Semua begitu menyebalkan!

1257 Kata
Aku menarik nafas kuat, kemudian kembali menyisir rambut dan menyapukan bedak tipis sambil mematut diriku di cermin. Sekali lagi mengoleskan concealler sewarna kulit untuk menyamarkan kantung mataku. Ah sial, mataku benar-benar menghitam mirip mata panda. Pagi ini aku akan sarapan di bawah bersama ibu dan ayah sebelum pergi ke kantor. Aku mengepalkan tanganku mengumpulkan segenap kekuatan untuk menghadapi kemungkinan melihat wajah Diani di sana. Jujur, aku tidak ingin melihatnya. Ya, aku memang mengalah, tapi bukan berarti aku bisa memaafkan mereka secepat ini. Hey, aku bukan Dewi welas asih yang bisa memaafkan sebuah pengkhianatan besar dan bersikap seolah semua baik-baik saja. Aku cuma gadis biasa yang sedang berusaha mengumpulkan lagi serpihan hatiku yang mungkin masih tersisa. Aku menuruni tangga, dengan setelan blazer warna peach dan celana bahan berwarna hitam lengkap dengan tas senada. Saat kuedarkan pandangan, hanya ada ayah dan ibu di meja makan. Ah, syukurlah aku tidak perlu bertemu dengan Diani, mungkin sebenarnya hatiku belum benar-benar siap. "Selamat pagi," sapaku. Ayah mendongak cepat, wajahnya tersenyum menatapku. Hatiku mendadak terasa begitu teriris saat mataku bersirobok dengan mata ayah. Sama seperti mata ibu, aku juga melihat luka itu di sorot mata renta itu. Tatapannya memang teduh, selalu begitu. Tapi kali ini goresan luka di hatinya benar-benar terpancar jelas dari sorot manik hitam dengan bingkai alis yang mulai dihiasi warna memutih. "Sita, kemari nak, kita sarapan," ujar ayah sambil menepuk kursi tepat di sampingnya. Ibu tengah menghidangkan nasi dan beberapa sayur dan lauk dalam piring ayah. Wajahnya tersenyum menatapku sekilas. "Kamu berangkat kerja hari ini?" Tanya ibuku tepat saat aku mendaratkan tubuh di kursi samping ayah. "Iya Bu, Sita harus kerja," aku menjawab sambil mengambil piring dan mulai mengisinya dengan nasi beserta teman-temannya. Aku mulai menyuapkan makanan kedalam mulutku saat tiba-tiba Diani turun dan melangkah perlahan mendekat ke arah kami. Mendadak selera makanku menghilang, aku menatapnya sekilas. Seraut wajah dengan rasa ragu dan ah, aku menangkap sebuah rasa takut dari ekspresi wajahnya. Entah mengapa mataku begitu ingin menatap perutnya, didalam sana tengah hidup janin dari lelaki yang kucintai. Hatiku mendadak terbakar, luka yang masih basah terasa seperti disiram air garam. Perih! Aku memalingkan wajah, tidak ingin berlama-lama melihatnya. Kemudian Diani mulai duduk, suasana mendadak begitu canggung. Bahkan kurasakan atmosfer disekitarku seolah berhenti. Ayah dan ibu bahkan diam saja menekuri makanan di piring mereka. Sungguh, rasanya aku ingin cepat-cepat bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu. "Kak..." Diani mulai bersuara, tapi aku tidak berniat untuk menatap ke arahnya, apalagi menjawabnya. "Kak sita, aku minta maaf..." Suara adikku satu-satunya itu mulai bergetar. Aku masih bergeming. "Kakak pantas marah sama aku, aku tahu aku salah...aku khilaf," dari suaranya aku tahu Diani mulai menangis. "Ayah, ibu, sita berangkat dulu ya takut telat," ucapku sambil bangkit berdiri tanpa menghiraukan Diani. "Sita...tunggu nak, dengarkan adikmu," ayah mulai bersuara aku tak menyahutinya, hanya menggeleng menatap beliau. Biarlah kali ini aku bersikap seperti ini, anggaplah sikapku kejam terhadap adikku tapi setidaknya tidak lebih kejam dibanding luka akibat pengkhianatan yang ditorehkan olehnya bukan? Aku mulai menyalami tangan ayah dan ibu, aku mengerti perasaan mereka saat ini. Namun aku belum siap untuk berbicara masalah ini dengan si pengkhianat itu. Aku melangkah lebar untuk segera pergi. "Kak, kalau Kakak mau aku bisa membatalkan pernikahanku dengan kak Adam demi kak Sita, tapi tolong maafin aku kak." Wah wah, lihat siapa sekarang yang sedang berusaha terlihat seperti malaikat? Membatalkan pernikahannya demi diriku, dia bilang? Aku menghentikan langkahku kemudian berbalik arah, mataku begitu panas. Bahkan seluruh tubuhku rasanya mendidih mendengar ucapan Diani barusan. "Apa kamu bilang? Kamu mau membatalkan pernikahan kamu demi aku?" Aku menyilangkan kedua tangan di depan d**a, degup jantungku terasa seperti genderang perang yang ditabuh. "Kamu yang sudah bikin pernikahan aku batal, Di! Kamu yang sudah menghancurkan hidup aku, tapi aku gak akan melakukan hal menjijikan seperti yang kamu lakukan, kamu lagi hamil anak mas Adam! Apa kamu pikir aku orang yang gak punya hati, yang bisa mengambil begitu saja ayah dari anak yang ada di perut kamu?" "Dengar ya Di, aku bukan perempuan licik yang mengambil milik orang lain, apalagi mengambil ayah dari bayi yang gak punya salah apapun," "Oh ya, dan satu lagi...aku gak akan pernah ngambil sampah yang sudah aku buang! Jadi kamu bisa ambil mas Adam yang sudah kamu rebut dari aku, kalian cocok, sama-sama pengkhianat yang gak punya hati!" Aku bergegas pergi dari tempat itu, tanpa mempedulikan Diani yang masih tertunduk. Bahkan tidak menghiraukan ayah yang memanggil-manggil namaku. ****** Aku melangkah dengan perlahan setelah memarkirkan motorku. Pikiranku masih kacau. Beberapa kali aku berpapasan dengan para karyawan lain, namun sorot mata mereka seolah mengasihaniku. Benar, mungkin seisi gedung ini sudah tahu akan kesialan yang menimpa hidupku. Kabar seolah terbang secepat angin berembus, tapi sungguh aku tidak peduli apa kata orang. Mereka hanya mampu menghakimi tanpa tahu bagaimana sulitnya menjadi aku. "Sitaaa..." Aku menoleh, Vani menghambur ke arahku sambil membentangkan tangannya. Gadis ceria itu memelukku dengan erat hingga membuatku sulit bernafas, aku membalas pelukannya. "Aku seneng kamu udah mau keluar kamar, kamu yang sabar ya Ta." Dengan lemah aku mencoba tersenyum dan mengangguk, kemudian kami berjalan beriringan menuju ruang kerja. Entah berapa lama aku hanya duduk diam di meja kerjaku. Jujur aku tidak berkonsentrasi dengan pekerjaanku, aku hanya menatap kosong barisan angka dan tabel dalam layar komputer yang menyala. Meski begitu rasanya pikiranku terbang menjauh dari tempat ini. Oh tuhan, sampai kapan luka ini akan bisa sembuh? Kepalaku rasanya berat, aku butuh menyegarkan diriku. Membasuh wajah yang kusut mungkin bukan ide buruk. "Mau kemana, Ta?" "Aku mau ke toilet sebentar, Van," jawabku sambil mencoba tersenyum padanya, Vani hanya mengangguk. Aku menyeret langkah kakiku perlahan. Hari-hariku rasanya begitu suram, sebenarnya apa salahku Tuhan sampai semua mimpi buruk ini menimpa hidupku? Ahh, lagi-lagi aku tak kuasa menahan airmata yang hendak turun. Aku menengadah keatas, berharap airmata sialan ini tidak lolos. "Aaaawww!!" "Aduuhh, sakiit." Aku terpeleset tepat di depan lorong menuju toilet. Ternyata lantainya basah. "Ck, mbak ini kebiasaan ya, kalau gak nubruk ya jatuh." Sebuah suara membuatku mendongak, seraut wajah dingin tanpa senyuman dengan mata elang yang tajam tengah menatapku. Si office boy rupanya, aku melihat tangannya tengah membawa alat pel. Ah, dasar rupanya manusia angkuh ini biang kerok penyebab aku terpeleset. "Bukannya nolongin malah ngata-ngatain, dasar!" Aku menggerutu sebal, rasanya lengkap sudah penderitaan hidupku. Apa belum cukup sakit hati yang menyiksa sekarang ditambah lagi badanku sakit karena terbentur lantai dengan keras. Dan lebih parahnya lagi aku harus bertemu dengan si office boy songong ini. Kulihat dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukannya mengulurkan tangan untuk membantuku. Aku benar-benar jengkel setengah mati. "Kenapa ya, di gedung sebesar ini dengan puluhan OB dan OG ketemunya kamu lagi, kamu lagi!" aku mulai berteriak. "Lagian kalau ngepel tu yang bener dong, jangan bikin celaka orang begini." aku mulai memakinya. Rasanya melegakan meneriaki orang disaat perasaan sekacau ini. Mendadak lelaki itu bersedekap, matanya yang tajam itu menatap lurus padaku. Wajah yang menjengkelkan. "Saya yang salah? Bukannya situ yang kalau jalan suka gak lihat-lihat?" Jawabnya santai dengan mimik muka datar mirip tembok. Aku benar-benar sebal, kenapa semua orang begitu menyebalkan. Aku benci! Akhirnya air mata yang sedari tadi kutahan lolos begitu saja tanpa permisi. Aku tidak menangisi sakit di tubuhku, aku juga tidak menangisi perkataan si OB menyebalkan itu. Hanya saja, semua rasa sesak didada rasanya semakin ingin meledak. Bergegas aku menghapus airmata yang luruh dengan punggung tanganku, jangan sampai si OB songong melihatnya. Ah, sial! dia sudah lebih dulu melihatku menangis rupanya. Aku bangkit berdiri dan setengah berlari melewatinya yang masih menatapku dengan aneh menuju ke toilet. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN