Bab 23

1199 Kata

Ingin kupercaya, namun sayangnya hati tidak pernah menerima   Sekalipun aku tidak mengeluarkan sepatah katapun dalam acara kumpul malam ini tapi pastinya ekspresiku sudah sangat mewakilinya. Aku memang menekuk masam wajahku, dan lebih memilih duduk dibarisan terjauh dari posisi ibu yang masih kulihat bisa tersenyum. Apalagi ketika om Kian datang, suasanya semakin ceria, tetapi tidak untuk diriku. Aku hanya seseorang yang semakin lama tidak dianggap, karena mereka terus saja membahas masa depan. Sedangkan diriku terus menerus terpuruk pada masa lalu. Masa dimana hanya ada ayah, ibu dan aku. “Rhe …” sapa Elam mendekat. Dia duduk di sampingku. Memaksakan senyumannya, sembari menggenggam tanganku erat. Soal memahami bagaimana perasaanku kini, Elam memang tidak banyak bicara, namun dia mena

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN