Kamu benar, ternyata kabur bukanlah solusi terbaik dalam membentuk kebahagiaan. Panjang lebar aku meributkan hal ini dengan Elam, akhirnya Elam berhasil membuatku luluh. Aku mengikuti segala sarannya, memilih diam, dari pada kehilangan. Buktinya Elam rela terluka karena cubitan dan cakaranku, hanya untuk tetap disampingku. Mendampingiku. Dan menurutku, kata-kata Elam cukup benar. Lebih baik terluka namun tetap bersama, dari pada terluka dan harus berpisah. Seperti kondisiku dengan ibuku. Jika aku berpisah dengannya, aku merasakan terluka dua kali. Yakni terluka karena dia menikah dengan orang yang menurutku tidak sesuai, yakni pak Ranu, dan yang kedua, aku akan jauh lebih terluka karena hidup terpisah dengan ibu. Akan sehancur apa jadinya diriku? Oleh karena itu, setelah berdamai da

