Sebuah bantuan.

1498 Kata
Back to Sita POV Sejak pertemuanku dengan mas Adam hari itu perasaanku semakin kacau. Ingin rasanya aku menepi sebentar saja dari orang-orang ini, pergi jauh dari rumah. Menghindari orang-orang yang membuatku merasa begitu sesak. "Mbak Sita, dipanggil Miss Mona ke ruangannya." Suara Anne, mengagetkan lamunanku. "Oh, oke An, makasih ya." Aku menarik nafas sebelum melangkah menuju ruangan Miss Mona. 'tok..tok...tok' "Masuk." Aku mendorong pintu perlahan, "selamat siang Miss." kulihat wanita yang masih cantik di usianya yang telah beranjak setengah abad itu tengah duduk dan membetulkan letak kacamatanya sambil menatap tajam ke arahku. "Selamat siang, silahkan duduk, Sita." Aku mengangguk, kemudian menarik kursi tepat di depan meja Miss Mona. Mendaratkan b****g dan duduk dengan tegang. "Sita, laporan yang kamu kasih ke saya kenapa bisa berantakan seperti ini?" Miss Mona terdengar menghela nafas kasar. Melemparkan lembaran kopian laporan keuangan yang ku berikan kemarin. "Apa ada yang salah Miss?" "Apa perlu saya yang tunjukan dimana letak kesalahannya? Coba kamu lihat lagi dengan benar!" Suara wanita itu meninggi dan tajam. Aku meraih lembaran-lembaran itu, menelitinya dengan seksama setiap baris yang tertulis di sana. "Ah, aku salah menempatkan pos penerimaan pembayaran, ada saldo negatif pada sebuah akun klien." Aku bergumam sendirian menyadari sesuatu yang salah. "Maaf Miss." Hanya itu yang mampu aku ucapkan, aku menggigit bibir bawahku karena di dera perasaan gugup dan khawatir. "Sita, sudah berapa lama kamu kerja di sini? Sudah cukup lama kan?" Wanita itu mendesah, membetulkan kacamata kecilnya yang melorot ke hidung. "Saya sangat menyayangkan bahwa kamu bisa ceroboh dengan melakukan hal bodoh semacam ini. Jangan sampai saya kasih kamu SP hanya karena sebuah human eror macam ini." "Maaf Miss, saya akan perbaiki ini, sekarang juga," ucapku mengiba. Untuk beberapa saat wanita dengan setelan blazer merah maroon itu terdiam. Wajahnya yang disapu make up tebal dan lipstik menyala untuk menutupi garis penuaan itu tampak serius menatapku, tapi aku pun bisa melihat ekspresinya yang tak biasa. "Sita, saya tahu kamu sedang dalam kondisi yang buruk saat ini." Miss Mona melepas kacamatanya, ekspresinya berubah, suaranya pun sedikit melembut. "Tapi tolong, jangan bawa masalah kamu ke kantor, itu bisa mengacaukan pekerjaan kamu." "Maaf miss." Aku hanya bisa menunduk, benar apa yang Miss Mona katakan. Masalahku dengan mas Adam memang membuat konsentrasi ku berantakan. Pikiranku tidak bisa fokus, dan terbukti karena hal itu akhirnya aku membuat kesalahan konyol dalam pekerjaanku. "Saya mengerti apa yang kamu rasakan, karena saya pernah berada di posisi kamu saat ini." Hah? Sungguh pernyataan Miss Mona sukses membuatku terkejut. Aku reflek menatap wajahnya, kukira wanita itu akan menunjukan wajah bersedih, tapi ternyata aku salah, dia tersenyum. "Maksud Miss Mona?" "Iya, saya pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini. Dikhianati oleh lelaki yang saya cintai. Bahkan dua kali, oleh orang yang berbeda, Sita." Aku mendongak mendengarkan wanita yang selalu perfeksionis itu tengah menceritakan masa lalunya. "Tapi itu belum seberapa, kamu tahu yang paling menyakitkan? Ayah saya sendiri juga mengkhianati ibu saya, bahkan kami memergokinya langsung, hahaha." Miss Mona tertawa getir. "Semua lelaki itu sama brengseknya, makanya sebagai seorang wanita kita harus kuat, mandiri, tunjukan bahwa tanpa laki-laki kita juga bisa hidup lebih baik dan bahagia," kata Miss Mona dengan tegas. "Maka bekerjalah dengan baik, tunjukan bahwa kita sebagai wanita juga bisa sukses," imbuhnya. Kini aku mengerti...ku kira selama ini Miss Mona betah melajang hingga usianya kini karena terlalu perfeksionis dan pemilih. Tapi semua itu salah, ternyata dia memilih melajang karena pernah disakiti dan di khianati sepertiku. Oh Tuhan, apa aku juga akan berakhir sama seperti Miss Mona? Tidak! Tidak! Aku tidak mau menjadi perawan tua seperti itu. Aku harus bangkit, aku tidak mau terpuruk seumur hidup seperti Miss Mona, hanya karena dikhianati oleh mas Adam. Meski belum tahu kapan, tapi aku pasti akan membuka hati untuk lelaki lain. Aku juga ingin menikah, punya anak dan bahagia. Aku tidak mau jadi perawan tua. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Tapi...setidaknya aku berterimakasih, karena Miss Mona aku jadi punya semangat termotivasi kembali untuk menata hidupku. *** Hari ini aku lembur, tapi dengan senang hati kulakukan. Dibandingkan harus berada di rumah, aku lebih memilih menghabiskan lebih banyak waktu di kantor. Langit di luar sudah mulai menggelap, Kerlip lampu kota Jakarta terhampar di balik jendela dari lantai 3 tempatku bekerja. Persis seperti ribuan bintang yang bertaburan. Hampir jam tujuh malam, aku menata lembaran kertas yang baru saja selesai aku print. Merapikan meja kerjaku, kemudian bersiap untuk pulang ke rumah, huh akhirnya. Suasana lengang, saat mencapai pintu depan aku melihat seseorang yang gestur tubuhnya sangat tidak asing di mataku. "Mas Adam." Aku hanya menggumamkan namanya. "Sita, aku tunggu dari tadi. Kenapa baru keluar? Kamu lembur, sayang? Kita pulang sama-sama ya." Tubuhnya begitu dekat padaku, kemejanya tampak berantakan dan bau alkohol yang memuakkan menguar dari mulutnya. Bau yang sangat aku benci! "Mas kamu mabuk?" "Enggak, sayang Aku cuma minum sedikit. Kita pulang sama-sama ya, aku pengen ngobrol sama kamu." Tangannya mulai menarik-narik tanganku. Aku tidak suka. "Mas, kamu apa-apaan sih? Aku kan udah pernah bilang, kita udah gak punya hubungan apa-apa lagi mas. Jadi jangan pernah panggil aku 'sayang' lagi, dan jangan temui aku lagi. Minggu depan kamu dan Diani akan menikah, jadi jangan ganggu aku." Aku berusaha melepas cekalan tangannya. Dan di saat yang sama, aku melihat Rama berjalan tidak jauh dari tempat kami, Hoodie abu-abu andalannya tersampir di bahunya. Ah dia lagi, dia lagi, kenapa dia selalu ada di saat seperti ini ya? Apa tidak ada OB lain, pegawai lain atau siapapun yang bisa ku mintai tolong selain si songong ini? "Tapi aku cinta sama kamu, Sita." "Tapi aku udah gak cinta sama kamu, mas." "Bohong, aku tahu kamu juga masih cinta sama aku, gak mungkin kamu secepat itu melupakan aku." Mas Adam mengeratkan genggaman tangannya, tapi aku menepis sekuat tenaga. "Aku gak bohong, mas. Aku udah gak cinta sama kamu, aku udah move on dari kamu. Bahkan aku udah punya pacar baru!" Aku berbalik, berjalan cepat menuju ke arah Rama yang sepertinya bersiap pulang dan semakin dekat. Kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memanfaatkan si kanebo kering. Siapa suruh dia selalu berada di waktu yang tepat seperti ini. Apa dia juga lembur sama sepertiku? Ah masa bodoh. "Sayang, aku udah nungguin kamu dari tadi. Jadi Anter aku pulang kan?" Tanyaku dengan senyum di wajah dan bergelayut manja di lengan Rama. Lelaki itu menatapku sambil mengernyit tidak mengerti, aku hanya memberi isyarat lewat mataku agar dia mau membantuku dan terus berharap dia tidak mengacaukan sandiwara ini. Ku harap dia tidak sebodoh yang aku pikirkan. "Sita, apa maksudnya ini? Dia siapa?" Wajah mas Adam terlihat memerah, mungkin dia marah aku tidak peduli. "Dia pacar aku mas, namanya Rama. Jadi tolong mas Adam jangan gangguin aku lagi." Dari tatapannya mas Adam tampak memindai Rama. Ku harap dia sadar diri dan kemudian mundur, tidak lagi menggangguku. "Hahahaha, dia pacar kamu? Aku gak percaya." Diluar dugaan mas Adam justru tertawa terbahak-bahak. "Saya memang pacarnya Sita, jadi tolong jangan ganggu Sita lagi." Rama akhirnya bersuara, membuat tawa mas Adam mendadak lenyap. Aku pun lumayan terkejut, tapi juga senang karena akhirnya si kanebo kering memahami perannya dan bisa membantuku. "Sita, kamu pacaran sama cleaning service?" Mas Adam bertanya padaku, tapi matanya terus menatap tidak suka pada Rama. "Memangnya kenapa kalau cleaning service, mas? Yang penting kami saling mencintai, dan yang terpenting dia setia!" Ucapku dengan penuh penekanan, dan jangan lupa, tanganku masih terus bergelayut manja pada Rama, biar mas Adam panas sekalian. "Aku gak bodoh ya, Sita. Kamu pikir aku percaya kamu pacaran sama orang macam ini?" Tangannya menunjuk muka Rama. "Lagipula, mana bisa kamu jatuh cinta sama orang secepat itu, aku gak percaya." "Terserah kamu mau percaya atau gak, mas. Tapi itu gak akan mengubah keadaan kalau saat ini aku dan Rama sudah resmi pacaran. Kamu percaya atau gak, itu gak penting." "Ayo sayang." Aku menarik tangan Rama menjauh dari mas Adam yang terlihat frustasi, rasakan! Saat kami sudah sedikit jauh, aku kembali menoleh. Mas Adam sudah menghilang bersama mobilnya yang tadi terparkir di depan. Syukurlah, aku bisa bernafas lega, untuk saat ini. "Mbak utang penjelasan sama saya." Rama melipat tangannya dan berdiri tepat di depanku. "Itu tadi mantan pacar aku, tapi masih ngejar-ngejar kaya orang gila," kelasku padanya, dia hanya menggeleng dan aku tersenyum. "Huffft, makasih ya kane-- ups, Rama." Aku reflek menutup mulutku dengan kedua tangan, hampir saja aku memanggilnya kanebo kering. "Kane?" Tanyanya dengan dahi mengernyit. "Ah, oh apa? Kane apa?" Aku pura-pura tidak mengerti. "Mbak tadi bilang Kane, Kane apa?" "Kane apa? Kapan? Ah enggak, kamu salah denger kali, hahaha." "Ck, yaudahlah." Ucapnya kemudian melangkah di depanku, huufft leganya.hahaha. "Oh iya, soal bantuan yang tadi, itu gak gratis mbak," katanya sambil berputar ke arahku. "Hah? Aku harus bayar berapa?" Dasar cowok matre, dimintain tolong gitu aja musti bayar. Apa dia butuh uang banget? Tapi bisa jadi sih ya, mungkin gajinya sebagai OB gak cukup buat makan. "Berapa?" Aku mengulanginya sambil merogoh tas untuk mencari dompetku. "Gak sekarang, tapi nanti mbak harus bayar. Bukan uang, tapi bantuan," jelasnya sambil berlalu pergi. "Apa maksudnya? hey, maksudnya gimana?" aku berteriak, namun Rama sama sekali tidak menjawab.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN