Menangislah, sampai kamu tahu sampai di mana batas air matamu. Setelah menarik tuas rem, hingga menghentikan mobil ini, perlahan-lahan tumbuhku ambruk dan bersandar pada kemudi mobil. Dengan air mata yang terus mengalir, isakan tangisku semakin jelas terdengar. Dengan bias-bias pandangan, aku menatap gedung berwarna merah, berlantai 3, di mana pernah menjadi tempat aku belajar. Walau tampilannya sudah sangat jauh berbeda, tapi pada beberapa sudut, semua masihlah sama. Sama ketika pada masa itu ayah mengantarkanku untuk pergi sekolah. Dia melepasku di depan kelas. Di bawah pohon yang rindang, tempat murid-murid bermain kala jam istirahat. Rasanya, ketika aku melihat posisi itu sekarang, aku masih bisa melihat gambaran ayahku di sana. Dengan postur tubuh tinggi, dan cukup kurus untuk u

