Test Pack (flashback #2)

964 Kata
Bisa ditebak, sejak saat itu hubungan terlarang antara calon kakak ipar dengan sang adik ipar mulai terjalin. Seperti sebuah simbiosis mutualisme, keduanya terikat oleh hubungan tanpa nama. Adam terjerat karena dorongan kebutuhannya sebagai lelaki dewasa yang tidak pernah dia dapat selama ini dari Sita, sang kekasih. Sementara Diani bersuka rela karena diperbudak oleh perasaan cintanya sendiri. Yang tanpa sadar terus menjerat mereka semakin jauh dalam jurang hubungan pengkhianatan yang disebut perselingkuhan. Semua berjalan baik awalnya. Serapat mungkin Adam dan Diani menutupi hubungan ini dari siapapun, terutama dari Sita. Sita Mahira Jusuf, gadis anggun yang periang. Memiliki tubuh tinggi ramping, dengan rambut panjang sebatas punggung. Wajahnya yang oval dihiasi sepasang mata bulat dengan bulu mata lentik, hidung kecil namun runcing, dan bibirnya kemerahan alami. Adam jatuh cinta pada pandangan pertama, saat itu dirinya bertemu dengan Sita di rumah Ivan, sang sahabat. Yang Adam tahu, Ivan memiliki seorang adik perempuan bernama Alvani. Dan si gadis cantik bernama Sita berteman baik dengan Vani. Takdir mempertemukan mereka di sana. Gayung bersambut, singkat cerita cinta Adam diterima dengan baik oleh Sita. Hubungan mereka bahkan berjalan hingga tiga tahun. Sebagai dua orang dewasa yang merajut asmara, hubungan mereka hanya sebatas percintaan biasa. Sita membangun dinding tebal membatasi diri dengan dalih norma dan prinsip. Di mata Sita, Adam terlihat baik-baik saja menerima hal itu. Tapi... Lihatlah kini kenyataannya, pengkhianatan yang disimpan rapat kini tercium begitu busuk bagaikan bangkai. Sekuat apapun, serapat apapun mereka diam dalam kecurangan, tapi mereka lupa, bahwa Tuhan tidak pernah bisa mereka curang-i. Tuhan menyiapkan takdir yang tidak pernah mereka sangka. Semua tersingkap tanpa bisa mereka hentikan, mengelak pun akan percuma. _Flashback_ "Hooeeeekk.... Hoeeekk..." Diani terengah-engah, matanya memerah dan berair. Rasa pusing yang sejak kemarin dirasakannya belum juga hilang meski telah menelan obat. Bahkan pagi ini rasa mual mendera. "Apa aku masuk angin ya?" Gumamnya sambil memegangi kepalanya. Gadis itu memutuskan untuk keluar kamar, perutnya terasa perih. Lapar. Suasana rumah begitu lengang, Diani tahu Sita selalu berangkat awal ke kantor. Dan orang tuanya mungkin telah berangkat ke toko kue. Di meja makan terhampar sarapan yang biasanya begitu menggoda baginya, tapi tidak kini. Capcay dengan udang, ayam goreng ketumbar kesukaannya. Lauk yang biasanya membangkitkan selera makannya, terasa begitu memuakkan di indera penciumannya saat ini. Apa ada yang salah dengan dirinya? Membaui makanan itu saja sudah membuatnya begitu mual dan ingin muntah. Segera gadis itu berlari menuju kamar mandi, memuntahkan isi perutnya. Cairan pahit berwarna kehijauan, asam lambung, hanya itu. Tidak ada satupun makanan yang keluar mengingat gadis itu belum makan sejak kemarin siang. "Apa maag-ku kumat ya? Tapi biasanya gak begini." Keringat bercucuran di dahinya, rasanya benar-benar menyiksa. Rasa laparnya telah hilang, meski akhirnya hanya meneguk segelas jus jeruk untuk mengisi lambungnya. Hanya itu yang mampu lidahnya terima. Dengan gontai, Diani kembali menuju kamar. Jam menunjukkan pukul delapan, sementara ada mata kuliah jam sembilan. Mau tidak mau gadis itu harus berangkat. Diani meraih laci kecil di samping tempat tidur, mencari-cari obat maag yang pernah dia simpan. Tiba-tiba matanya berhenti saat menemukan pembalut yang tersimpan rapi, gadis itu tertegun. Benda itu mengingatkan dirinya akan sesuatu, ini sudah lewat dari tanggal tamu bulanannya. Atau jangan-jangan saat ini dirinya sedang.... "Ah, tidak...tidak..." Diani menggeleng kuat-kuat. "Mungkin cuma telat karena stres dan kecapekan aja." Gadis itu berusaha menenangkan dirinya sendiri meski hatinya menyangkal ucapan dari bibirnya. "Tapi...kalau aku beneran hamil gimana?" Pikirannya mendadak kalut. Bergegas gadis itu pergi ke apotik, membeli dua alat tes kehamilan. Jantungnya terus berdebar- debar ketakutan. Bibir dan hatinya terus merapalkan doa, semoga dugaannya salah. Dengan gemetar Diani menggunakan alat tersebut, matanya yang terpejam membuka perlahan dengan raut kekhawatiran di wajahnya. Mengintip sedikit demi sedikit hasil yang terpampang di sana. Dua garis merah tercetak jelas pada papan kecil itu. Lagi-lagi Diani menggeleng kuat, air mata sudah mengambang di pelupuk matanya. "Gak mungkin, ini pasti salah." Dengan cepat dibukanya satu lagi alat tes kehamilan itu, dan hasilnya sama, dua garis itu terpampang nyata di hadapan matanya. Tubuhnya mendadak terasa kaku, tenggorokannya begitu tercekat. Air mata yang mengembang akhirnya bergulir jatuh, semakin deras. Tubuh gadis itu merosot seperti kehilangan kekuatan, tulang-tulang tubuhnya rasanya seperti lolos dari tempatnya. Gadis muda itu hanya bisa menangisi keadaannya saat ini. Bagaimana sekarang? Haruskan dia memberitahukan hal ini pada Adam? Lalu apa yang akan terjadi dengan janin di perutnya? Bagaimana jika semua orang tahu? Ayah ibunya? Sita...?? Ah, bahkan kakak satu-satunya itu tengah berbahagia mempersiapkan sebuah pernikahan. Diani meraup wajahnya dengan kasar, pikirannya begitu kalut dan buntu. *** "Kak, aku mau ketemu," ucap Diani dari seberang sana. "Sebentar lagi aku ada rapat, sayang. Kenapa kamu kangen ya?" Adam tersenyum sambil terus menempelkan benda pipih itu di telinganya, mendengarkan suara manis Diani di seberang sana. "Oke, tapi hari ini kita harus ketemu!" "Boleh, nanti kita ketemu di hotel biasanya ya, kamu tunggu di lobby aja, nanti kita naik sama-sama." Diani menyetujuinya, Adam menutup telepon dan menyeringai. Membayangkan menikmati kemolekan tubuh Diani di bawah Kungkungannya yang telah menjadi candu baginya. Cinta? Entahlah, Adam tidak ingin memusingkan perasaannya pada gadis itu. Yang terpenting, kebutuhan biologisnya sebagai pria dewasa tersalurkan. Hari menjelang sore, Adam bergegas melajukan mobilnya menuju hotel di daerah Kemang. Saat tiba di lobby hotel lelaki itu menatap sekeliling, seorang gadis dengan bentuk tubuh yang sudah sangat dia hafal-i tengah duduk dengan jaket dan masker menutupi wajahnya. Adam tersenyum, kemudian melangkah cepat. Tergesa- gesa lelaki itu membawa Diani naik ke kamar hotel yang telah mereka pesan, seolah tak kuasa menahan dorongan hasrat yang meninggi yang sedari tadi mengusik benaknya. Diani membuka masker yang menutupi wajahnya, Adam menyadari wajah gadis itu tampak begitu sendu saat dirinya hendak memeluk tubuh kekasih gelapnya tersebut. "Ada apa?" Adam mengernyitkan dahi dan menatap bingung setiap jengkal wajah gadis kesukaannya itu. "Kak...a-aku hamil" Diani takut-takut mengucapkan kalimat di bibirnya. Duarrr!!! Seperti petir menyambar genderang telinganya. Adam membeku, dunia terasa berhenti berputar di sekelilingnya. "A-apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN