"Aku hamil kak!" Diani mengulangi ucapannya dengan bibir bergetar.
Bukan Adam tak mendengar, telinganya masih berfungsi dengan baik, tapi berita yang baru saja dia terima begitu mengejutkan baginya.
Tubuh tinggi tegap itu mendadak terasa lemas, ini di luar dugaannya. Hasratnya yang sedari tadi menggebu mendadak surut dan hilang bak disapu angin.
Diani terduduk di tepian ranjang mewah, gadis itu masih terus tersedu dalam tangisannya.
Adam ikut mendaratkan pantatnya dengan lemah, pikirannya begitu kalut.
"Apa kamu yakin, di? Jangan-jangan kamu salah cek lagi?" Adam berharap semua ini salah.
"Udah kak, badan aku gak enak dari kemarin, pas aku cek dua kali hasilnya positif," ucap Diani dengan suara bergetar menahan tangis.
"Tapi gimana kamu bisa hamil, kita kan selalu pakai pengaman? Atau jangan-jangan...itu bukan anak aku lagi?"
Ucapan Adam cukup membuat Diani shock setengah mati. Bisa-bisanya lelaki itu menyangkal dan menuduhnya seperti itu.
"Kak Adam kenapa bilang seperti itu? Ini jelas anak kakak! Aku gak pernah melakukan hal itu sama siapapun selain kakak!" Suara Diani mulai meninggi dengan wajah merah padam karena amarah.
"Siapa tahu! Lagi pula selama ini kita melakukannya dengan pengaman kok, jadi gimana kamu bisa hamil? Kamu jangan coba-coba jebak aku ya!"
'PLAAAKK!' tamparan tangan Diani mendarat keras di pipi Adam. Meninggalkan jejak lima jari memerah di pipi lelaki itu.
Nafas Diani terengah-engah, emosinya meluap hingga ke ubun-ubun. Lelaki yang amat dicintainya menghinanya serendah itu. Selama ini dirinya dibutakan cinta sehingga dengan suka rela telah menyerahkan mahkota berharganya. Tapi lihatlah, lelaki satu-satunya yang telah mengambil kesuciannya bahkan merendahkan harga dirinya dan mengelak dari hasil perbuatannya.
"Kak Adam keterlaluan! Aku hamil anak kak Adam, aku bahkan belum pernah disentuh lelaki lain, selain kak Adam! Tega-teganya kak Adam..." Diani tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, hanya air mata yang luruh membanjiri wajahnya.
"Oke-oke aku salah, aku minta maaf, aku...aku cuma shock, aku bingung harus gimana sekarang." Suara Adam mulai melemah, dielusnya perlahan pundak Diani yang tersentak naik turun.
"Udah, kamu jangan nangis...kita pikirin solusinya nanti, okay?!" Adam menghapus airmata di wajah Diani.
"Sekarang kita lupain sejenak masalah itu, kamu gak kangen sama aku?" Tanya Adam sambil mengangkat dagu Diani, memaksa gadis itu menatapnya. Diani hanya tersenyum terpaksa. Rayuan Adam memang selalu sukses membuatnya lupa segalanya.
Adam merengkuh tubuh ringkih gadis itu, tangisnya telah mereda. memeluknya semakin erat, menghujaninya dengan ciuman di kepala kemudian turun ke wajahnya. Menciumi setiap inci wajah gadis itu.
Hingga lama-kelamaan, ciuman hangat itu berubah menjadi seperti yang seharusnya Adam inginkan dari Diani. Gadis itu hanya mampu pasrah, terjerat semakin jauh dalam gairah muda yang menggelora dan tiada habisnya.
Ah, gadis naif yang malang. Cintanya hanya pemuas nafsu belaka. Rasa cintanya yang harus dia bayar mahal dengan tubuh dan kesuciannya.
***
Hari-hari berlalu, Minggu mulai berlalu...
Kepastian tentang tanggung jawab Adam terhadap janin yang tumbuh subur di perutnya tak kunjung dia dapat.
Suatu kali Diani mendesak, Adam malah memintanya menggugurkan kandungan itu. Alasannya karena masa depan Diani dipertaruhkan. Bullshit! Diani tahu betul alasan sebenarnya adalah karena Adam tidak mau kehilangan Sita. Dan itu sungguh menyakitinya, meskipun dia tahu andai Sita mengetahui hal ini maka Sita lah yang paling terluka.
Diani memang takut menghadapi semua ini, benar dirinya pun takut akan kehancuran masa depannya.
Tapi menggugurkan janin, membunuh bayi yang tidak berdosa itu bukan jalan yang akan dia pilih. Itu akan membuatnya jauh lebih berdosa, dan mungkin akan membuatnya merasa bersalah seumur hidup.
Diani melalui masa-masa awal kehamilan yang berat seorang diri, tanpa seorangpun yang tahu.
Merasakan rasa mual dan pusing yang tiap pagi menyerang, merasakan bagaimana susahnya menelan makanan. Bahkan Diani melalui masa ngidam yang parah.
Hingga pada akhirnya hari itu tiba...
Hanya pada Adam lah dirinya bisa berkeluh kesah tentang kehamilannya yang berat. Diani menginginkan mangga muda melebihi apapun, dan harus ayah dari janin yang dia kandung itulah yang mencarikannya. Tapi seperti itulah rasanya ngidam.
Walau terpaksa, tapi Adam benar-benar melakukan apa yang Diani pinta. Membawakan mangga muda untuk sang kekasih gelap.
Tapi pertemuan itu berakhir dengan pertengkaran. Diani terus mendesak tanggung jawab Adam, sementara lelaki itu terus berusaha mengelak.
Hingga dengan amarah dan rasa frustasi, Adam meninggalkan Diani seorang diri di kamar hotel dengan sebuah kata terakhir, yaitu putus.
Diani bersumpah akan membuat Adam bertanggung jawab atas semua ini, walaupun itu artinya akan ada banyak hati yang kecewa.
Pagi itu...
Diani menyiapkan hati, membuang jauh-jauh rasa takut menghadapi sang ayah dan ibu, semua demi bayi kecil yang tengah tumbuh di dalam dirinya.
Gadis itu turun, melihat ibu dan ayahnya tengah bersiap sarapan, Sita pun berada di sana, tengah menjejalkan roti dengan selai strawberry ke dalam mulutnya. Kemudian meneguk teh manis dan segera pamit untuk bekerja.
"Aku berangkat dulu ya, assalamualaikum," ucapnya sambil bergegas.
Bahkan sang kakak sempat tersenyum dan melambai ke arah Diani, membuat d**a gadis itu terasa ditekan kuat oleh rasa bersalah.
"Bu, ada yang mau Diani omongin ke ibu," ucap gadis itu ragu-ragu.
"Kenapa sayang?" Ibunya menatap sekilas sambil membereskan sisa piringnya.
"I...itu Diani, anu..."
"Bu, kita berangkat sekarang," suara sang ayah membuat kalimat Diani terpotong.
"Iya, yah sebentar."
"Di, kamu mau bilang apa? Ini ibu buru-buru banget, ada pesanan kue lumayan banyak hari ini soalnya."
"Ehhmm, kalau gitu nanti aja deh Bu. Sore nanti ibu sama ayah bisa pulang cepet gak? Ada yang mau Diani omongin, penting banget."
"Iya, sayang ibu usahain ya. Tapi beneran kamu gak papa?" Sang ibu menatap ekspresi gadis bungsunya yang memucat.
Diani mengangguk, membiarkan ibu dan ayahnya berlalu dengan sejuta perasaan yang berkecamuk.
Menit berlalu, jam pun berlalu...sore pun menjelang.
Suasana menegang saat Diani akhirnya berhadapan dengan kedua orangtuanya.
"Kamu mau bicara apa, sayang?"
Tengkuk Diani mendadak begitu panas, membayangi reaksi apa yang akan diterima dari kedua orangtuanya membuat hatinya mendadak gentar.
Melihat wajah sang anak yang tegang dan pias, kedua orang paruh baya itu saling tatap tidak mengerti.
"Ayah, ibu, Diani minta maaf..." Suara gadis itu bergetar, mati-matian menahan air mata yang menggenang di sudut matanya.
"Minta maaf untuk apa?" Ibunya mengernyit tak mengerti.
"Diani..." Gadis itu tercekat, lidahnya kelu.
"Diani hamil," cicitnya diiringi tangis yang akhirnya pecah.
"Astaghfirullah, Diani...." Jerit ibunya dengan tubuh yang mendadak lunglai.
"Apa? Siapa yang menghamili kamu?" Ayahnya berteriak keras, sambil beranjak dari duduknya. Kemurkaan membayang jelas di raut wajahnya.
"Ampuuun yah, Buu..." Tangis gadis itu makin pecah, tubuhnya merosot. Ibunya yang shock juga terus tergugu.
"Siapa yang menghamili kamu? Jawab ayah!" Suara ayahnya terdengar begitu geram namun berusaha menahan amarah.
"Kak...kak Adam, yah" lirih Diani.
Kedua mata pak Mafrudin Jusuf -ayah Diani- membulat sempurna, mendengar hal yang baru saja meluncur dari bibir sang putri bungsunya.
"Adam?"
***