Sibuk memahami orang lain sampai lupa memahami diri sendiri. "Ah? Maksudnya?" tanya dokter Athar bingung dengan tingkahku. Aku yang begitu panik, melirik dokter Athar dan ibu secara bergantian. Ada jeda sejenak ketika aku melihat reaksi kedua orang itu yang ternyata tidak sepenuhnya sadar dengan kalimatku tadi. Sempat-sempatnya aku merasa malu. Dengan bibir yang terkunci rapat, aku berusaha untuk tetap diam dan tenang. Agar tidak menambah curiga dokter Athar dan juga ibu. Namun karena rasa panik, deg-deg’an parah, serta tidak sabar melihat reaksi Elam ketika aku menjawab pertanyaannya sebelum kecelakaan terjadi, akhirnya aku menjerit kembali. Dengan kedua pipi terasa panas, aku bertingkah seperti gadis ABG yang baru mendapatkan pernyataan cinta dari seorang laki-laki. "Rhe ... k

