"Jadi dia benar-benar memuji masakan mu?! Whoah itu sungguh luar biasa, Willis itu lebih picky di banding Sean. Dia jarang mau memakan masakan orang lain apalagi jika ia tahu orang itu membencinya. tapi kau, kau bahkan bisa membuatnya memuji masakan mu?! prestasi yang luar biasa." Ujar Gloria yang sedang mengoles-oleskan salep lebam yang memberi sensasi dingin pada luka Casey. Casey hanya bisa terdiam seraya sesekali meringis perih saat lukanya tergores ujung jari Gloria.
Setelah Willis pergi, dengan penuh semangat, Gloria meminta Casey menceritakan kejadian apa yang terjadi, dan ide tentang sup jagung yang direncanakan Casey.Casey sebenarnya tidak ingin menceritakan itu, tapi karena Gloria terus mendesaknya ia jadi tidak punya pilihan lain selain menceritakan bagaimana bisa progres tadi terjadi. meskipun ada hal-hal yang Casey putuskan untuk tidak menceritakannya pada Gloria. Padahal itu cerita yang cukup menarik--tentang Casey yang melakukan hal konyol danmembuat seorang Willis yang kejam, dingin dan psikopat juga sebelumnya membencinya secara tidak sengaja malah turn on karenanya. Casey bisa membayangkan bagaimana ekspresi Gloria jika Casey menceritakan ini. Gloria pasti akan sangat heboh, dan semakin bersemangat mengutarakan ide-ide untuk mempererat hubungan Casey dengan Willis. Casey memejamkan netranya sejenak dengan dengan ringisan, jelas itu terdengar tidak bagus meskipun jika boleh jujur, ada sedikit rasa penasaran di dalam hati casey jika Casey benar-benar dapat menaklukan pria es itu di bawah telapak kakinya.
Netra Gloria berbinar dengan mulut ternganga senang, "Lalu tadi bagaimana saat ia mengobati mu? Kau bisa menjalankan seperti rencana yang sebelumnya kita buat? Panggilan apa yang kau pilih? Baby? Honey? Darling? Atau apa?" Tanya Gloria terlihat berkilat-kilat penuh semangat. Casey hanya bisa mendengus, tentu saja ia tidak melakukan hal seperti itu, itu rencana Konyol dan memalukan.
Casey tersenyum namun itu sebuah senyum yang dipaksakan, "Aku tidak sempat melakukan itu, hehehe." Ujar Casey tidak jujur namun juga tidak sepenuhnya berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan pada Gloria bahwa rencana itu konyol dan memalukan tepat di hadapan Gloria yang menciptakan rencana itu. Perkataan seperti itu pasti akan menyinggung Gloria padahal Gloria memiliki niat baik untuk menolongnya. jika sampai Gloria tersinggung dan jadi menjauhinya, Casey tidak akan memiliki teman lagi dan itu pasti akan semakin menyiksanya di sini.
Gloria menatap Casey khawatir, "Ahh aku mengerti. Ia bahkan tidak jadi mengobati luka mu ya. Tapi kau bilang dia yang membawa dan menyiapkan kotak P3K ini? Itu sudah termasuk progress lain yang luar biasa. Sebelumnya ia terlihat tidak peduli tapi sekarang ia terlihat lebih peduli. mungkin perlahan-lahan ia akan menyentuh mu." Gloria menepuk pundak Casey dengan senyum, sementara casey merasa tubuhnya gtercekat mematung, rasa panas tiba-tiba saja menjalar di wajah dan tengkuknya, seolah tiba-tiba ada aliran listrik mengalir di wajahnya, menimbulkan semburat merah yang memalukan. casey berharap Gloria tidak menyadari wajahnya yang merona, namun Gloria justru malah mempertanyakan hal yang tidak ingin Casey dengar.
Gloria mengangkat dagu Casey, "Eh, wajah mu memerah. ada apa ini? apakah kau juga sudah jatuh cinta pada--" Casey menarik wajahnya segera, menatap Gloria dengan tatapan salah tingkah, tak berani menatap wanita yang lebih tua darinya beberapa tahun itu di netranya.
"A-apa yang kau bicarakan?" tanya casey dengan nada gagap, dalam hati ia juga merutuki sikap konyolnya yang tiba-tib muncul hanya karena kata menyentuh, ada apa dengan kata itu hingga membuat ingatannya berselancar pada potongan fil dewasa yang ia tonton sendirian di kamar sebelum misi the blue moon of jesphine di kediaman Blaxton--pesta topeng pembawa malapetaka, yang ditontonnya. namun semakin ia menepis pemikiran itu, potongan film itu malah berputar semakin nyaring dengan bunyi-bunyi aneh yang terdengar di otaknya. Casey menggelengkan kepalanya samar. oh ayolah Casey, apa yang kau pikirkan? kau adalah gadis polos yang tidka mungkin terjerat pada hal seperti itu. kau tidak tertarik pada hal yang dengan tiga huruf di awali S diakhiri X itu, bukan.
Gloria hanya tersenyum melihat gadis yang tanpa ia sadari sudah terasa seperti adik itu. "Aku jadi optimis kau nanti mungkin bisa membuatnya jatuh cinta pada mu!" Pekik Gloria penuh semangat. Casey lagi-lagi hanya bisa memaksakan senyum. itu jelas mustahil, sangat mustahil.
Casey tertawa hambar, "Hahaha aku tidak berharap Sean bisa jatuh cinta pada ku, aku hanya berharap ia bisa segera kembali." Ujar Casey dengan raut wajah sedih. Kepalanya terkulai ke bawah membuat Gloria juga ikut merasakan sedih yang di rasakan Casey. Ia juga bukannya tidak merindukan Sean, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun. Hanya Sean yang bisa membuat dirinya sendiri kembali, dan mengusir Willis dari tubuh itu buksn orang asing bahkan hanya ia kenal untuk kebutuhannya.
"Sayangnya mungkin dia tidak akan kembali." suara berat dengan nada yang begitu dingin menusuk membuat tubuh Casey dan Gloria menegang seketika. ini bukan lah pertanda baik. ini pertanda ancaman muncul!
Gloria dan Casey yang sedang tertunduk itu segera mengangkat kepalanya saat mendengar suatu suara berat yang menyapa indera pendengaran mereka. Suara itu adalah suara Willis! Dan sejak kapan pria itu berada di sana? Bagaimana bisa Casey dan Gloria tidak menyadari kemunculan atau bahkan mendengar ketukan langkah kaki Willis?
Casey mengatupkan bibirnya dengan netra yang membola, jangan bilang, Willis juga mendegar semua pembicaraan Casey yang sedsng menceritakan runutan semua kejadian tadi pada Gloria?
Casey mengepalkan tangan di atas sofa, tamat lah riwayatnya sekarang!
Gloria melirik Casey dengan raut khawatir. Apakah Willis mendengar pembicaraan mereka dan merasa tersinggung? Jika ya, maka itu bukan lah suatu pertanda yang tidak bagus bahkan mungkin sangat tidak bagus. Kemarahan Willis bukan lah sesuatu yang menyenangkan.
"A-ah aku berpikir bahwa mungkin Peter akan segera kembali." Ungkap Gloria dengan tawa hambar berusaha menyelamatkan situasi mereka. Meskipun ia sendiri ragu karena ia tahu Willis bukan orang bodoh atau anak kecil yang bisa dibohongi dengan hal seperti itu.
Willis melirik Casey dengan tatapan tajam, menghiraukan pengalihan topik yang dilakukan Gloria. Sementara Casey hanya bisa mendongakkan wajahnya balas menatap pria itu dengan tatapan menantang, bertolak belakang dengan Gloria yang meringkuk ketakutan karena ia pernah melihat apa yang bisa Sean lakukan pada seseorang dengan dua tangannya. Kenangan yang membekas bertahun-tahun dan tidak pernah bisa ia lupakan.
Kedua orang berbeda gender itu saling berhunus tatapan yang tajam, enggan untuk memalingkan tatapan. Casey yang semakin menantang membuat pria itu--Willis jadi merasa malu dengan apa yang ia katakan tadi pada gadis itu. Apakah tadi ia memuji masakannya? Dan yang memalukan apa-apaan dengan reaksi tubuhnya tadi pada gadis itu? ia pasti kehilangan akal sehatnya untuk sesaat. Benar-benar memalukan hingga Willis merasa kesal pada dirinya sendiri. Ia seharusnya hanya bisa merasakan hal itu pada Ilene. Karena Ilene adalah wanita yang dicintainya. Bukan tikus rendahan yang memiliki sifat tidak sopan, tidak sabaran, egois dan kekanakkan di hadapannya ini. Willis mengagguk-anggukan kepala samar, jelas tadi ia pasti melakukan kesalahan.
