Casey memutar tubuhnya di hadapan cermin dengan kaku. Mematut tubuhnya yang menggunakan kaus dengan Hoodie hitam khasnya. Masker sudah bertengger di wajahnya yang mungil, menutupi luka yang masih menyisakan sedikit bengkak membuatnya malu jika harus menunjukkan wajah ini pada orang-orang. Tepat saat ia melangkah ke arah rak sepatu mengambil sepatu sneaker nya, Willis muncul dengan setelan kaus hitam kasual yang rapi terlihat kontras dengan kulitnya yang putih pucat seperti vampir. Namun Casey tetap harus mengakui bahwa pria itu tetap terlihat tampan. Tanpa sadar Casey mempoutkan bibirnya, ia jadi teringat saat pertama kali ia bertemu dengan Sean, Sean yang berdiri di atas balkon lantai dua dengan topeng hitam yang juga terlihat kontras di wajahnya, bibirnya terangkat setengah menatap kemunculan Casey dari gerban pintu pesta. Meskipun tidak jelas, Casey dapat melihat gigi Sean yang runcing seperti taring. semakin memngaminkan pemikiran Casey yang berpikir bahw apria itu sangat tampan di level manusia, ketampanan yang tidak realistis membuat Casey bertanya-tanya apakah ketampanan pria itu ia dapatkan dari hasil bedah. tapi tentu saja ia tidak mungkin menanyakan. jika itu Sean yang kebetulan ia tanyai hal seperti itu, pria itu pasti akan berbesar kepala. danmeledek-ledek Casey yang jatuh cinta padanya padahal tidak.
Casey menggelengkan kepalanya. astaga Tuhan, ia memikirkan hal-hal konyol lagi. Casey segera menoleh ke arah pintu mendapati Willis yang terdiam menatapnya dengan tatapan miris.
"Memikirkan hal mesu-" Willis yang hendak mengutarakan isi benaknya, mengurungkan niatnya. jika ia melanjutkan kata-kata itu, ia merasa seolah ia menyindir dirinya sendiri karena justru beberapa waktu yang lalu ia yang tanpa sengaja terpikirkan hal m***m tentang gadis tikus ini. Wilis membasahi bibirnya yang sebenarnya tidak sedikit pun kering. melirik Casey yang menatapnya aneh karena pria itu tidak melanjutkan ucapannya.
"Memikirkan apa?" tanya Casey menunggu Willis melanjutkan ucapannya. entah untuk apa, Willsi tiba-tiba bersyukur dalam hati karenaia bisa mengontrol lidahnya untuk tidak melanjutkan ucapannya. Gadis menyebalkan ini pasti akan membalikkan ucapannya dan mencemooh Wilis sebagai si lemah karena hanya melihat dadaa kecil ia bisa merasa panas dingin bahkan turn on.
'Aku yakin aku sudah mengatakan bahwa gadis itu memiliki d**a yang indah meskipun kecil--' Willis mengibaskan tangan di depan wajah sec ara refleks membuat Casey menatap pria itu semakin bingung.
"Apakah kau masih butuh pergi ke kamar mandi? aku tidak keberatan jika harus menunggu, aku mengerti bahwa pria tidak bisa menahan 'itu' sebaik kami para wanita." ungkap Casey dengan nada yang terlihat tenang memaklumi.
Willis melirik Casey tajam menatap gadis itu kesal, "Aku tidak seperti itu! Aku sudah baik-baik saja jadi sebaiknya jangan membuang waktu ku yang berharga--"
Casey menatap Willis dengan netra bulatnya, membuat pria itu sedikit memundurkan tubuhnya entah karena apa. tunggu, apakah ia takut dengan bocah tikus ini?!
"Tapi wajah mu merah, lho. Yakin sudah baik-baik saja?" tanya Casey berkata jujur dengan apa yang dilihatnya, namun di telinga Willis ucapan Casey benar-benar terdengar seolah mengejek.
"Aku sudah bilang bahwa aku baik-baik saja! Dan jangan menyebut mu sebagai wanita jika kau tidak layak di sebut wanita." ungkap Willis bermaksud membalas ucapan Casey di mana ia pikir itu adalah ledekan.
Casey memicingkan netranya, merasa tersinggung dengan apa yang di ucapkan Wilis.
"Apa maksud mu?" tuntut Casey melipat tangan di perut.
Willis batas menatapnya dengan tgatapan menantang, "Jangan menyebut diri mu sebagai wanita jika yang kau punya hanya tubuh bocah enam belas tahun." ungkap Willis yang seketika membuat sudut alis Casey berkedut.
Casey menatap Wilis dengan tatapan tajam, "Ha? bocah enam belas tahun? Lihat sekarang, apakah kau sedang berusaha meniru Sean, hum?" tanya Casey memilih menghindari topik tentang tubuh karena sebenarnya apa yang dikatakan Sean dan Willis mungkin adalah fakta. Sebenarnya bukan hanya Willis dan SEan yang meledeknya, ia teringat sat Lexie memilihkan gaun untuknya sebelum pesta topeng Blaxton, ia mengatakan hal yang sama bahwa sulit sekalu memilih gaun untuk Casey yang berperawakan mungil. ia juga menertawakan ukuran dadaa Casey saat ia memasangkan korset sebagai dalaman gaun Casey.
'Astaga Casey, kenapa bagian ini begitu rata?'
Casey memasang raut pasrah namun tetap merasa dongkol. ia tidak bisa menawar bagian ini pada Tuhan, dan bukan kah menghina bagian tubuh seseorang itu adalah body shaming? Casey memberenggut. Lain kali jika ada yang menghina tubhhnya palagi ukuran dadaanya ia kan mengatakan bahwa itu adalah body shaming dan menghina ciptaan Tuhan. Bagaimana pun meski dua bukit nya berukuran kecil tapi tetap ada orang yang menyukai-- Casey menyadari sesuatu. Ia melirik Willis yang terlihat puas karena berpikir memenangi perdebatan konyol ini. Nmaun Casey menyeringai menyadari bahwa ia mempunyai bisa jitu untuk membuat pria sok di hadapannya ini menutup mulut.
Casey menatap Willis dengan seringai, "Kau benar, ini hanya tubuh bocah, ukuran dadaa yang kecil tapi anehnya bisa membuat celana seseorang menggembung, lho." ungkap Casey dengan pipi menggembung, satu tangan ia letakan di pipi seolah ia sedang berbisik pada seseorang di hadapan Willis. Wiillis terlihat terbelalak, detik salnjutnya ia mengalihkan tatapannya dengan canggung. Semengtara Casey bersorak sorai dalam hati. Binggo! kau kalah telak me*sum. monolog Casey.
Willis terlihat berdeham lalu menggaruk dagunya yang sebenarnya tidak gatal, "Kau mau menggunakan itu lagi? Hoodie mu?" Tanya Wilis dengan cukup sinis. namun mengabaikannya dan memilih untuk melengos ke arah rak sepatu untuk menggunakan sepatunya.
Willis menatap gadis itu dengan tatapan kesal. Gadis itu mengabaikannya. Willis penasaran, dari mana gadis itu memiliki memiliki keberanian untuk terus bersikap seperti itu?
Namun Willis kemudian menyadari bahwa mungkin Casey tidak memiliki pakaian lain sehingga membuatnya menggunakan pakaian itu lagi?
"Baik lah jika kau sudah siap, ayo kita segera pergi." Ujar Willis seraya melangkah pergi meninggalkan kamar Casey diikuti Casey di bagian belakang tubuh Willis.
Langkah keduanya sudah sampai di garasi rumah Sean, Willis mengajak Casey memasuki sebuah mobil
"Jadi kita akan ke mana?" Tanya Casey yang kini sudah berada di depan pintu mobil Roll Royce hitam mewah.
Namun saat hendak memasuki mobil itu, Casey bingung di mana seharusnya ia duduk?
Willis yang sudah di dalam menunggu Casey masuk namun Casey tidak kunjung masuk membuatnya kesal. Ia kembali menyembulkan kepalanya di atas pintu mobil.
"Apa yang kau tunggu? Kenapa belum masuk juga?" Tanyanya dengan nada kesal.
Casey menatap pria itu dengan tatapan bingung. "Di mana sebaiknya aku duduk?" Tanya Casey polos.
Willis terdiam sejenak, "Kenapa kau bertanya seperti itu? Duduk kah di mana pun kau mau." Ujarnya lalu kembali memasuki mobil.
Mendengar itu, Casey memutuskan untuk duduk di kursi belakang. Untuk sementara ia tidak ingin terlalu berdekatan dengan Willis, apa lagi setelah kejadian memalukan tadi di mana ia dan Willis--Casey menggelengkan kepalanya kuat. Ia tidak boleh mengingat itu lagi. Itu ingatan yang memalukan dan menyebalkan.
"Aku bukan supir mu." Ujar Willis dengan nada ketus membuat Casey yang semula sudah mendudukkan pantatnya di atas kursi mobil, tercekat bingung.
Supir? Apa maksudnya dengan kata supir? Casey tidak merasa bahwa ia menganggap Willis sebagai supir. Apakah karena ia memilih duduk di belakang? Tapi bukankah tadi Willis sendiri yang mengatakan bahwa Casey bisa duduk di mana saja?
"Tapi bukankah tadi kau sendiri yang mengatakan bahwa aku bisa duduk di mana saja? Apakah tidak boleh duduk di belakang?" Tanya Casey belum mengangkat tubuhnya dari kursi mobil.
Willis menatap Casey dari spion mobil yang berada di tengah, "Tapi tidak dengan menjadikan ku supir." Ujar Sean yang membuat alis Casey berkedut.
"Aku tidak menganggap mu sebagai supir, kok." Jawab Casey jujur.
"Ya, itu dirimu karena kau tahu dengan perbedaan status antara kau dan aku. Kau adalah tikus ku. Tapi bagaimana dengan orang lain apalagi jika orang itu mengenal ku?" Tanya Willis yang membuat Casey menghela napas lalu akhirnya menarik tuas pintu mobil, mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kursi depan di mana Willis duduk--kursi supir.
Casey menarik pintu mobil itu tanpa izin, menatap Willis yang terperangah penuh keterkejutan dengan apa yang dilakukan gadis yang biasa ia panggil dengan panggilan gadis tikus itu.
"Dan apa yang sekarang sedang kau lakukan sekarang di hadapan ku?" Tanya Willis memicingkan netranya.
"Kau bilang kau bukan supir ku, kan? Kalau begitu berikan setirnya pada ku dan jadi kau tidak akan menjadi supir ku." Ujar Casey dengan nada rendah menusuk, senada dengan tatapan dari netranya yang runcing.
Willis terbahak pelan, mengangkat mulutnya tidak percaya dengan sikap yang baru saja ditujukan gadis ini.
"Kau ingin menjadi supir ku? Dengan sikapmu yang seperti itu bagaimana bisa aku mempercayakan salah satu kendaraan terbaik ku untuk dibawa oleh gadis urakan, emosi menggebu-gebu seperti mu?" Tanya Willis dengan tatapan merendahkan.
Casey membalas ucapan Willis dengan senyum yang juga tak kalah sinis, "nah kenapa kau tidak mencari tahu sendiri bagaimana rasanya jika gadis urakan ini membawa mobil mewah mu?" Casey tersenyum geli, "Pasti akan menyenangkan." tandasnya.
"Bagaimana aku bisa mempercayakannya?" tanya Willis degan kekehan samar terdengar.
"Bukankah aku sudah bilang sebaiknya kau melihat dan merasakan sendiri bukan?" Casey menggantungkan ucapannya sejenak,"Jika kau tidak mau aku menyetir, maka jangan menggerutu bahwa kau bukan supirku, karena aku sudah mengatakan bahwa aku tidak berpikir seperti itu." ungkap Casey akhirnya menutup pintu mobil itu kembali, dan membawa langkahnya memutari mobil menuju kursi di samping kursi kemudi.
Willis hanya bisa kembali memandangi gadis itu dan tepa saat Casey sudah mendudukkan bokongnya di atas kursi, Willis kembali bersuara.
"Baiklah kau akan menyetir." ungkap willis tepat satu detik saat Casey duduk. casey menatap pria itu kesal, tapi ia tidak bisa mengatakan apa pun. satu-satunya hal yang terasa menyebalkan, kenapa ia tidak mengatakan itu sedari tadi?
lagi-lagi Casey harus menarik tuas pintu mobil untu ketiga kali. memutari bagian depan' mobil lalu menarik tuas pintu di mana di balik pintu itu Willis berada.
casey menunggu selama beberapa menit di hadapan pintu, namun Willis sedikit pun tidak menunjukkan tanda bahwa ia akan turun. casey menyipitkan netranya menatap pria itu tak sabar bercampur curiga.
"jika kau ingin mengerjai ku dengan cara seperti itu, itu tidak lucu sama sekali--ah!" Casey memekik saat ia merasa tubuhnya oleng tiba-tiba. kejadian itu terjadi dalam hitungan detik, entah apa yang terjadi, kini Casey tiba-tiba berada di pangkuan pria itu.
"A-apa yang kau lakukan!" bentak Casey.
willis tersenyum, "Tentu saja mengajari secara langsung bagaimana cara melatih tikus bebal seperti mu untu menurut pada ku."