Seperti mimpi buruk, aku akhirnya harus mengakui takdir ini. Kedatangan om Kian sama sekali tidak kuduga sebelumnya. Dihari libur yang seharunya bisa kupergunakan untuk beristirahat, ternyata malah mendapatkan nasihat panjang dari om Kian. Entah bagaimana ceritanya, beliau akhirnya tahu aku ada masalah dalam menerima pak Ranu menjadi bagian dari keluarga ini. Dia mengucapkan banyak hal kepadaku, dengan ujung ceritanya adalah tidak boleh menilai seseorang dari satu sudut pandang saja. Bahkan bagaimana bisa kata-kata yang pernah kusampai kepada ibu, om Kian kembalikan kepadaku. Waktu seumur hidup pun akan tetap kurang jika digunakan untuk memahami seseorang. Tidak bisa memberikan komentar apapun aku hanya diam, mendengarkan setiap kata yang dikatakan oleh om Kian. Bahkan dibeberapa po

