"Ta, kamu kenapa? Kamu abis nangis ya?"
"Gak papa kok Van, tadi pas cuci muka kemasukan air aja," jawabku.
Aku meninggalkan Vani dan kembali ke mejaku, aku menghela nafas untuk mencoba menenangkan diri. Bagaimanapun pekerjaan ini tidak akan selesai dengan sendirinya kan kalau aku tidak konsentrasi.
Aku mulai menginput data laporan yang menjadi tanggung jawabku. Memfokuskan diri pada pekerjaan ternyata ampuh juga untuk sedikit melupakan masalahku, ya hanya sedikit saja.
Entah berapa lama aku terus berkutat pada pekerjaan, tiba-tiba perutku mendadak terasa perih, lambung yang kosong mengirim sinyal pada otak untuk minta diisi. Ya, aku lapar.
Terlebih pagi tadi aku tidak sempat menyelesaikan sarapanku.
Aku menatap arloji yang melingkar ditangan, tepat jam makan siang.
"Van, makan yuk aku lapar,"
Gadis berpipi chubby dengan rambut ikal itu tersenyum dan mengangguk. Kami menuju kafetaria kantor. Beberapa karyawan lain sudah lebih dulu tiba disana. Saling bersenda gurau duduk dan menikmati makanan di hadapannya masing-masing.
Aku dan Vani duduk di bangku paling sudut, memesan soto ayam dan lemon tea. Sambil menunggu pesanan kami datang, aku mendengarkan Vani berceloteh panjang lebar tentang Rama, OB tampan menurut versinya. Entahlah, kenapa harus membicarakan dia. Seperti tidak ada bahan pembicaraan lain yang lebih bermutu. Aku hanya mampu menggeleng lemah mendengarkannya.
"Kemarin aku gak sengaja ketemu sama dia di depan kantor pas mau balik, selain ganteng dia ternyata baik banget tau, ta."
Huh, baik darimana? Orang sombongnya aja minta ampun.
"Jadi kemarin tu, hape aku lowbat padahal belum sempet pesen taksi online buat pulang, nah pas banget ketemu dia aku minta tolong buat pesenin pake hape dia, eh dia mau, terus ditungguin lagi sampai taksinya dateng," Vani menceritakan hal itu dengan mata berbinar.
"Cuma begitu? Itu sih pak satpam juga bisa Van. Lagian kalau dia emang baik, harusnya anterin kamu pulang, bukan cuma pesenin taksi doang," ujarku, membuat Vani mengerucutkan bibir.
Mungkin dia tidak terima aku mengatai gebetannya, tapi aku juga tidak terima, si OB angkuh dan sombong itu dibilang baik hati. Baik hati dari mana sih? Dari Hongkong.
Mendadak wajah Vani dengan bibir mengerucut berubah drastis, matanya membeliak berbinar, senyum lebar terbit di bibirnya.
"Ta, liat tuh, dia kesini," ucapnya histeris namun tertahan. Tangannya menepuk-nepuk lenganku yang masih asyik mengadu sendok dengan mangkok.
Aku menoleh mengikuti mata Vani mengarah, si muka tanpa ekspresi datang dari sana. Terlihat para pegawai wanita berbisik-bisik sambil mengikuti langkah kaki Rama dengan pandangan mereka.
Ck, memang apa menariknya orang itu sih selain sikap angkuh dan dingin, kaku mirip kanebo kering. Songong lagi.
Aku berbalik, kembali menatap mangkok berisi soto yang masih berisi setengah. Bagiku menatap kuah soto yang sudah teraduk-aduk ini lebih menyenangkan dibanding melihat wajah si OB kanebo kering.
"Hai, Rama," Vani tersenyum lebar menyapa si OB yang ternyata sudah berada tepat di samping kami duduk. Aku melihatnya tersenyum sekilas pada Vani, ternyata dia bisa tersenyum juga.
"Ini."
Aku melongo menatapnya tidak mengerti, begitupun Vani. Rama menyodorkan sebotol minuman jus buah dalam kantung keresek berwarna putih...padaku. padaku? Bukannya dia datang kesini untuk ketemu Vani?
"Apaan nih?" Tanyaku tidak mengerti.
"Minuman." Jawabnya dengan ekspresi datar.
"Ya, aku juga tahu ini minuman, tapi buat apa?"
"Ya buat diminum lah."
Dasar kanebo kering sinting, ya aku juga tahu ini minuman, dan minuman untuk diminum, masa buat mandi.
Aku menghela nafas kasar, " iya, semua orang juga tahu kalau soal itu, maksud aku, kamu ngasih ini dalam rangka apa?"
"Anggap aja sebagai permintaan maaf soal tadi pagi."
Aku mengernyit bingung, namun kemudian paham apa yang dia maksud. Apa masalah tadi pagi aku terpeleset, dan dia merasa bersalah?
"Makanya lain kali cari hobby baru, mbak. jangan punya hobby nabrak kalau akhirnya cuma nangis," tukasnya sambil berlalu.
Lagi-lagi aku hanya melongo, apa dia pikir aku menangis karena kesakitan jatuh terpeleset di hadapannya tadi pagi? Dasar orang aneh!
Aku menatap Rama berlalu, menatap punggungnya yang mulai menjauh dari pandangan mata kami. Ya, kami semua, aku, Vani dan sebagian besar pegawai wanita yang sedang berada di sini. Mereka semua mulai berbisik-bisik lagi sambil menatap kemari.
"Ta???!!"
Aku menoleh, melihat wajah sahabatku yang terlihat bingung dengan raut wajah meminta penjelasan.
Dengan tersenyum tipis, aku menyodorkan botol minuman jus buah itu pada Vani.
"Buat kamu aja, Van."
"Bentar deh, Ta. Maksud Rama tadi apa sih? Kalian ketemu tadi pagi?"
Dari sorot matanya, aku melihat sebuah kecemburuan di mata Vani yang legam. Aku terkekeh, kemudian menceritakan semua yang terjadi tadi pagi pada Vani, bahkan pertemuan pertama kami yang berawal dari insiden lampu merah, aku menceritakan semuanya.
"Jadi gitu ceritanya, Van. Lagian siapa sih naksir sama dia. Ih, amit-amit. Udah sombong, aneh lagi."
"Eh, enak aja kamu bilang Rama aneh. Dia tu ganteng, baik lagi. Buktinya dia mau minta maaf sama kamu meskipun sebenarnya bukan salah dia."
"Hmmm, iya juga sih, Van...tapi tetep aja tuh orang nyebelin," ucapku sambil menyedot lemon tea di gelas kaca, uap dingin dari es batu membulir menghiasi gelas tinggi dengan sedotan itu.
"Ah, ati-ati lho, Ta...jangan sebel-sebel sama orang, entar naksir baru tahu rasa."
"Enak aja! Amit-amit deh, Van," sungutku.
"Lagian jangan sampai kamu naksir sama dia, awas aja!" Ucap Vani sambil mengacungkan kepalan tangan ke arahku.
"Iya iya, ambil sono, hush hush," gurauku sambil mengisyaratkan dengan tangan pada Vani untuk menjauh.
Gadis berlesung pipi itu mengerucutkan bibir namun kemudian tersenyum. Aku senang bisa bersama sahabatku. Kami kembali menikmati makan siang dengan mengobrol santai.
Ahhh, setidaknya aku masih punya sahabat baik, orang-orang yang menyayangiku tulus. Aku harus bisa bangkit, harus!
***
"Ta, aku balik duluan ya, bye." Vani melenggang melewati ku sambil melambaikan tangannya.
"Bye, ati-ati."
Langit senja berwarna jingga di luar sana, sinar menguning redup menerobos masuk melalui jendela kaca. Suasana kantor sudah mulai lengang. Aku melirik arloji, waktunya pulang. Pulang kepada realitas menyedihkan. Di kantor aku merasa sedikit terhibur, tapi pulang ke rumah membuatku mengingat pengkhianatan yang dilakukan orang paling dekat bagiku. Orang yang didalamnya mengalir darah yang sama dengan darah yang mengaliri tubuhku.
Hahh, aku menyeret langkah kaki yang rasanya sulit untuk dibawa beranjak pergi dari tempat ini. Menyusuri koridor yang mulai lengang, hanya beberapa karyawan yang lalu lalang dengan tujuan yang sama denganku, yaitu pulang.
"Sita,"
Tiba-tiba lenganku ditarik seseorang, suara berat yang menyebut namaku membuatku mau tak mau menoleh.
Wajah yang ku rindukan sekaligus ku benci setengah mati itu tepat berada di hadapanku.
"Mau apa mas Adam kesini? Lepas mas!" Aku berusaha menyentak tanganku agar terlepas dari tangannya, tapi nihil, cengkeramannya terlalu kuat.
"Sita, please dengerin aku dulu, aku mohon sama kamu jangan menghindar terus seperti ini. Dengerin dulu penjelasan aku."
"Semua sudah jelas, mas. Gak ada yang perlu kamu jelasin. Lepasin, aku mau pulang."
"Aku gak akan lepasin kamu, dan asal kamu tahu bukan hanya tangan kamu yang gak akan pernah aku lepasin, tapi juga kamu! Karena kamu masih resmi tunangan aku!" Ucapnya dengan tatapan tajam.
Apa dia bilang barusan? Tunangan? Rasanya aku ingin meludahi mukanya itu. Dasar lelaki menjijikkan.
"Kita udah gak punya hubungan apa-apa lagi sejak kamu mengkhianati aku! Aku bukan siapa-siapa kamu lagi, jadi tolong lepasin aku."
Aku terus meronta, tapi cekalan tangan mas Adam semakin kuat, membuat lenganku sakit. Suasana kantor yang sepi membuatku semakin takut, apa aku harus berteriak minta tolong.
Sudut mataku tiba-tiba menangkap sosok seseorang yang berjalan ke arah yang sama. Rama. Mungkin dia juga hendak pulang.
Lelaki bermata elang itu mengenakan Hoodie abu-abunya menutupi seragam biru langit yang biasa dia kenakan. Apa aku harus minta tolong pada si OB angkuh dan menyebalkan itu?
Bagaimana ini??
*****