Kadang memang lebih baik diam, dari pada bersuara malah memancing keributan. Hanya dengan sebuah senyuman kujawab pertanyaan ibu tadi, lalu setelahnya lebih memilih mengobrol dengan dokter Athar. Kudengar diam-diam ibu juga meminta dijemput oleh pak Ranu, sehingga rasanya tidak perlu aku mengkhawatirkan dengan siapa ibu pulang nantinya. “Dokter enggak papa nungguin kita dijemput?” “Enggak papa, Rhea. Kalian kan lagi konsultasi. Yah, anggap saja sambil menunggu dijemput kalian konsultasi mengenai kondisi kesehatan.” “Iya sih. Cuma enggak enak aja.” “Kalau enggak enak, kasih bumbu biar lebih sedap.” “Emangnya dokter Athar bisa masak?” Kali ini ibu yang bertanya, namun sepertinya menyuarakan rasa penasaranku juga. “Sedikit. Yah sekedar bantu-bantu istri.” Dia tersenyum. Malu-malu do

