Sesekali mensyukuri hal-hal yang terjadi adalah jalan pintas untuk bahagia. Hanya 20 menit setelah aku meminta Elam datang, suara laki-laki itu sudah terdengar di rumahku. Disambut oleh pak Ranu yang bertanya mengenai pekerjaan laki-laki itu, tak lama kudengar pintu kamar ini diketuk oleh seseorang. Setelah berulang kali meyakini dan mensyukuri semuanya sudah kembali normal, kubuka pintu kamarku dan melihat sosok Elam berdiri di sana. Dia sejenak tersenyum padaku. Dengan manik mata yang berkaca-kaca, Elam mengiris menahan kesedihannya. Sekalipun tidak ada kata yang kuucapkan, Elam sadar bila aku telah kembali. Rheanya telah kembali. "Miss you." Mengucapkannya dengan lirih, Elam menarikku ke dalam pelukannya. Kepalanya tertunduk di bahuku. Dengan tubuhnya yang bergetar karena mena

