Seluruh tubuhku basah kuyup, begitu pula dengan Rama. Kepalanya yang basah meneteskan air melalui anakan rambut. Pipinya merona merah karena suhu yang kian dingin. Beberapa kali dia mengusap kepalanya ke belakang, aku suka mengamatinya seperti itu. "Kenapa lihat-lihat? Naksir ya?" Tanyanya mengejutkanku. "Enak aja," kilahku sambil memalingkan pandangan darinya. Kami telah berada di sebuah gubuk kecil yang terbuat dari dinding bambu dengan hanya beralas tanah, atapnya berupa anyaman daun kelapa tapi heran air hujan sama sekali tidak bisa melalui celah atap ini. Rama beringsut, mengambil sesuatu yang tersandar di pojokan. "Ada tikar," ucapnya sambil menggelar tikar yang terbuat dari anyaman pandan. Lebarnya tak seberapa, tapi lumayan untuk bisa kami duduki dibandingkan harus duduk di

