Chapter 49 : Sebuah Ketakutan

1736 Kata
Willis membuka email yang di kirim Peter segera, netranya membola saat melihat lampiran foto yang di kirim Peter. Dari : Peter Kepada : Sean Sean, aku merasa aku dalam bahaya. Willis terdiam sejenak ia terlihat berpikir. Dalam keterdiaman nya itu sorot matanya menunjukan keresahan, ia segera mengklik foto lampiran foto yang di kirim Peter. Pada lampiran foto itu terlihat bahwa Peter tengah di ikuti seseorang yang tidak di kenalnya. Hal yang membuat Willis resah, orang yang mengikuti Peter itu tidak hanya sekali dua kali secara kebetulan berada satu bingkai di foto itu dengan Peter. Willis membawa jari telunjuknya pada jumlah lampiran foto yang di kirim Peter untuk menghitungnya. Bibirnya bergumam menghitung setiap lampiran, total ada dua puluh tiga foto di mana foto Peter diikuti seseorang. Terlalu mustahil jika di sebut kebetulan, jika dalam dua puluh tiga foto Peter, orang ini kebetulan muncul dan kebetulan satu tujuan dengan Peter. Willis bisa percaya apa yang dikatakan pemuda itu Peter jelas-jelas sedang diincar. Willis menatap foto itu satu persatu, lalu tangannya mengepal erat di atas meja, kali ini siapa yang mengincar dan ingin menghancurkan rencananya? Ia tahu memang ada banyak orang yang mengincar the Oppenheimer, tapi biasanya tidak pertnah ada yang sampai mendekati jarak sedekat ini hingga bisa langsung menantangnya melalui Peter. Willis mengusap hidungnya, hal yang Sudah menjadi kebiasaan saat ia erasa resah. Dan lagi di banding itu, Willis penasaran siapa yang membocorkan lokasi Peter? Sehebat apa orang itu sampai tahu bahwa Peter bekerja pada Sean dan tengah merencanakan penukaran the Oppenheimer? Selama ini keberadaan Peter adalah yang paling sulit di lacak, karena wIllis tahu bahwa Peter adalah tipe yang sangat cerdas dalam menyembunyikan dirinya. jika orang ini mampu menemui Peter maka orang ini bukan sembarangan dan jelas tidak bisa di remehkan. Orang ini pasti memiliki koneksi yang cukup kuat. Willis memundurkan kursinya, melangkah ke arah meja untuk mengambil telepon genggamnya, ia mendial tombol untuk membuat panggilan pada Peter. "Peter?" Sapa Sean segera setelah panggilan itu tersambung. Suara khas pemuda terdengar, "Sean? Apakah kau sibuk? Tumben sekali butuh waktu lama untuk mengangkat panggilan ku?" Tanya Peter heran karena ia tahu Sean bukanlah orang yang seperti itu. Dalam hati Willis bersyukur karena ia benar-benar dapat mendengar suara Peter, artinya sejauh ini Peter baik-baik saja. Ia mengira bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada orang itu. "Lumayan, ada sesuatu yang harus aku kerjakan tadi," ujar Willis berbohong, dalam hati reka ulang adegan yang terjadi di dapur lalu kejadian di ruang tengah bermunculan membuat wajahnya panas. Willis dapat merasakan darah di dalam tubuhnya berdesir setiap kali ia mengingat kejadian tadi. Suara Peter rendah terdengar membuat Willis bisa merasa tenang untuk sesaat karena artinya Peter beum merasa bahwa ia sedang berada di dituasi yang benar-benar mengancam nyawanya. "Aku mengerti. Apakah itu tentang tawaran dari organisasi Rusia?" Tanya Peter yang membuat Sean membolakan matanya terkejut. Bagaimana Peter mengetahui bahwa Sean mendapat undangan kerja sama dari salah satu organisasi yang sangat disegani itu? "Bagaimana kau tahu?" Tanya Sean dengan nada penuh rasa penasaran. Hening sesaat menyelimuti, sebelum akhirnya Peter mau berbicara kembali, "Kau salah mengirimkan email." Ujar Peter membuat Willis mengerutkan alisnya bingung. "Ah, ya?" Ucap Willis lalu membawa tangannya untuk melihat pesan terkirim di email-nya. Ia tidak menggunakan email-nya dan ia melihat bahwa di kotak email Peter dan benar bahwa Willis mengirim laporan itu pada Peter. Willis mengerutkan alisnya, tumben sekali ia melakukan kesalahan, ia adalah seorang yang dikenal sangat hati-hati dan terorganisir saat mengerjakan sesuatu. Mungkinkah ia benar-benar tidak mengecek penerima dari email-nya? "Ah ya benar, sepertinya aku memang melakukan kesalahan." Ujar Willis dengan tangan yang terus menerus menggerakkan mouse laptopnya untuk menggerakkan kursor dan mengecek info masuk lainnya. "Tidak masalah Sean. Jadi bagaimana rencana kita ke depan? Tanya Peter penasaran dengan rencana Sean ke depannya bagaimana. Willis terdiam sejenak terlihat berpikir lalu ia kembali berbicara, "Aku akan segera mengirim hasil analisis ku jadi kau bisa membuat perencanaannya dan rencana cadangan misi penukaran the Oppenheimer." Jelas Willis. "Baiklah. Itu terdengar sangat bijak." Sahut Peter membuat Willis tersenyum miris, karena untuk sekarang hanya itu yang bisa ia lakukan. "Setelah itu kau bisa langsung kembali ke sini dan kita bisa memulai simulasi penukaran the Oppenheimer sebelum mematangkan rencana kita. Aku sudah memilih tempat yang pas, membuat uraian rencana dan gambaran. Ini juga akan menjadi uji analisis untuk gadis tikus itu karena ia akan bekerja sendiri, mencari jalan keluar sendiri tanpa bantuan atau campur tangan siapa pun bahkan Gloria." Ujar Willis menerangkan. Di raut wajahnya terlihat senyum seribu makna yang tergurat jelas. Untungnya di ruangan itu hanya ada dirinya. Ia tidak mau jika Casey mendengar apa yang tadi ia bicarakan dengan Peter. Gadis itu tidak boleh tahu jika simulasi ini akan menjadi ujian untuknya. Di ujung panggilan telepon itu, Peter terlihat tersenyum dengan rasa ketertarikan dan penasaran yang membuncah, " Sangat menarik. Andai saja aku juga di sana.” Nada bicara Peter terlihat sedih. Willis menarik napas samar, “Jika keadaan memungkinkan, kau bisa segera pulang ke sini. Ah ya, aku penasaran, kenapa kau terlihat sangat mengagumi gadis itu?” tanya Willis benar-benar penasaran. “Mengagumi siapa? Nona Casey?” tanya Peter langsung menebak objek pembicaraan mereka. Suaraman gumaman seperti seorang yang sedang berpikir terdengar, @Um tentu saja karena ia cantik. Kau juga melihatnya sendiri bukan? Secara fisik, mungkin Nona Casey bukanlah Wanita bertubuh seperti gitar spanyol, tapi ia cantik karena ia tangkas, dan cekatan. Ia terlihat imut namun juga menantang.” Willis dapat merasakan nada kagum dalam ucapan Peter. “Dan … lihat lah prestasi pencuriannya. Ia sangat hebat!” tambah Peter. Tanpa sadar Wilis memanggut-manggut kan kepalanya mengamini apa yang diucapkan Peter. Tapi tetap saja, gadis tikus itu masih jauh dari tipe gadis idamannya. “Jika kau menyukainya, segeralah Kembali ke sini untyk menemuinya.” Ujar Willis dengan nada ramah namun anehnya ia merasa ada sesuatu yang mencubitnya secara tak kasat mata. “Roger!" Jawab Peter mantap. "Baik lah, ada lagi yang ingin kau sampaikan? Atau ada hal lain yang kau butuhkan?" Tanya Willis hendak mengakhiri pembicaraan mereka. Ia harus mengkebut pekerjaan nya agarvia bisa segera membantu Peter. Tidak ada lagi waktu untuk bersantai apa lagi bermain-main dengan hak yang tidak penting. Ingatan Willis secara otomatis langsung teringat pada Casey-- si gadis tikus sumber masalah. Suara dehaman terdengar, membuat Willis yang hendak mengakhiri panggilannya mengurungkan niatnya dan kembali membawa atensinya pada Peter yang masih memiliki hal untuk di bicarakan. "Tapi Sean, apakah kau bisa mempertimbangkan tentang menerima tawaran kerja sama dengan organisasi The Heim dari Rusia, itu?" Wilis memicingkan matanya, saya menggenggam telepon pintarnya mendalami maksud dari ucapan Peter. "Dan kenapa aku harus menerimanya?" Tanya Willis terdengar sedikit sinis. Ia sebenarnya merasa tidak suka jika ada orang-orang yang mencoba mengaturnya. Meskipun mungkin niat Peter tidak seperti itu, tapi Willis merasakan ada sesuatu yang akan mengganggunya dari saran Peter. Selain itu, membuat kerja sama dengan organisasi yang tidak dipublikasikan pada masyarakat saat suatu organisasi besar ingin bekerja sama dengan observasi individu, jelas alasannya karena mereka menginginkan timbal balin. Apalagi jika itu organisasi negara. Selain karena tidak terpublikasi, akan sulit bagi Willis untuk keluar dari ikatan organisasi itu, resiko ia dimanfaatkan oleh pemerintah luar terlalu besar. Peter terdiam sejenak sebelum beberapa detik kemudian ia kembali berbicara, "Kau bisa mendapatkan keuntungan di sana. Mereka bisa membantu mu mendapatkan apa yang sekarang sulit untuk kau miliki. Mereka juga akan menjadi sumber informasi yang sangat berguna. Mereka akan memberikan mu informasi yang penting. The Oppenheimer adalah berlian yang di incar oleh banyak orang, aku pikir kau tidak membutuhkan bantuan mereka suatu saat." Imbuh Peter membuat Willis terdiam. "Tapi itu bisa membuat negara mencurigai ku. Kau tahu bahwa selama ini aku menghindar untuk berurusan dengan pemerintah. Aku tidak mau melakukan hal yang dapat membahayakan posisi ku." Ujar Willis dengan nada cukup menekan pada ucapannya menunjukkan bahwa kali ini ia sangat tidak setuju dengan usulan Peter. Lalu yang menjadi sumber pembahasan mereka adalah the oppenheimer yang artinya mereka juga menginginkan benda itu, sementara benda yang menjadi incaran Sean dan Willis. Willis mungkin akan mempertimbangkan jika "Apalagi sebelumnya pemerintah meminta teknologi yang digunakan pada sistem Vivi dan aku menolaknya. Akan terkesan aku lebih mementingkan organisasi negara lain dari pada negara ku sendiri. Jadi aku akan menolaknya." Jelas Willis yang membuat Peter terdiam. "Baiklah aku mengerti. Maaf aku tidak berpikir sejauh itu." Ungkap Peter akhirnya. Hembusan napas berat terdengar, "Bukan masalah, sekarang kau bisa kembali untuk fokus menguasai seluk beluk gedung yang akan menjadi tempat pameran untuk the Oppenheimer. Itu akan membuat kita diuntungkan jika kita bisa mengetahui setiap Titik buta dan titik berbahaya yang akan membuat terbongkarnya Casey sebagai pencuri ketahuan." Willis kembali menjelaskan rencananya "Ya, aku akan segera mengirimkan rancangan gedung dan lantai di mana The Oppenheimer akan dipamerkan." Jawab Peter diangguki Willis meskipun Willis tahu bahwa pemuda itu tak akan bisa melihat wajahnya. "Baik lah. Kau bisa melanjutkan pekerjaan mu." Ujar Willis hendak mengakhiri panggilan. "Ah ya aku juga lupa mengatakan bahwa sebaiknya kau juga lebih perhatian pada orang-orang yang mungkin mengelilingi mu. Saat aku melihat-lihat rekaman CCTV rumah mu aku melihat ada pria asing yang memandangi rumah ku cukup lama." Ungkap Peter membuat alis Willis terkejut. "Ya aku memang belum sempat mengeceknya. Vivi yang biasa mengontrol sistem keamanan di rumah ini rusak dan aku belum sempat memperbaikinya. Ada banyak part yang harus aku ganti. Aku akan membeli part-nya yang rusak besok sekaligus membeli kebutuhan Casey sebagai tikus kita." Jelas Willis. "Ah aku mengerti. Pantas saja." "Apakah kau juga sudah mendapat informasi dari pak tua Donghae yang sudah menjadi target kita selama beberapa tahun ini?" Tanya Peter lagi. Willis terlihat diam menarik napas berat, "Ya, aku dan Glo berhasil menemukannya. Tapi ia menjadi seseorang yang sangat tidak berguna. Ditambah dia tetap keras kepala tidak mau memberi tahu sedikit pun informasi tentang the Oppenheimer." Ungkap Willis merasakan tangannya mengepal di atas meja. "Aku pernah mendengar kalau dia orang yang teguh dan sulit didekati." "Ya itulah dia." "Tapi sebaiknya kau juga memberinya perhatian lebih. Menurut ku hanya masalah waktu sampai orang lain juga mengetahui bahwa Donghae masih hidup dan menjadi satu-satunya saksi yang mengetahui the Oppenheimer yang ditemukan Nyonya Diana." Nasihat Peter yang membuat Willis terlihat merasa resah. "Akan aku perhatikan. Terima kasih." "Baiklah aku akan kembali bekerja agar aku bisa pulang ke Yokshire." Ujar Peter mengakhiri panggilan itu. Willis menaruh telepon genggamnya di atas meja, melirik ke arah deretan rak di mana terdapat jurnal dan buku-buku catatan ibunya. Sesuatu yang tidak pernah Willis atau Sean sembuh karena sebuah ketakutan. Ketakutan yang anehnya juga tak pernah Sean dan Willis tahu apa penyebabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN