Chapter 48: Email Peter

1638 Kata
Casey memiliki sebuah rahasia yang amat sangat konyol dan mungkin bagi sebagian oranga snagat memalukan,. karena itu Casey tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, ia hanya pernah bercerita pada Emma sih, tapi tidak begitu mendetail. dan rahasia itu adalah tentang Casey yang tidak pernah menjalin hubungan romantis, tidak pernah berciuman, atau pun melakukan hal romantis yang biasa dilakukan pasangan. jangankan melakukan hal romantis, dalam dua puluh tahun lebih hidup casey, Casey tidak pernah dekat dengan kaum adam. satu pun. ia tidak bohong dengan kata-katanya bahwa ia mempelajari adegan dewasa dari film blue, novel dan hal lain--game, misal. ada sebuah game yang biasa disebut otome game, sejenis simulai berhubungan dengan lawan jenis, di level tertentu ada game simulasi itu juga menampilkan adegan dewasa. Tapi sebanyak apa pun ia tidak pernah mempraktikannya. dan kadang saat ia membaca novel oia selalu penasaran dengan maksud dari celana protagonis pria yang menggembung. tapi sungguh ia tidak pernah menduga bahwa sekarang ia berada di posisi itu! melihat celana lawan jenis, yang semakin terasa aneh dan canggung karena itu adalah celana Willis pria dingin, kejam dan psikopat yang ditakutinya. Lagi, hal yang paling tidak terduga bahkan tidak bisa Casey akui karena terasa terlalu mustahil, apakah Willis kini turn on karena nya? Jika bukan, lantas karena siapa? di ruangan ini hanya ada mereka berdua dan Casey dsedang dalam posisi di mana ia berada dalam posisi canggung dengan Willis. ia tidak ingin terlihat seolah bangga dengan prestasi yang konyol, bahkan membuat seseorang turn on jelas tidak bisa di sebut sebagai prestasi. tapi kenapa selain ada perasaan canggung dan aneh, ia merasa ada sedikit kebangaan? Casey merasa di dalam tubuhnya terjadi kebakaran hebat. kacau! kacau! ini benar-benar memalukan, ada apa sebenarnya dengan hatinya?! "A-aku sepertinya harus ke kamar mandi--" ungkap Willis terlihat canggung juga malu. Casey bahkan dapat melihat semburat merah merona di pipi pria itu meskipun Willis berusaha mati-matian menyembunyikannya. Wajah lain yang tidak pernah Casey lihat sebelumnya dari Willis. Melihat sisi lain daru seorang Willis yang juga manusiawi sekilas membuat Casey lupa bahwa Willis hanyalah kepribadian lain yang diciptakan Sean. Sisi manusia di mana ia terlihat bisa malu, kesal, tersenyum manis, membuat Casey mulai melihat Willis sebagai sosok Willis itu sendiri. Willis dan Sean terasa seperti dua orang berbeda yang menjalani hidupnya masing-masing. Casey menatap Willis penuh keterkejutan tatkala melihat reaksi pria itu yang tidak terduga bagi Casey. Willis hendak mengangkat tubuhnya dan memindahkan kepala Casey yang semula berada di atas pahanya di atas sofa. Namun niatnya urung saat ia melihat netra Casey menatapnya tepat di iris dengan tatapan yang tidak bisa Willis deskripsikan karena Willis sendiri bingung dengan apa yang ia lakukan sekarang, ia tidak tahu tatapan apa yang kini tengah ia tujukan pada Casey, tapi yang jelas ia tidak bisa membuang tatapannya dari Casey. Willis dapat melihat gerakan Casey tatkala Casey hendak mengangkat kepalanya agar Willis dapat bisa ke toilet. Rambut pendeknya terkibas dengan aroma sampo yang begitu semerbak. Dan Willis merasa dapat melihat gerakan dari setiap helaian rambut itu saat Casey bergerak, seolah waktu berjalan pelan, detik demi detik nya. Saat Casey menutup kancing bajunya yang masih terbuka--sisa satu yang belum terkancing, entah dorongan dari mana, Willis membawa tangannya merengkuh Casey, membawa wajah Casey yang bahkan belum selesai ia obati untuk mendekat pada wajahnya, sorot matanya tertuju pada bibir Casey yang sedikit berbuka karena terkejut seolah itulah