Willis menghela napas samar, sungguh apa yang membuat Sean bisa berbaik hati pada gadis menyebalkan seperti ini? tidak masuk di akal ia sudah mengatakan bahwa seharusnya mencari pencuri lain, namun lagi-lagi kendala virginitas menjadi batu sandungan yang sangat mengganggu.
Willis menjadi orang pertama yang memutuskan adu tatap antara firiny dan Casey, pria itu membawa selembar map dengan isi sebuah denah dan desain struktur suatu bangunan yang belum Casey ketahui apa tepatnya bangunan itu.
"Kita akan melakukan simulasi penukaran. Tapi sebelum itu kau akan ikut dengan ku untuk mencari barang-barang yang kita butuhkan dalam misi simulasi ini. Juga mencari part untuk Vivi setelah kau merusaknya entah demi rencana konyol apa." Ungkap Willis dengan nada sinis lalu menyodorkan map itu pada Casey dengan cukup ketus.
"Pelajari ini. Kita akan melakukan misi ini satu Minggu lagi. Pastikan kau siap dan pastikan luka-luka yang kau ciptakan sendiri itu tidak mengganggu. Terutama tangan mu. Karena satu-satunya bagian tubuh mu yang berguna dan dapat membuat mu hidup sekarang adalah itu." Ujar Willis tereengar mengancam, "Dan besok kita akan pergi. Pastikan besok kau tidak terlambat." Tandasnya lalu meninggalkan dua orang wanita yang duduk di atas sofa dengan posisi tegap penuh ketegangan dan was-was.
Casey menatap kepergian pria bertubuh jangkung dan kekar itu dengan tatapan seribu makna. Ia merasakan perasaanya semakin campur aduk, kesal, sedih dan takut bersamaan. aneh? ya jelas. Casey memejamkan netranya, ini pasti karena frustasi atau bahkan ia memang sudah melangkah lebih dekat pada sesuatu yang disebut gila.
"Hah~~ untunglah pria itu tidak terlalu marah!" Pekik Gloria dengan penuh syukur. Gloria lalu melirik Casey yang sedikit pun tidak mengalihkan tatapannya menatap sisa jejak kepergian Willis.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Gloria menyadari Casey cukup menakutkan karena tidak berkedip dalam waktu yang cukup lama.
"Aku baik-baik saja." Casey menurunkan tatapannya, mengarahkannya pada map yang diberikan Willis dan menatap benda itu untuk mulai mempelajari apa yang diperintahkan Willis. namun kali ini netranya membola penuh keterkejutan.
Casey menarik napas, sebaiknya ia kembali fokus. tidak adanya terus memikirkan hal-hal seperti ini."Ini terlihat seperti sebuah lab?" Pekik Casey tidak percaya lalu membawa Map itu pada Gloria seolah ingin meminta pendapat gadis itu.
"Ah kau benar. Lab di mana ini, ya?" Tanya Gloria menjadi penasaran.
Casey melirik Gloria berharap gadis itu akan menemaninya, "Kau tidak akan ikut?" Tanya Casey memastikan. Gloria terlihat mempoutkan bibirnya lalu mengedikkan bahu.
"Sepertinya tidak. Jika aku ikut pasti Willis akan memberi tahu ku. Tapi dia hanya berbicara pada mu dan tidak mengatakan apa-apa pada ku." Ungkapnya dengan tangan melipat di perut.
Gloria kemudian tersenyum tiba-tiba, membawa tubuhnya merapat pada Casey dan menggoda perut gadis itu dengan menyikutnya.
"Wah aku pikir kau bisa menjadikan itu seperti sebuah kencan." Godanya dengan senyum usil khasnya.
Casey mendengus samar lalu terkekeh, "Kau tidak melihat tadi bagaimana reaksinya kepada ku? Willis pasti sangat membenci ku." Ujar Casey dengan nada malas dan lemah. Ia cukup mengerti setelah ia membaca situasi dan ekspresi wajah Willis yang sinis. Pria itu membencinya.
Gloria masih tersenyum menggoda, "Tapi intinya, kalian besok akan terus berduaan. Mungkin seharian. Apa menurut mu kau tidak bisa memanfaatkan waktu itu untuk membuat Willis lebih percaya pada mu?"
Casey memejamkan netranya yang berat. Kini otaknya juga terasa berat karena ucapan Gloria yang mengatakan seolah keadaan bisa seperti itu. Dan itu jujur sedikit menekannya.
Casey tersenyum masam, "Aku tidak tahu. Aku pikir selama aku masih bisa hidup dengan organ tubuh yang lengkap itu cukup."