Pernikahan.

1160 Kata
Dadaku bergejolak hebat, terjadi pergulatan batin di dalam diri ini. Di satu sisi aku ingin pergi sejauh mungkin dari tempat ini segera, tapi disisi lain aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku baik-baik saja. Meski sumpah demi apapun, aku benar-benar TIDAK baik-baik saja. "Ta, kalau kamu gak kuat mending kita gak usah turun deh, kita balik ke kam..." "Enggak, Van. Aku gak papa," aku berusaha tersenyum dan perlahan melanjutkan langkahku yang sempat terhenti di tangga ini. Yang bisa ku lakukan adalah menggenggam erat tangan Vani, mati-matian mengusir rasa sesak di d**a. "Ta, tangan kamu dingin," bisik nya di telingaku. "Oh, aku cuma gugup, Van." Semua orang lagi-lagi menatapku, aku bisa merasakan aku menjadi pusat perhatian tamu-tamu yang hadir. Beberapa tampak tersenyum ke arahku, beberapa lain seperti tengah berbisik dengan orang di sampingnya, apa mereka menggosipkan ku? Tapi kalian tahu, yang paling menyakitkan adalah kebanyakan dari mereka menatap iba terhadapku, melihatku dengan rasa kasihan. Bukan rasa iba dan kasihan itu yang aku inginkan, aku mencoba memberikan senyum terbaikku pada semua orang. Menunduk sembari tersenyum pada mereka yang menatapku. Membalas belas kasihan mereka dengan ketegaran ku. Akan ku tunjukan bahwa aku kuat, aku tidak selemah yang mereka kira. Tak terkecuali pada Adam dan keluarganya, mereka harus tahu bahwa aku baik-baik saja. Aku melihat om Hendra dan Tante Riana -kedua orang tua Adam- tengah menatapku dengan pandangan yang tidak ku mengerti. Sedih kah? Bahagiakan? Menyesal kah? Dan meski perih, tapi mataku tak kuasa menolak untuk tidak menatap lelaki itu. Lelaki yang ku gantungkan impianku padanya, lelaki yang ku harap akan menjadi ayah dari anak-anak ku. Lelaki dengan jas berwarna putih, di padu dengan celana panjang dan kain melilit pinggangnya. Sebuah busana tradisional modern, senada dengan kebaya yang di kenakan Diani. Aku masih ingat ketika mas Adam mencoba setelan baju itu di butik avana. Dengan gagah dan senyuman mengembang dia tunjukan saat pakaian itu melekat padanya. Tidak ada yang lebih membahagiakan kala itu, setiap malam setelahnya aku terus membayangkan hari pernikahan kami. Tapi disinilah aku sekarang... Menatap lelaki yang sama dengan baju yang sama, tapi bersanding dengan orang lain. Akan mengucap janji sehidup semati, tapi bukan denganku. Mas Adam membalas tatapanku dengan sendu, tak ada senyum di wajahnya. Aku melihat penyesalan tergurat di wajah tampannya, kenapa dia menyesal? Bukankah ini yang dia inginkan? Ini hari bahagianya bukan? 'andai saja kamu tidak mempermainkan cinta kita separah ini mas, andai kamu bisa menjaga hatimu mas, maka hari ini pasti akan menjadi hari paling membahagiakan untuk kita' ingin rasanya ku teriakkan kata-kata itu di depan wajahnya. Mendadak mataku terasa begitu panas, kemudian mulai mengabur oleh genangan airmata. Tidak! Aku tidak boleh menangis! Ku usap air mata yang belum sempat turun itu dengan cepat, tidak akan ku biarkan siapapun melihat air mata ini turun hanya untuk menangisi para pengkhianat itu. Ibu menatapku datang, mengisyaratkan dengan tangannya agar aku duduk di sampingnya. Gadis yang harus ku panggil adik itu turut menatapku, bibirnya menyunggingkan senyuman padaku, apa dia berterimakasih karena aku mau datang? Dia harus tahu, aku datang kesini bukan untuk mendampinginya, tapi aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku tidak akan menangisi sampah yang telah dia pungut dariku, oh maaf...sampah yang telah dia rebut. Aku hanya menggeleng menjawab keinginan ibu, aku tidak mau jika harus berdekatan dengan sang calon mempelai wanita itu. Aku lebih memilih duduk bersama Vani, Vani menggandengku untuk duduk bersamanya dan kak Ivan, lebih menjauh dari ibu dan diani. "Hai, Sita." "Oh, hai kak Ivan, udah dari tadi?" Tanyaku pada kakak sahabatku ini. "Belum lama," jawabnya tersenyum. Namanya Ivan Akbar, kakak satu-satunya Vani, sahabatku yang super comel dan cerewet. Berbeda dari Vani, kak Ivan orang yang cenderung pendiam, tidak suka terlalu banyak bicara, dan orang yang serius. Ya, serius dalam hal apapun, terlebih tentang pekerjaan. Tapi yang aku tahu, kak Ivan orang yang baik. Selain kakak dari Vani, kak Ivan adalah teman mas Adam sejak kuliah. Bukan karena dunia sempit, tapi pertemuanku dengan mas Adam terjadi karena kami bertemu di rumah keluarga mereka. Dengan tujuan yang berbeda tentu saja. Aku menemui Vani, dan mas Adam menemui kak Ivan. Begitulah kami dipertemukan dan akhirnya berlanjut dengan merajut kasih. Kata mas Adam, kak Ivan adalah seorang kutu buku, ya aku bisa melihatnya dari kacamata yang setia bertengger di wajahnya. Lelaki dengan tubuh tinggi, berperawakan sedang, rambut yang selalu rapi. Dan sedikit irit bicara, jauh sekali dibanding Vani yang cerewet suka sekali bergosip ria. Kadang aku berpikir apa benar mereka berdua itu saudara kandung? "Prosesi ijab kabul sebentar lagi akan segera kita mulai, untuk itu mempelai wanita dipersilahkan hadir dan duduk di samping mempelai pria." Suara pembawa acara membuatku menoleh, aku melihat Diani bangkit berdiri, dituntun oleh dua orang gadis yang mengenakan kebaya serupa denganku. Keduanya adalah anak tanteku, yang didapuk menjadi pengiring mempelai wanita. Raut wajah Diani dipenuhi dengan senyuman, ya lihatlah dia begitu bahagia. Dia berbahagia diatas penderitaan kakaknya. Kebaya pengantin 'milikku begitu pas ditubuhnya yang sedikit kurus akhir-akhir ini karena masa ngidam. Ekor kebaya yang panjang menyapu lantai dihiasi taburan mutiara yang indah, mahkota siger di kepalanya tampak berkilauan. Adikku memanglah terlihat lebih cantik, entah karena riasan di wajahnya, karena kebahagiaannya, atau karena aura seorang ibu yang tengah mengandung. Entahlah. Yang jelas, setiap langkah kaki Diani semakin mendekat ke sana, semakin sesak pula rasanya d**a ini. Aku hanya mampu duduk sambil mengeratkan tanganku mencengkeram ujung kebaya. Mencoba membuang pandanganku ke arah yang lain, namun aku tidak bisa. "Baik, semua sudah siap, mempelai wanita dan mempelai pria sudah siap. Bapak penghulu, dan wali nikah serta saksi sudah siap, maka prosesi ijab kabul bisa kita mulai sekarang." Sebelum dimulai semua orang menunduk untuk berdoa, kemudian aku mendengar mas Adam dan Diani mengucap syahadat, air mataku merembes, perasaan ini tak bisa ku bendung lagi. Aku terluka, aku tidak siap melihat ini. Aku tak kuasa, aku terus menunduk seolah menghadapi hidup dan mati. "Ta..." Lirih Vani sambil mengelus perlahan punggungku yang mulai bergetar menahan tangis. "Jangan nangis ta, hapus air mata kamu, jangan sampai Adam lihat kamu nangis." Kak Ivan menyodorkan lembaran tisu ke padaku, aku menatapnya sekilas, kemudian meraih benda putih itu dan menyusut air mata. Benar yang kak Ivan bilang, aku tidak boleh menangis, aku tidak boleh menunjukkan kesedihanku di hadapan para pengkhianat itu. Aku harus bisa kuat. "Bismillahirrahmanirrahim -ayah berdoa lirih dari balik mikrofon- Adamma Fahrizal." "Saya." "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak perempuan saya, Diani Akmal Jusuf binti Mafrudin Jusuf dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 50 gram dibayar tunai." Suara ayah begitu lantang membuat duniaku terasa gelap seketika. Aku hanya mampu menunduk dan memejamkan mata, aku tidak kuat...sungguh, ya Tuhanku! "Saya terima nikah dan kawinnya Sita Mahira..." -hening- Suara mas Adam sukses membuatku mendongak dan menatap lurus ke arahnya. Kenapa dia menyebut namaku? Apa dia lakukan? Mendadak suara riuh tamu undangan terdengar di belakangku. Kulihat wajah-wajah di depan sana memucat, ayah, ibu, om Hendra dan Tante Riana, semuanya terkejut. Sementara wajah mas Adam terlihat seperti frustasi, dan Diani...aku melihat nya menatapku dengan mata berkaca-kaca. Oh, Tuhan! apa lagi sekarang? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN