Inilah salahnya mencintai pada sosok yang berbeda. Lebih menakutkan dari pada insiden kecelakaan yang pernah kualami sebelumnya, aku berulang kali menarik napas berat, mengembuskannya perlahan demi menenangkan ritme jantungku yang rasanya ingin meledak. Masih memeluk erat pakaian ganti yang mau kupakai, posisiku kini bukanlah sedang berada di dalam kamar mandi. Namun aku tengah berdiri di depan ranjang, dimana pak Ranu sedang berbaring di sana, menatapku seperti orang kelaparan. “Apa hal seperti ini harus dilakukan?” tanyaku ketakutan. Dia nampak membenarkan posisi berbaringnya. Menempatkan kedua tangan ke belakang kepala, sambil tersenyum menggoda kepadaku. Apakah malam menyeramkan ini dapat kulalui? Dengan tanganku yang gemetar, satu demi satu pakaian yang sedang kupakai meluru