tujuan yang ingin ia gapai sekarang. Casey merasa tubuhnya aneh. Ia tidak bisa melawan dan ia malah menutup mata seolah ia tahu apa yang Willis inginkan darinya. Hatinya seolah bisa membaca kemana Willis akan membawa wajahnya. Gelenyar asing yang panas terasa semakin asing berdesir di dalam aliran darah masing-masing. Saat jarak di antara Keduanya semakin tipis, keduanya dapat merasakan hembusan napas di wajah masing-masing. Casey menghitung detak jantungnya yang berdegup semakin nyaring, satu degupan, dua degupan, hingga Casey tidak bisa menghitung lagi tatkala ia merasakan bibir Willis menyentuh bibirnya. Mengecup bibir Casey dengan manis dan lembut, sangat hati-hati mengingat bahwa Casey masih memiliki luka karena pelatihan-pelatihan--hasil berkelahi bersama Vivi. BRAKK "Casey kau di dalam?" Pagutan lembut yang manis itu Buyar seketika saat Willis dan Casey sama-sama mendengar bunyi pintu terbuka dengan suara ringan seorang wanita yang Wilis dan Casey jelas tahu siapa pemilik suara itu, Gloria. Keduanya terbelalak terjnut kaku melepaskan pagutan bibir itu dengan paksa. Willis dan Casey segera saling menjauhkan diri, merapikan posisi duduk mereka seolah mereka sedang sibuk dengan aktivitas masing, dan terlihat acuh tak acuh. Willis memilih menarik majalah yang berada tidak jauh darinya, dan Casey memilih untuk berpura-pura mengobati lukanya sendiri meskipun ia tidak bisa melihat secara jelas di mana letak luka-lukabya dan hanya mengira-ngira melalui rasa sakit di wajahnya tanpa kaca. "Casey--" sapa Gloria. Saat akhirnya Gloria sampai di ruang tengah di mana Willis dan Casey berada, Entah mengapa Gloria merasakan atmosfer di ruangan itu terasa ganjil, seperti kecanggungan yang tidak natural. Ada apa dengan dua orang yang di duduk di sofa itu? Sebenarnya Gloria tidak merasa aneh jika Willis dan Casey duduk saling berjauhan, tapi apa-apaan dengan ekspresi sok acuh yang mereka buat itu? Mereka terlihat seolah tidak peduli, tapi netra mereka saling mencuri pandang satu sama lain. Saling melirik seperti sedang berbicara dengan menggunakan isyarat mata. Gloria tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa keadaan canggung ini terjadi pasti karena ada sesuatu. Apakah terjadi sesuatu di antara mereka tepat sebelum Gloria datang? "A-ah kalian di sini?" Ujar Gloria memilih meredam rasa penasarannya. Ia tidak berani terlalu banyak bertanya pada Willis, tapi ia bisa bertanya pada Casey apa yang terjadi nanti saat Willis sudah pergi. Keduanya--Willis dan Casey menoleh serempak lalu mengangguk. Gloria semakin mencium gelagat aneh, bahkan Willis yang biasa Gloria lihat sebagai orang yang serius tanpa ekspresi, kini terlihat tersipu dengan wajah merona di balik majalah yang ia pegang. Reaksi yang jelas aneh karena biasanya Willis akan langsung bertanya langsung pada Gloria apakah ada masalah mendesak hingga membuatnya datang. "Aku menelepon mu sedari tadi, hampir satu jam. Tapi kau tidak mengangkatnya." Ujar Gloria yang membuat Willis mengangkat alis tergemap, lalu menaruh majalahnya kembali ke atas meja. "A-ah, ada Sesuatu yang terjadi?" Reaksi yang lambat dan itu adalah reaksi yabg jarang Willis pertontonkan karena ia adalah orang perfectionis yang selalu memastikan untuk mengecek perkembangan dari rencana the Oppenheimer ini. Gloria bermonolog dalam hati. "Peter mengatakan bahwa ia berusaha menghubungi mu tapi ya, kau tidak kunjung mengangkat atau bahkan mengecek telepon mu, sepertinya." Ungkap Gloria yang membuat Willis terlihat semakin kikuk. Willis berdeham pelan, "Ah, itu maaf, tadi aku makan siang dengan Casey dan kami terlibat pada obrolan yang cukup panjang. Telepon genggam ku di kamar jadi aku tidak mendengarnya." Ungkap Willis melirik Casey yang mengangguk dengan senyum--tapi aneh. Gloria kembali bermonolog. Ia benar-benar harus mencari tahu apa yang terjadi hingga membuat dua orang ini jadi bereaksi aneh. Meskipun masih curiga dengan situasi sekarang, Gloria tetap berusaha terlihat tenang seperti Gloria yang pada umumnya, namun dalam hati ia menggebu-gebu tak sabar untuk mengintrogasi Casey. "Peter mengatakan ada hal yang ingin ia sampaikan." Gloria memberi tahu apa yang menjadi tujuan kedatangannya sekarang. "Apakah ia memberitahu mu tentang apa itu?" Tanya Willis penasaran. Gloria menggeleng, "Ia hanya memberi tahu bahwa ini adalah sumber informasi yang bagus, dan ia ingin kau mendengarnya sendiri dari mulutnya, tapi karena kau tidak kunjung mengangkat telepon Peter dan telepon dari ku, Peter meminta tolong untuk mengecek ke sini. Kau membuatnya cemas jika sesuatu terjadi pada mu." Ujar Gloria dengan nada kesal karena Peter pernah membuatnya terlihat bodoh dan tidak setara dengan Willis dan Peter hanya karena ia tidak mengerti dunia teknologi. "Sebaiknya kau segera menghubungi kembali Peter., Ia mungkin nenunggu." Willis melirik Casey cukup lama lalu melirik Gloria dengan anggukan, "Baiklah, aku akan segera menghubunginya sekarang." Ujar Willis lalu berjalan naik menuju kamarnya di atas. Gloria dan Casey menatap punggung Willis yang mulai melewati tangga lalu perlahan menghilang di lorong lantai dua. Tepat setelah itu Gloria segera menghambur ke arah Casey. "Apa ada sesuatu yang terjadi? Pasti ada sesuatu yang terjadi tepat sebelum aku masuk, bukan?!" Pekik Gloria tidak sabar. Tubun Casey terlihat menegang, ia hanya bisa mengalihkan tatapannya ragu, jejak rona merah di wajahnya masih terlihat cukup jelas hingga Gloria pun bisa melihatnya. "T-tidak ada apa-apa," ungkap Casey memilih untuk tidak menceritakan hal yang terjadi tadi. Perasaannya begitu campur aduk sekarang, tapi ia tidak bisa menjelaskan situasi itu pada Gloria. Casey merasa bahwa sebaiknya sekarang ia tidak berpikir aneh-aneh tentang Willis. Mungkin saja pria itu hanya iseng menggodanya. Bagaimana pun pemilik tubuh itu adakah Sean. Meskipun mungkin sekarang Sean bertingkah seperti orang lain yang bernama Willis itu, tapi tetap saja tubuh itu adalah Sean. Dan Sean dengan sifat manipulatif nya selalu menipu dan mengusili Casey, jadi Casey tidak boleh terjebak. Ia harus fokus untuk terus menyelamatkan dirinya sekarang dari hak apa pun yang dapat mengancamnya. "Tidak ada apa pun? Ayolah jangan berbohong pada ku. Wajah mu begitu merah merona seperti bocah remaja yang dimabuk asmara. Pasti terjadi sesuatu bukan? Ceritakan pada ayolah ceritakan!" Pinta Gloria yang menggoyangkan tubuh Casey. Casey membolakan alisnya malas, sebenarnya siapa yang terlihat bocah? "Ya ada, dan aku rasa ini cukup lumayan." Casey berdeham, ia akan menceritakan bagian tertentu saja. Netra Gloria berbinar, "Serius? sepertinya progress yang bagus ya?!" Gloria semakin heboh. "Lumayan. Aku bisa makan bersamanya dan ia memuji masakan ku." "Eh serius? Itu sangat bagus! Bahkan selama belasan tahun aku bersama Willis,ia tidak pernah memuji ku lho." Ujar Gloria kali ini dengan nada yang sedih. Casey hanya terkekeh mendengar pengakuan Gloria itu. "Ia hanya malu mengatakannya." Casey menghibur. "Coba-coba ceritakan bagaimana bisa kau memilih memasak hingga mendapatkan pujian Willis!" Pinta Gloria penuh semangat. Casey menghela napas, "Baik, baik, Aku akan menceritakannya, tapi bisakah kau mengobati wajah ku terlebih dahulu?" Pinta Casey. Sementara Casey dan Gloria asuk bercerita dengan Casey di ruang tengah, Willis membuka email yang di kirim Peter netranya membola saat melihat lampiran foto yang dikirim Peter. Dari : Peter Kepada : Sean Sean, aku merasa aku dalam bahaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN