Mungkinkah fakta malah membuat derita jika terucap? Karena pak Ranu tidak kembali-kembali, akhirnya aku meminta tolong suster tersebut untuk di antarkan ke ruang icu. Segala perasaan yang muncul saat ini sama sekali tidak bisa kugambarkan. Jika ditanya apa aku bahagia? Jelas aku sangat bahagia setelah ibu dapat bangun kembali. Namun selain perasaan bahagia, ada juga perasaan takut yang mendominasi hati ini. Kenapa bisa kubilang seperti itu, karena pikiran burukku yang memperkeruh semuanya. Bagaimana seandainya aku tidak bisa kembali lagi ke posisiku semula? Bagaimana aku bisa menjalani peran menjadi ibu, padahal aku belum pernah menikah, bahkan belum memiliki anak. Dan parahnya bagaimana bisa aku menganggap orang yang paling kubenci menjadi suamiku? Orang yang berhasil membuat kondisi

