Akhir-akhir ini rumah di sibukkan dengan rencana pernikahan yang dua hari lagi akan di gelar.
Bukan pernikahanku, tapi pernikahan Diani. Entah aku harus bagaimana sekarang, apa aku harus berbahagia?
Ibu bilang, hanya akan ada sebuah akad nikah dan resepsi sederhana. Tamu undangan tidak akan sebanyak rencana awal. Hanya keluarga dan orang-orang terdekat kami.
Sebenarnya, kabar rencana pernikahanku dengan mas Adam memang sudah tersebar di kalangan keluarga besar kami, teman-teman ku, tetangga dan kerabat ayah dan ibu.
Kami harus bersiap menghadapi gunjingan banyak orang, jujur aku tidak kuat menghadapi ini semua. Tapi demi orang tuaku, aku harus tegar bagaimanapun jalannya.
Aku tidak ingin banyak terlibat dalam persiapan ini, hatiku sakit setiap kali melihat ornamen dan dekorasi yang sedang di persiapkan. Hatiku tidak sanggup.
Aku lebih memilih mengurung diri di kamar, menjaga hati dan perasaanku. Jika bukan diriku sendiri yang menjaga hatiku lantas siapa?
Bahkan orang yang paling dekat dengan kita bisa berubah menjadi pengkhianat paling kejam sedunia. Getir memang.
"Sita! Sita, boleh ibu masuk."
"Iya, Bu." Aku bangkit dari ranjang, kemudian duduk di tepian.
"Kamu lagi apa?"
"Nggak apa-apa Bu, cuma lagi tiduran aja. Sita capek," ucapku berbohong.
"Ibu tahu, ini berat sekali buat kamu. Ibu ngerti perasaan kamu." Tangan lembut ibu mengelus perlahan pipiku.
"Sita, boleh ibu tanya sesuatu?"
Aku mengangguk lemah, "boleh Bu, ada apa?"
"Apa besok kamu mau turun dan menyaksikan pernikahan adikmu?"
Aku tidak tahu, sungguh. Apa aku mampu dan kuat untuk menyaksikan lelaki yang telah bertahun-tahun kucintai menikah dengan wanita lain? Menikah dengan adikku?
Aku hanya mampu terdiam, aku tidak punya jawaban atas pertanyaan ibu.
"Ibu nggak akan memaksa kamu untuk hadir di acara pernikahan Diani dan Adam besok, kalau kamu tidak mau. Ibu mengerti perasaan kamu, nak."
"Sita sudah ikhlas Bu, tapi...Sita gak tahu sita mau hadir atau gak," jawabku lirih.
"Ibu mengerti, Ta. Itu semua terserah kamu, kamu yang putuskan."
"Tapi...Diani bilang, dia mau kakaknya mendampinginya di hari istimewanya besok. Diani mau kamu pakai ini." Ibu menyodorkan sebuah lipatan baju berbahan brokat dengan payet manik-manik indah bertabur. "Kalau kamu bersedia hadir, Diani mau kamu pakai baju ini, Diani mau kamu dampingi dia."
Aku mengulurkan tanganku, menerima lipatan baju brokat berwarna ungu muda itu. Ini adalah seragam Bridesmaids untuk pernikahanku.
Aku yakin aku tidak salah kira, karena bahan brokat itu aku sendiri yang memilihnya.
Ku bagikan ke beberapa sahabat dan keluarga termasuk diani, untuk mendampingiku sebagai Bridesmaids di hari bahagiaku.
Tapi kini semua berbanding terbalik, kebaya pengiring pengantin ini berada di tanganku. Apa maksud Diani memberikan ini padaku? Apa dia sedang mengejekku? Apa aku begitu menyedihkan baginya.
"Ibu gak akan pernah maksa kamu, kalau kamu keberatan, kamu gak perlu hadir. Ibu mengerti, Diani pun pasti nanti akan mengerti."
Aku masih terdiam, bibirku kelu dan tak sanggup mengatakan apapun.
"Ibu cuma mau menyampaikan itu, kalau kamu sudah sedikit tenang, bicaralah pada adikmu. Bagaimanapun juga Diani itu adik kandungmu sendiri, Sita. Sampai kapan kamu mau mendiamkan adikmu?"
"Iya Bu, Sita ngerti. Tapi...Sita belum tahu, kita lihat besok ya Bu," jawabku dengan memaksakan seulas senyum.
"Ya sudah, kamu istirahat, ibu keluar dulu."
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Tanganku masih menggenggam erat kebaya brokat berwarna ungu muda itu di tangan.
***
Akhirnya hari ini tiba, hari yang mungkin paling membahagiakan untuk Diani dan juga mas Adam.
Tapi hari ini merupakan hari paling menyedihkan bagiku. Ya, sebentar lagi adikku akan menikah dengan mantan calon suamiku.
Sejak pagi aku tidak keluar dari kamar, aku tidak sanggup jika harus berpura pura, seolah bersikap semuanya baik-baik saja.
Aku bisa mendengar suasana mulai ramai di luar sana. Apa mungkin tamu sudah hadir?
Aku hanya mampu mendesah, menguatkan hatiku. Aku sudah bertekad untuk kuat demi kedua orang tuaku. Aku tidak ingin mereka kecewa.
Bergegas aku menyambar handuk dan mulai mandi. Kemudian menyiapkan diriku secantik mungkin. Aku tidak mengerti kenapa tanganku bergetar saat menyentuh kebaya Diani. Sudah ku putuskan, aku akan menghadiri pernikahan adikku. Akan ku tunjukan pada dunia bahwa aku wanita kuat, aku tidak akan lemah dan hancur hanya karena dikhianati lelaki model Adam.
Aku meraih kebaya berwarna ungu tersebut, mengenakannya di badanku. Memang sedikit longgar, tapi tetap membentuk sempurna di tubuhku.
Diani memang sedikit lebih berisi dibanding diriku, terlebih akhir-akhir mulutku rasanya begitu susah menerima makanan, membuatku rasanya semakin kurus.
Aku merapikan rambut, membuat sanggul sederhana dengan jepit rambut keperakan berbentuk buket bunga mawar.
Kemudian, menyapukan make up sedikit lebih berani dibanding biasanya. Aku tidak terlalu suka mengenakan make up tebal ataupun lipstick dengan warna menyala.
Tapi kali ini aku merias wajahku secantik mungkin, tak lupa menempelkan bulu mata palsu ekstra lentik di mataku.
Diluar suara-suara semakin ramai, bahkan bisa ku dengar suara MC telah membacakan urutan prosesi pernikahan.
'tok...tok..rok...'
"Ta, ini aku Vani."
"Ya, Van. Masuk aja, gak dikunci," jawabku sambil menyapukan blush on di pipi.
"Ta, kamu lagi ngapain?"
Aku berbalik badan, kemudian tersenyum menatap sahabatku yang berdiri anggun mengenakan kebaya yang sama persis seperti yang saat ini ku kenakan, kebaya yang seharusnya dia pakai saat pernikahanku.
Wajah Vani tampak terkejut dengan mata yang membulat.
"Lagi siap-siap." Jawabku sambil tersenyum.
"Ta, kamu cantik banget. Sumpah deh gak bohong!" Ucapnya sambil menatap wajahku lekat, membuatku malu rasanya.
"Ehmmm...ta, kamu yakin mau turun? Kamu yakin kamu mau melihat pernikahan Diani?" Tanya Vani dengan nada suara yang kurasa sangat hati-hati. Mungkin dia takut menyinggung perasaanku.
"Iya, Van. Aku yakin, aku akan berusaha kuat. Aku mau semua orang tahu kalau aku baik-baik aja."
"Lagipula, aku gak mau ibu dan ayah sedih," lirihku.
"Yaudah deh, kalau gitu kita turun yuk, ta. Acara ijab kabul nya sebentar lagi."
"Iya, Van."
Aku menarik nafas dalam-dalam, menguatkan hatiku mati-matian untuk menghadapi ini.
Vani menggandeng lenganku, menuruni tangga perlahan. Ku edarkan mata, seluruh ruang tamu dan ruang keluarga telah di sulap sedemikian cantik, dengan dekorasi berwarna dominan emas dan burgundy, warna kesukaanku.
Tamu-tamu telah hadir, sementara aku melihat di tengah ruangan terdapat sebuah meja dengan enam buah kursi mengelilingi meja putih tersebut, hiasan bunga mawar menghiasi begitu cantik di sana.
Mas adam, ayah, om hendra tengah duduk disana. Juga ada beberapa orang yang ku taksir adalah para saksi, petugas KUA dan juga penghulu tengah bersiap.
Aku bisa merasakan semua mata menatap ke arahku, rasanya begitu menusuk. Seolah aku tengah menjadi bahan gosip yang siap dikuliti.
Tapi mataku terhenti, saat menatap gadis itu. Yang tengah duduk di samping ibu. Dengan riasan pengantin sangat cantik, singer terpasang di kepalanya, dan dia sedang mengenakan kebaya broken white milikku, ya kebaya yang seharusnya aku yang mengenakannya kini.
Air mata menggenang di pelupuk mataku. Oh tuhan, kuatkan aku. Ku mohon!
***