Jangan ganggu aku!

1255 Kata
Apa yang sedang kamu lakukan, mas? Kenapa kamu menyebut namaku? Apa belum cukup dia menyakitiku sejauh ini, sampai-sampai ingin mempermalukan aku dan keluargaku sekarang? Suara sumbang para tetamu undangan seperti sekumpulan lebah yang berdengung, membuat telingaku rasanya begitu panas. "Maaf, ada sedikit kesalahan, mungkin mempelai pria kita ini sedang gugup, bersanding dengan calon istrinya yang begitu cantik luar biasa." Pembawa acara berusaha mencairkan suasana yang mendadak tegang dan memanas. Ku beranikan diri melirik ke depan, melihat om Hendra tengah berbisik mendekat telinga mas Adam. Sementara ayah, ah lelaki cinta pertama dalam hidupku itu tampak begitu lelah, keringat mengaliri dahinya meski udara begitu sejuk oleh mesin pendingin udara. "Baik, bisa kita ulangi lagi ya? Silahkan." Raut wajah semua orang menegang kembali, suasana para tamu undangan mendadak begitu hening. Lagi, aku harus menyiapkan hatiku untuk mendengar sumpah janji setia sepasang pengantin itu di depan sana. "Saya terima nikah dan kawinnya Diani Akmal Jusuf binti Mafrudin Jusuf dengan mas kawin tersebut di bayar tunai," ucap mas Adam. Air mata yang sedari tadi ku tahan-tahan akhirnya luruh juga. Rasa sakit yang teramat luar biasa mencabik-cabik hatiku hingga berkeping. Tapi, bersamaan dengan airmata ku yang tertumpah, aku melepaskan ikatan ku padanya. Seperti mengurai temali benang yang saling mengikat sayap kami atas nama cinta, seperti melepas layang-layang yang terputus dari ikatannya. Seperti itulah aku melepas mu dari hatiku, mas Adam. Semoga tuhan memberkahi pernikahanmu ini, aku melepas mu dengan ikhlas, aku akan mencobanya. "Ta, sabar ta." "Sakit banget Van, aku...aku gak nyangka akan sesakit ini,"lirihku tercekat. "Iya, aku ngerti ta, tapi kamu harus kuat, bukannya kamu bilang sendiri kamu tidak akan menangisi ini?" Benar, Vani memang benar. Aku memang bertekad untuk menunjukan pada semuanya bahwa aku kuat, tapi aku tidak bisa, aku hancur! "Ta, udah jangan begini dong, semua orang ngeliatin kamu, kamu gak mau kan jadi bahan gunjingan mereka? Jangan buat mereka berpikir kalau kamu belum bisa move on dan menangisi Adam di pernikahannya!" Lagi-lagi Vani benar, aku harus berusaha sekuat tenaga untuk sekali ini saja. Aku kembali menyusut airmata sialan yang selalu luruh tanpa henti di pipiku. Aku harus bersandiwara menjadi orang yang berbahagia meski terluka. Mengulaskan sebuah senyum palsu di wajah. Inilah yang dinamakan tersenyum namun hati menangis. Ini sangat menyiksa ya, tuhan! *** Acara telah usai, tetapi beberapa orang masih terlihat membereskan sisa-sisa dekorasi pesta. Aku melirik sekilas lengangnya suasana rumah, menatap sisa ornamen dekorasi yang mulai terlepas dari tempatnya. Ornamen yang menjadi saksi hari ini, hari paling menyakitkan dimana aku telah melepas semua yang mengikat diriku dengannya. Aku memilih mengurung diri di kamar, tidak sanggup jika harus bertemu mas Adam saat ini. Lelaki yang sangat ku benci namun juga masih ku cintai. Lelaki itu kini berada di rumah ini, berada di bawah atap yang sama denganku. Menghirup udara yang sama dengan udara di sekelilingku. Bahkan mungkin sekarang dirinya tengah berada di seberang kamarku, hanya dinding bata uang dingin ini yang membatasinya. Dia berada begitu dekat, namun tidak lagi bisa Ku sentuh. Aku melepasnya, namun hatiku masih terus terikat padanya. Entah sampai kapan rasa ini akan pudar seutuhnya, aku tidak tahu. Rasa cinta dan benci ini begitu menyesakkan, seperti sebuah koin dengan dua sisi. Aku menggenggam kedua rasa itu di dalam hatiku untuk orang yang sama. Perasaan dan juga ragaku begitu lelah, aku tidak ingat sejak kapan aku terlelap dalam buaian malam. Meringkuk sendirian di ranjang dengan sisa riasan yang telah berubah mengerikan oleh airmata. Air mata yang sedari tadi ku tahan-tahan telah tertumpah dengan leluasa ketika hanya ada aku dan diriku di kesunyian kamar ini. Yang aku ingat, aku terbangun saat waktu telah begitu larut, sekitar pukul sebelas malam. Kepalaku berat karena menangis begitu puas hingga tertidur. Tubuh lengket yang belum sempat aku bersihkan menyisakan rasa tidak nyama di sekujur badan. Ya, kalian boleh menyebutku keterlaluan karena hal ini, tapi kalian mungkin tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi gadis patah hati dan terluka sepertiku. Jangankan memikirkan untuk membersihkan diri, mendapati diriku sendiri masih dalam keadaan waras saja itu adalah sebuah keberuntungan. Perlahan aku bangkit, memandangi wajah berantakan yang mengerikan. Maskara telah menghitam mengaliri pipi. Rambut berantakan mengerikan. Aku bergegas mandi dan membersihkan diri. Berendam sebentar dengan air hangat lumayan membuat otot tubuhku yang menegang rileks kembali. Mengembalikan akal sehatku yang rasanya sempat menghilang karena frustasi dan patah hati. Tapi...kemudian aku mendengar suara dari perutku. Benar, aku belum sempat makan apapun di acara tadi. Bahkan aku melewatkan makan malam karena tidak ingin bertemu mas Adam di bawah. Tapi cacing di perutku berteriak minta diberi makan. Aku melirik jam di dinding kamar, ini hampir tengah malam. Aku rasa tidak ada salahnya aku turun kebawah untuk mencari sesuatu untuk di makan. Toh, aku yakin semua orang sudah tidur, tak terkecuali 'adik ipar' baruku yang sangat ku hindari itu kan? Mungkin dia tengah memeluk istrinya, terang saja ini kan malam pertama mereka, meski bukan yang pertama tentu saja. Aku mulai menuruni tangga, suasana temaram, hanya ada beberapa lampu yang masih menyala. Perlahan aku melangkah menuju dapur, masih ada nasi dalam penanak nasi elektrik. Beberapa lauk dan daging masih terhidang di piring. Aku lebih memilih membuat segelas s**u dan membuat setangkup sandwich isi selai kacang untuk mengganjal perut. Aku duduk dengan tenang, menggigit roti isi selai kacang dengan perlahan. Hanya ditemani suara binatang malam yang bersahutan di luar sana, begitu syahdu dan menenangkan. Suara jangkrik di selingi rintikan gerimis pertama di bulan ini. Apakah langit juga ikut menangisi nasibku? "Sita." Sebuah suara disertai tepukan sebuah tangan di bahuku membuatku kaget bukan kepalang, hingga membuatku tersedak roti yang tengah ku kunyah. "Uhuuk...uhukk.." Aku menoleh dengan cepat, sambil bangkit berdiri dari kursi yang tengah ku duduki. Se raut wajah yang sejak tadi ku hindari, kini berada tepat di depan mataku. Mas Adam berdiri di hadapanku. "Kamu gak papa? Minum dulu, ta," ucapnya sambil mendekat dan menyodorkan gelas berisi s**u milikku. "Kamu ngapain disini, mas?" "Aku nggak bisa tidur, ta...aku...aku terus inget kamu." Hah, cukup sudah! Aku tidak sanggup untuk tetap bertahan berada di ruangan yang sama dengan lelaki b******k ini. Lebih baik aku bergegas pergi menjauhi dia. "Sita, tunggu! Please aku mohon, aku masih sayang sama kamu ta, aku masih cinta sama kamu." Si b******k ini justru mencekal tanganku, menahan ku yang ingin berlalu. "Jaga ucapan kamu mas, kamu itu sekarang sudah resmi menjadi suami Diani, kalau kamu lupa! Kamu gak amnesia kan? Jadi tolong, jangan ganggu aku lagi. Hubungan kita sudah berakhir, sekarang kita hanya sebatas kakak ipar dan adik ipar!" "Nggak bisa, ta. Sampai kapanpun aku cuma akan mencintai kamu, aku gak bisa mencintai Diani." Aku hanya bisa tersenyum sinis mendengar celoteh gila lelaki b*****t ini. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu, sementara jelas-jelas di perut adikku tengah tumbuh anaknya. "Tapi aku udah gak cinta sama kamu mas, aku udah punya pacar baru, kamu udah gak ada artinya di hatiku." "Maksud kamu cleaning service sialan itu? Jangan kira aku bakal percaya sama omong kosong kamu, sita? Kamu gak bisa bohongin aku. Mulut kamu mungkin bisa bilang begitu, tapi mata kamu gak bisa bohong, ta." "Kita berdua sama-sama tahu, kalau kita masih saling mencintai, sayang," ucapnya melembut dan hendak memelukku, aku bisa melihat kerinduan di matanya. "Aku gak bohong, aku dan Rama benar-benar pacaran, mas." Gertak ku sambil menepis tangannya. Hampir saja aku tergoda dan terjebak oleh bujuk rayunya. "Oh, jadi namanya Rama?! Kalau gitu, lihat saja aku akan buat perhitungan pada si cleaning service rendahan macam dia, karena sudah berani-beraninya mendekati milikku!" Raut wajahnya mendadak geram dan merah padam. "Cihh, aku bukan milik kamu lagi, mas! Dan jangan coba-coba deketin Rama!" Ancam ku sambil berlalu, bergegas secepat mungkin menjauh dari pria menjijikkan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN