Kebaya Pengantin.

1218 Kata
"Lepasin mas, sakit!" Aku kembali berteriak, sambil melirik sosok Rama yang semakin mendekat. Aku bingung harus bagaimana sekarang, aku tidak mau terus berlama-lama menghadapi mas Adam. Bukan hanya tanganku dalam genggamannya yang perih, tapi hatiku jauh lebih perih saat bersamanya. "Aku akan lepasin tangan kamu, tapi aku mohon dengerin aku sebentar aja, Sita, please!" Aku menatap wajah calon suamiku itu, ralat, mantan calon suamiku. Jujur aku menangkap rasa bersalah dari matanya. Raut wajahnya menunjukan penyesalan. Tapi semua itu tidak akan merubah apapun kini. Semua sudah terlambat. "Mas lepasin, atau aku teriak!" Aku kembali meronta dan meninggikan suara. Tepat saat Rama berada beberapa langkah lagi menuju kemari, aku berharap si kanebo kering itu tergerak hatinya untuk membantuku. Seorang wanita yang sedang diganggu oleh pria dan diperlakukan dengan tidak baik. Tentu lelaki manapun yang melihatnya pasti akan menolong si wanita malang kan? Rasanya baru kali ini aku melihat Rama dengan rasa penuh harap. Bagaimanapun aku berharap dia menjadi dewa penolongku saat ini, tanpa aku harus meminta terlebih dulu. Ah, kenapa aku masih gengsi juga sih di situasi segenting ini. Tapi.... Lhoh, kenapa dia hanya melewati kami begitu saja? Dia hanya melirik sekilas padaku sambil terus berjalan menjauh seolah tidak peduli. Ya ampun, apa dia buta? Dasar kanebo kering nyebelin, gak peka! "Terserah kamu mau teriak, aku gak peduli Sita. Tapi kamu harus ikut aku, kita perlu bicara!" Mas Adam kini semakin menarikku dengan kuat. Aku tidak punya kekuatan untuk melawannya, ditambah lagi aku tidak punya harapan untuk bisa lepas darinya kali ini, Rama yang kuharap bisa membantuku ternyata sama sekali tidak peduli. Lelaki macam apa itu? Salah besar aku mengharapkan bantuannya tadi. "Oke, aku kasih kamu waktu lima menit, silahkan kamu mau ngomong apa." "Jangan di sini, kita cari tempat yang enak buat ngobrol." Aku kembali menepis tangannya, dan kali ini lepas dalam sekali sentak. " Aku bilang aku kasih kamu waktu bicara lima menit, di-si-ni atau enggak sama sekali." "Oke...oke..." Dia kembali berusaha meraih tanganku yang kutepis dengan cepat, seolah mengibaskan kotoran menjijikkan. "Sita, aku minta maaf, aku gak nyangka kejadiannya bakal seperti ini. Aku masih cinta sama kamu, aku cuma khilaf." "Khilaf?? Kamu khilaf sampai bikin adikku hamil?" Emosiku rasanya meluap hingga ke ubun-ubun. "Iya, aku tahu aku salah, ta...tapi aku nggak mau pisah dari kamu, aku mau kita tetep seperti dulu, pernikahan kita tinggal beberapa Minggu lagi." "Pernikahan kita? Kamu bikin adikku hamil dan masih mikir pernikahan kita? Sinting kamu mas!" Teriakku tepat di wajahnya. "Tapi aku masih cinta sama kamu, dan aku tahu kamu juga masih cinta sama aku kan? Iya kan, ta?" Manik matanya menatap tajam rasanya menembus hingga menusuk jantungku. Iya, aku masih cinta sama kamu mas, tapi kamu yang sudah membunuh perlahan cinta yang aku jaga untuk kamu selama ini. Aku membuang muka, tidak ingin berlama menatap wajahnya. "Pernikahan kita batal akibat perbuatan kamu sendiri mas, akibat kesalahan kamu sendiri. Sekarang yang perlu kamu pikirkan adalah secepatnya menikahi Diani, dan bertanggung jawab pada anak kamu yang ada di perutnya. Kita udah gak punya hubungan apa-apa lagi." Buliran cairan panas luruh begitu saja dari sudut mataku, menyakitkan menghadapi kenyataan ini ya Tuhan. "Tapi aku gak cinta sama Diani, dan belum tentu anak yang ada di perutnya itu anak aku, bisa jadi itu anak or..." 'PLAAAKK!' Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, bahkan tanganku terasa terbakar usai melayangkan tamparan itu. Bahkan itu belum sebanding dengan ucapannya yang merendahkan adikku. "Jaga bicara kamu, mas! Diani bukan gadis seperti yang kamu bilang, anak di perutnya adalah hasil dari kebejatan kamu, dan kamu harus bertanggung jawab akan hal itu." Diani memang telah menyakiti hatiku dengan parah, mengkhianati dan menjadi duri dalam daging pada hubungan percintaanku dengan Adam. Tapi, tetap saja dia adikku, dan aku tidak suka siapapun menjelekkannya seperti itu. Terlebih lelaki busuk ini yang mengucapkannya. "Kamu masih mau bela adik kamu yang udah nyakitin kamu? Dia yang menghancurkan hubungan kita, Sita!" "Bukan cuma dia mas, tapi juga kamu! Waktu kamu habis, sekarang aku mau pergi." Aku bergegas pergi meninggalkan lelaki berengsek yang masih berdiri di sana. Lelaki yang kubenci sekaligus masih kucintai. Lagi-lagi airmata turun, ahh aku benci menjadi lemah seperti ini. "Oke, aku bakal tanggung jawab dan menikahi Diani, tapi setelah anak itu lahir aku akan ceraikan dia. Aku gak bakal lepasin kamu sita, kita akan menikah setelah itu!" Aku mendengar mas Adam berteriak seperti orang gila, aku menutup telinga dan memilih berlari mengambil sekuterku dan melajukannya secepat mungkin menjauh dari kantor. *** Rasa lelah membayang, pertemuanku dengan mas Adam sukses membuat mendung kembali menaungi hatiku yang kian menggelap. Rumah adalah tempat hangat dan paling nyaman dulu ... tapi tidak kini, rasanya rumah menjadi tempat yang menyesakkan untukku. Aku menyeret langkah menuju kamar, rasanya aku perlu mandi dan berendam air dingin. Atau mungkin perlu menyalakan lilin aromaterapi. Bukan ide buruk. Aku membuka lemari kecil hendak mencari aromaterapi dengan wewangian lavender, tapi setumpuk kertas mengkilat berbentuk amplop warna burgundy menyita perhatian mataku. Aku menarik keluar kardus penuh berisi undangan pernikahanku dengan mas Adam yang baru saja rencananya akan kusebar. Kubuka sebuah kertas cantik berbau harum dengan warna kesukaanku itu, tertulis nama kami di sana dengan tinta berwarna emas. Mendadak dadaku terasa sesak seperti diremas, aku hanya bisa terduduk menatap undangan-undangan itu. Kenapa semuanya jadi hancur seperti ini? Sebenarnya dosa apa yang sudah ku buat sampai-sampai Tuhan menghukumku semenyakitkan ini? Lagi dan lagi, aku hanya bisa menangis. Aku benar-benar benci menjadi lemah, tapi aku juga bukan wanita kuat yang bisa bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tidak ... semua ini tidak baik-baik saja. Aku sekarat. 'tok...tok...tok...' "Sita..." Itu suara ibu. "Ya, Bu ... sebentar" Aku mengusap kasar airmata yang sempat jatuh di kedua pipi, menghapus sisa yang sempat menganak sungai. Dan dengan cepat menutup lemari kecil, meninggalkan tumpukan undangan itu teronggok di sana. "Iya Bu, ada apa?" Tanyaku sesaat setelah membuka pintu, dan mendapati wanita paling mulia di hidupku tengah berdiri di sana, membawa sesuatu di tangannya. "Sita, boleh ibu masuk?" Aku mengangguk, memberi jalan pada ibuku untuk masuk. Beliau menutup pintu kemudian duduk di sisi ranjang, tangan keriputnya menepuk tempat disampingnya, mengisyaratkan aku untuk duduk disana. Aku menurut, kemudian mendaratkan bokongku di ranjang empuk milikku. Tanganku meraih tangan ibu yang mulai keriput namun tetap hangat. Beliau tersenyum sebentar, kemudian menyodorkan bungkusan yang sedari tadi berada di tangannya. "Tadi siang ibu terima paket ini, ini kiriman dari butik Avana, kebaya pernikahan yang kamu pesan." Aku membuang muka, mengalihkan pandanganku menjauh dari benda di tangan ibu. Kenapa lagi-lagi benda yang mengingatkanku pada rasa sakit harus kutemui. "Ibu tahu, kamu pasti terluka ... tapi ibu pikir, kebaya ini kamu yang pesan, amanah ibu untuk menyampaikan ke kamu. Setelah ini mau kamu apakan, itu semua terserah keputusan kamu." Aku masih terdiam, enggan untuk menjawab. Aku bingung harus bagaimana. "Ibu keluar dulu, kamu istirahat ya," ucap ibuku sambil mengelus lembut kepalaku, menjalarkan rasa hangat ke dalam hati. "Bu ... " "Iya?" Ibu menoleh saat sampai di ambang pintu. Aku menyodorkan bungkusan berisi kebaya impianku itu padanya. "Kasih ke Diani aja, biar dia yang pakai untuk akad nikah sama mas Adam besok." Ibu mengangguk, kemudian meraihnya. Aku bisa melihat genangan bening di netra tuanya. Bergegas ibu keluar dan aku menutup pintu. Tubuhku merosot, duduk meringkuk di balik pintu memeluk lutut. Hatiku sakit saat mengucapkan kata-kata itu tadi, tapi aku akan berusaha ikhlas, aku akan ikhlas. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN