sesuai apa yang dia inginkan. Sita menolaknya mentah-mentah, bahkan dengan lantang memintanya untuk menikahi Diani. Ya, pernikahannya dengan Sita memang telah resmi dibatalkan oleh kedua belah pihak keluarga, Minggu lalu. Dan berganti dengan rencana pernikahannya dengan Diani yang akan di percepat. Adam marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena disadari olehnya, ini semua akibat kesalahan tak termaafkan yang telah dia lakukan bersama Diani. Ya, Adam dengan sadar bermain api dengan Diani, calon adik iparnya sendiri. Dan kini dirinya sedang menuai hasil dari kecurangannya itu, yaitu kehilangan Sita. Adam mencintai Sita, dan akan selalu begitu. Tapi kebodohan dan nafsu yang tak bisa dikendalikannya membuatnya berkubang dalam kemaksiatan dan pengkhianatan pada orang terkasihnya sendiri. Sementara itu... Diani Akmal Jusuf, gadis yang baru menginjak usia dua puluh dua tahun itupun tidak lebih baik dari keadaan Adam maupun Sita. Rasa bersalah menelannya dengan kuat, ketakutan tentang masa depannya yang hancur juga membayang di matanya. Tapi... Ada setitik kebahagiaan yang tersimpan di sudut hatinya. Akhirnya dia bisa bersama bahkan menikah dengan lelaki yang diam-diam menyita ruang di hatinya. Cinta ini membuatnya terasa begitu serakah. Ya, Diani mencintai Adam. Gadis berambut lurus sebahu itu tahu cintanya salah alamat. Sejak pertemuan pertama dengan Adam terselip kekaguman pada sosok lelaki berwajah tampan dengan tubuh tegap itu. Diani tahu betul, bahkan sangat-sangat sadar bahwa tindakannya itu kini menyakiti semua orang. Kedua orangtuanya dan kakaknya terutama. Tapi, semua ini tidak pernah dia sengaja...sungguh, Diani tidak pernah sengaja ingin menghancurkan kebahagiaan Sita. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. Andai saja hari itu Adam tidak datang ke rumah, andai saja Sita tidak lembur, dan andai saja saat itu Diani lebih memenangkan akalnya dibanding perasaan dan hasratnya. Mungkin semua tidak akan seperti ini.. _Flashback on_ Jumat sore, rintikan gerimis mengguyur bumi. Membawa udara dingin menelusup hingga ke tulang. Diani pulang dari kampus lebih awal. Ayah dan ibunya masih di toko kue, biasanya menjelang akhir pekan toko memang lebih ramai. Sementara sang kakak belum menampakan batang hidungnya meski waktu beranjak petang. Diani merapatkan selimut yang melilit tubuhnya, duduk di single sofa yang cozy di balkon kamar. Menikmati suara rintikan air hujan membasahi bumi, sambil matanya terus menatap barisan tulisan di halaman novel tebal yang terhampar di bawah hidungnya. Membayangkan setiap adegan yang ditawarkan dalam keromantisan imajinasi. Yang tidak pernah sekalipun dia alami sebelumnya di dunia nyata. Gadis pendiam, sedikit tomboi, tidak suka terlalu banyak bicara dan mandiri, atau lebih tepatnya terpaksa mandiri. Terkadang Diani merasa ayah dan ibunya lebih menyayangi Sita, dan sepertinya takdir juga lebih berpihak pada sang kakak. Sita pintar, cantik, prestasi akademik yang selalu bisa dibanggakan sejak kecil. Dan Sita juga beruntung memiliki kekasih sempurna seperti Adam. Apa Diani iri? Ingin rasanya gadis itu menyangkal, tapi hatinya berkata lain. 'tok..tok..tok..' Gadis itu terjengkit saat mendengar pintu depan diketuk oleh seseorang. Dengan tergesa Diani bangkit dan setengah berlari menuruni tangga dengan kakinya yang telanjang. Mungkin ayah dan ibunya, atau Sita? Dengan bergegas dibukanya pintu yang terbuat dari kayu jati dengan polesan pelitur dan ukiran khas Jepara itu. Seraut wajah yang dikaguminya muncul pertama kali saat pintu terbuka sempurna. Lelaki berwajah tampan dengan kulit bersih, rambutnya terlihat basah terkena tetesan gerimis. Sebuah senyum tipis terbit menghiasi wajah tampannya. Diani terkesima, selalu seperti itu sejak dulu pertama kali dia bertemu. Kekaguman yang disimpan dalam diam. "Ehh, kak Adam?!" "Sita sudah pulang, Di?" "Euumm, belum tuh kak. Emangnya kak Adam gak janjian dulu tadi?" "Udah sih, tadi pagi aku udah bilang, sore ini aku mau ajakin dia keluar ke acara temen kantor." "Oh, mungkin bentar lagi kak Sita pulang, tunggu di dalam aja kak." Adam mengangguk, kemudian melangkah masuk dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang kekasih. Sesekali lelaki itu mengibas-ngibaskan kemejanya yang sedikit basah terkena air hujan. Sesaat kemudian Diani kembali dengan membawa secangkir teh hangat untuk Adam, saat laki-laki tersebut masih sibuk berbincang dengan seseorang menggunakan ponselnya. Gadis itu mencuri pandang, terlihat Adam mengernyitkan dahi dan terlihat kecewa. "Gimana kak? Kak Sita lagi di jalan ya?" Adam menghela nafas panjang kemudian menggeleng lemah. "Kakak kamu lembur, mendadak katanya." "Ooh, jadi gagal dong perginya?" Lagi-lagi lelaki itu hanya mengangguk. "Yaudahlah, aku pulang aja." Entah mengapa di sudut hati Diani ada rasa kecewa saat Adam ingin pergi. "Ehh, diminum dulu kak tehnya." Gadis itu mengangsurkan cangkir teh ke hadapan Adam. "Oh, iya iya, makasih, di." Adam menyesap teh manis yang masih mengepul, menjalarkan rasa hangat menyusuri kerongkongan hingga ke perutnya. "Oh, iya, ayah sama ibu mana?" Adam mengedarkan pandangan, tidak menemukan sosok yang dicari. "Masih di toko, kak. Akhir pekan gini kan biasanya ramai pembeli." "Kamu akhir pekan gini nggak kemana-mana?" Tanya Adam, yang dijawab gelengan kepala. Suasana mendadak hening, ini kali pertama mereka ngobrol berdua seperti ini. Meski sudah sering mereka bertemu. Diani bingung harus mengatakan apa, degup jantungnya berdebar kencang. Sementara Adam juga bingung, karena setahunya Diani adalah gadis pendiam yang irit bicara. Apa sebaiknya dia pulang saja? Rasanya canggung sekali. Hanya ada beberapa obrolan yang canggung dan garing, beberapa kali bahkan suasana kembali sunyi. Sesekali Diani melirik Adam, tapi kemudian bergegas menunduk tatkala yang dilirik tiba-tiba membalas tatapannya, membuat pipinya terasa digelitiki ribuan semut dan mulai menghangat membiaskan rona merah. "Kamu sakit? Muka kamu merah?" Adam menempelkan punggung tangan pada dahi Diani, merasai suhu tubuh gadis itu, membuat Diani terjengkit dan reflek memundurkan tubuhnya. "Eng...enggak papa kok kak," Diani menggeleng kuat, rasanya malu setengah mati. Kenapa Adam tiba-tiba menyentuhnya seperti itu. Dadanya berdesir, apa seperti ini rasanya bersentuhan dengan seseorang yang disukai? Wajah gadis itu lebih merah dibanding sebelumnya, ekspresinya terlihat aneh sekaligus lucu. Entah mengapa Adam menjadi begitu tertarik memandangi gadis belia yang terlihat salah tingkah itu. Wajahnya tidak jauh berbeda dari Sita, matanya bulat sempurna dengan bulu mata lentik. Pipinya masih dihiasi rona merah alami, begitu pula bibirnya tampak begitu ranum. Tanpa sadar Adam meneguk ludahnya sendiri. Gadis itu bergerak-gerak gelisah, entah menghilangkan gugup atau apa. Sesekali menggigit bibir bawahnya. Mendadak Adam tidak ingin melewatkan memandangi kecantikan gadis itu, yang baru saja dia sadari. Adam menggeser duduknya mendekat ke arah gadis dihadapannya, mencondongkan tubuhnya mendekat. Membuat Diani gelagapan berpikiran yang tidak-tidak, gadis itu memejamkan mata. Adam tersenyum, mengernyitkan dahi. Satu detik... Dua detik... Tidak ada yang terjadi, tapi kemudian Diani merasakan tangan Adam kembali menempel di dahinya, membuat gadis itu perlahan membuka matanya. Dan wajah Adam tepat berada di hadapannya. "Kamu beneran gak papa?" Bibir Diani kelu, tidak sanggup menjawab apapun kecuali gelengan lemah. Orang bilang, mata adalah jendela hati, meski sedikit, tapi Adam melihat perasaan lain dari gadis itu untuknya. Bibirnya yang ranum sedikit terbuka, membuat Adam terhipnotis, seolah mendapat dorongan untuk merasakannya. 'Cup' Adam mendaratkan kecupan singkat di bibir merah merekah gadis itu, yang sukses membuat Diani menahan nafas. Sekujur badannya rasanya tersengat aliran listrik, menyisakan rasa terbakar di wajahnya yang memerah. "k-kak..." Diani terbata, Adam hendak beringsut memundurkan tubuhnya. Namun jemari lentik Diani tiba-tiba mencengkeram kerah kemeja Adam, seolah tidak mengijinkan lelaki itu menjauh darinya. Biarlah kali ini dirinya egois, yang dia tahu dia mencintai Adam. Adam tersenyum, kemudian mengusapkan ibu jarinya menyapu bibir Diani yang basah. Seolah tahu bahwa gadis itu tidak menolak, Adam kembali merapatkan bibirnya pada bibir Diani, namun kali ini bukan hanya sebuah kecupan, namun sebuah ciuman yang semakin lama semakin membakar gairah dan gelora muda kedua anak manusia itu. Seolah mendapat bisikan setan, Adam tak kuasa menahan gelegak hasrat kelelakiannya yang selama ini dia tahan saat bersama Sita. Begitupun Diani, cinta terpendamnya pada Adam membutakan akalnya, ingin merasai setiap keindahan romantisme bercinta yang hanya bisa dia bayangkan dan dia baca dari novel selama ini. Sementara diluar tetesan gerimis semakin rapat, mendung pekat mengguyurkan milyaran rintik air menghujam bumi. Hawa dingin yang menyergap berubah menjadi panas oleh pergumulan dua insan yang dibutakan oleh nafsu. Memenjarakan akal sehat dan mendewakan syahwat surga dunia. _Flashback off_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN