Bab 25

1164 Kata

Aku memaksa untuk tidak menerima. Tapi sayangnya takdir selalu tahu jalan yang utama untuk segalanya.   Wow. Ini terlihat sangat gila. Baru semalam keluarga pak Ranu datang dan sibuk membicarakan pernikahan, pagi ini laki-laki menyebalkan itu sudah kembali bertamu ke rumahku. Membawa beberapa menu untuk sarapan, Pak Ranu memasang senyum sumringah ketika ibu mempersilakannya untuk masuk.   Elam yang baru saja bangun dari kasur lantai, menatap pak Ranu heran karena sudah berada di sini, pagi sekali. “Loh, enggak kerja?” tanya pak Ranu ketika memilih duduk di kursi tamu, menatap Elam yang masih setengah terpejam. “Ngajuin cuti.” “Wah, pas banget dong berarti.” Kulihat dia tersenyum kepada ibu, ketika secangkir teh hangat ibu antarkan kepadanya. “Kita ke toko perhiasan hari ini, gimana?

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN