Chapter 47 : Kejadian Konyol

1731 Kata
"Untuk cuci piring, aku yang akan melakukannya nanti. Sekarang kita fokus dulu untuk mengobati wajah mu." ungkap Willis dengan nada yang terdengar lembut. Pria itu lalu melangkah ke arah kotak P3K yang belakangan selalu Casey perhatikan bahwa setiap ruangan di rumah Sean pasti selalu menyediakan kotak berisi obat-obatan, hingga tidak sulit untuk menemukan segera mendapatkan penanganan jika terluka. "Eh m-mengobati wajahku?" Ulang Casey pelan. Casey masih belum menyusul langkah Willis sehingga Willis berinisiatif untuk memutar tubuhnya dan menarik tangan gadis itu dengan lembut agar segera mengikutinya. Willis menatap Casey dengan tatapan miris, "Hm, apakah kau lebih senang jika wajah mu babak belur seperti itu?" Sindir Willis membuat Casey menggembungkan pipinya. "Tentu saja tidak! Kau tahu gara-gara wajah babak belur ini aku hampir mendapatkan masalah di pusat perbelanjaan." Gerutu Casey tidak terima. Willis mengerutkan alisnya pebasaran, "Masalah?" Casey mengangguk, "Aku hampir dikira korban kekerasan dalam rumah tangga." Casey menggerutu seraya melipat tangan di perut, ia melirik Willis yang terdiam seolah berkelut dengan sesuatu. "Lalu apa yang kau katakan?" Casey terlihat menggaruk alisnya, "Untung ada pria yang memberiku ide, mengatakan bahwa aku adalah seorang petinju wanita yang baru selesai bertarung dan latihan. Sulit sih, membuat mereka percaya tapi akhirnya mereka percaya." Jelas Casey dengan seutas senyum geli membayangkan puluhan orang termasuk petugas keamanan di pusat perbelanjaan yang ia bohongi dengan mengatakan bahwa ia adalah petinju wanita. Netra Willis terlihat menyipit, "Apakah ia mengantar mu atau kau malah membawanya ke sini?" Curiga Willis. Casey segera menggeleng, "Tentu saja tidak! Mana mungkin aku berani membawa orang asing ke sini?" Willis duduk di sofa lalu melipat tangannya di perut, "Tapi kau membawa salah satu komplotan mu ke sini. Gadis tomboy yang tidak tahu sopan santun itu." Ungkap Willis tanpa nada segan di ucapannya. Casey mengerutkan alisnya kesal, "Emma tidak seperti yang kau pikirkan, dia hanya mengantar ku ke sini. Bagi mu mungkin dia orang asing, tapi dia adalah saudara ku. Aku tidak tahu situasi kacau apa yang ajan terjadi jika Emma tidak menolong ku." Ujar Casey tidak terima dengan ucapan Willis. "Itu lah alasan kenapa aku melarang nu bepergian sendirian. Lagi pula memesan daring itu lebih mudah. Tidak perlu keluar, tidak perlu bertemu orang-orang dan tidak perlu repot-repot." Nasihat Willis yang dibalas Casey dengan tatapan cemoohan. Willis menatap Casey yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesalnya. Dalam benaknya kini ia membayangkan hamster putih yang tengah menggerutu mencemoohnya karena direbut jatah biji bunga mataharinya. "Menurut mu aku memaksakan diri pergi ke luar untuk siapa? Untuk memamerkan wajah ku yang bengkak? Aku ingin memasak untuk mu. Aku tahu kau menyukai sup jagung dengan telur dan potongan ayam dicampur brokoli hijau yang di potong halus agar kau tidak menyadari di dalam sup itu tidak ada sayur karena kau tidak suka sayur!" Gerutu Casey panjang lebar mengingat isi catatan dari jurnal nyonya Diana Rose Blaxton ibu Sean. Casey segera mengatupkan bibirnya saat menyadari apa yang baru saja di katakannya. Apakah ia baru saja membocorkan informasi bahwa ia mengetahui tentang Sean dari jurnal mendiang ibunya yang Casey sembunyikan? Tak berbeda jauh dari Casey, Willis terlihat terkejut dengan kalimat panjang lebar yang baru saja di sampaikan Casey dalam satu tarikan napas panjang itu. Jadi ia memaksakan diri untuk pergi ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja dan memasak untuknya? Dan yang mengejutkan, bagaimana bisa Casey membuat bubur yang rasanya mengingatkannya pada sesuatu yang Willis dan Sean lupakan, tapi Willis tidak tahu apa itu. Rasanya seperti ia menemukan sesuatu yang begitu membuatnya bernostalgia. Tapi ia tidak mengerti apa yang sebenarnya ia kenang dan nostalgiakan. "K-kau pikir aku hanya diam sebagai tunangan mu? Aku mencari informasi dari Gloria tentang apa yang kau sukai dan bagaimana saat kau kecil. A-aku ingin mengenalmu lebih jauh." Ungkap Casey yang seketika membuat Willis merasa kepalanya sakit. Rasa sakit yang membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut tanpa sebab. Apa yang Willis sukai? Bagaimana Willis saat Willis kecil? Benar adanya fakta bahwa tidak suka sayur apa lagi itu adalah brokoli hijau yang menurutnya pahit. Tapi itu adalah fakta tentang Sean. Itu adalah Sean saat Sean kecil. Ia manja, cengeng, bertubuh kurus dan menyedihkan di banding Sky yang kuat pemberani dan selalu mencari masalah dengan para maid. Tunggu, ia bisa mengingat tentang Sean bahkan Sky.  Tapi kenapa ia tidak bisa mengingat tentang dirinya sendiri? Kenapa potongan fragmen ingatan itu ia hanya melihat Sean dan Sky. Sky bukan lah saudara Sean, ia lah kembaran Sean. Tapi di mana ia berada saat Sean dan Sky kecil bersama? Bayangan hitam tak memiliki anggota tubuh. Willis tiba-tiba merasa pembuluh darahnya menyempit, membuat lehernya terasa panas. Ia tidak bisa mengingat bagaimana dirinya dulu. Kenapa ia melihat dirinya sendiri sebagai bayangan hitam tak memiliki anggota tubuh. Di mana dirinya yang asli? Willis memegang jantungnya yang tiba-tiba terasa seperti di remas. Melihat itu Casey menatap Willis khawatir. "Kau tidak keracunan karena sup jagung itu bukan?" Tanya Casey waswas takut-takut jika masakannya malah bisa membunuh orang lain. Berhasil mendapatkan kesadarannya kembali, Willis tercenung dengan napas yang naik turun. "Kau baik-baik saja?" Tanya Casey hati-hati. Willis mengangguk, "Hanya pusing. Aku berharap kau tidak mencampur racun di bubur ku agar kau bisa kabur." Ujar Willis tentu tidak sungguh-sungguh, ia hanya ingin mencairkan suasana. Casey yang semula panik, kini memasang wajah sebal, "Ah ya, bodoh sekali aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Mungkin aku terlalu baik hati. Ingat aku adakah gadis polos--" Balas Casey sarkas. Membuat Willis tersenyum samar. Seperti biasanya, gadis itu selalu tahu bagaimana membuat Willis kagum dengan cara Casey membuatnya tersenyum dengan tingkah lakunya. "Hamster." Potong Willis menatap Casey sementara alis Casey berkedut. "Hamster?" Ulang Casey. Netra Willis membola, "Hamster adalah kesukaan Willis." Celetuk Willis sedikit gagap karena baru menyadari bahwa ia menyebut hal bodoh. Sementara Casey hanya bisa menautkan alisnya bingung karena ia tidak sedikit pun menanyakan itu. Setelah itu Willis hanya bisa diam sejenak, kemudian ia membawa tangannya untuk membuka kotak P3K dan mengeluarkan kapas serta beberapa salep untuk luka lebam. Sementara Casey berada di sisi lain yang cukup jauh dari Willis. "Ke sini," titah Willis. Casey menyipitkan netranya curiga ke arah Willis. "Ada apa dengan tatapan mu itu?" Tanya Willis yang membuat Casey "Bagaimana aku bisa mengobati mu jika kau tidak berada di jangkauan ku? Aku bukan jerapah yang memiliki kepala dan tangan panjang." Ungkap Willis yang membuat Casey menggaruk ragu tengkuknya. "Kenapa aku merasa seperti de ja vu?" Tanya Casey pada dirinya sendiri. "Hei tikus?" Sapa Willis lagi yang akhirnya membuat Casey segera mendekat ke arahnya. Casey mendekat ke arah Willis dengan menggeser pantatnya secara perlahan, penuh kehati-hatian dan kewaspadaan. "Aku tidak akan melahap mu." Sarkas Willis. Casey akhirnya hanya bisa menuruti apa yang dikatakan pria itu. meskipun dalam hati ia menggerutu karena apa yang membuatnya enggan dekat-dekat Willis sedari tadi, karena perasaan berkecamuk yang terus menyerangnya. Entah mengapa beberapa waktu bersama Willis membuat jantungnya berdegup kencang tanpa alasan dan itu membuatnya merasa takut. "Pejamkan mata mu, mungkin ini akan perih." Titah Willis yang dituruti Casey saat akhirnya Casey sudah duduk tepat di samping Willis. Pria itu menoleh kembali ke arah meja bergantian dengan wajah Casey membuat Casey semakin tidak tenang. Setiap gerak pria itu membuat Casey harus merasa awas. Casey memejamkan netranya, namun ia malah mendengar suara langkah kaki yang berada tepat di sampingnya lalu perlahan menjauh, tak lama terdengar suara-suara ribut dari arah dapur yang tidak jauh dari ruang tengah di mana Casey sekarang duduk--ruang tengah. Casey berdebat dengan hatinya sendiri. Haruskah ia membuka matanya dan melihat apa yang sedang pria itu lakukan? Casey membuka netranya perlahan, namun ia tidak sempat melihat karena ia mendengar langkah kaki Willis kembali mendekat. Dengan segera ia kembali memejamkan netranya. "Aw!" Pekik Casey seraya memundurkan tubuhnya saat merasakan ada benda panas yang menyentuh tulang pipinya. Casey buru-buru membuka dan ia mendapati Willis sedang membersihkan lukanya dengan kapas hangat--tapi ini panas bagi Casey! "Apa yang sedang kau lakukan? Kapas?" Casey melirik ke arah kapas yang ada di jari Willis. "Ini terlalu panas!" Gerutu Casey. Namun Willis menatap kapas itu dengan wajah tanpa dosa. "Menurut ku tidak, tuh. Lagi pula itu untuk membuat mu segera sembuh. Kapas hangat cenderung ke panas agar bakterinya mati." Ucapnya yang membuat Casey geram namun Willis malah mengabaikannya dan dengan satu mengganti posisi duduknya yang semula menghadapnya, kini menyamping dengan dua kaki yang diturunkan di sofa. "Tapi ini panas--" Casey terbelalak saat tiba-tiba ia merasakan kepalanya di tarik ke arah depan di mana terdapat paha Willis yang kini menjadi bantalnya. "A-apa yang kau lakukan?" Pekik Casey merasakan wajahnya memanas. Kini ia dapat melihat wajah Willis--Sean dari bawah. Pemandangan yang terasa asing karena ini sisi tubuh lain dari tubuh Sean. Tunggu, jika kepala Casey di atas paha Sean, kalau begitu apakah di sampingnya ini adalah area privasi-- Casey menggelengkan kepalanya. Apa sih yang ia pikirkan? Hush! Hush! Ia harus fokus dengan rencananya. Lihat progres rencananya sudah berkembang sangat jauh. Kini ia bisa berada di jarak sedekat ini, berarti Willis sudah tidak menganggapnya sebagai biang keributan hingga ia mau dekat-dekat dengan Casey, bukan? Casey memejamkan netranya. Tapi kenapa dengan nakal netranya terus menerus ingin menoleh ke arah samping? Dasar mata m***m! "Kau tidak akan bisa melihatnya. Dan sebaiknya jangan, karena jika nanti kau penasaran kau akan terus memikirkannya." Netra Casey tiba-tiba membola, rona merah di pipinya terlihat semakin kentara. Ia membawa irisnya untuk menatap Willis, dan ia mendapati Willis menatapnya dengan tatapan seolah menghakimi. Casey menggigit bibirnya, Demi mumi ahmanet! Apa yang baru saja dikatakan Willis kepadanya? Apakah baru saja ia mengetahui bahwa Casey melirik ke area terlarang itu? Casey memejamkan netranya kembali dalam. Sungguh apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Kenapa ia malah bersikap m***m seperti ini? Benar-benar memalukan. Sungguh memalukan. Ah saking malunya Sherly berharap bumi menelannya sekarang juga. "Dan lagi apakah kau memang berniat untuk menggoda ku? Bagaimana bisa sedari tadi kancing baju ini terus terbuka tanpa kau sadari?" Willis membawa tangannya untuk mengancingkan kancing kemeja flanel Casey. Netra Casey semakin membola sempurna saat melihat dengan gerakan cepat Willis mengancing baju kemeja flanel Casey. Namun sesuatu musibah lain yang tak terduga muncul di saat Willis sampai pada kancing terakhir paling atas. Karena berada di posisi yang cukup sulit, lengan Willis tidak sengaja menyenggol bagian atas dua gundukan kenyal dadaa Casey. Casey terdiam menahan napas seketika, begitu pun Willis saat menyadari bahwa ia baru saja melakukan hal konyol. Namun dalam keadaan canggung itu, kejadian konyol yang paling konyol terjadi. Kini Casey merasakan ada sesuatu yang menggembung di samping kepalanya membuat Casey dan Willis melirik pada titik yang sama dengan tatapan kaget di antara keduanya. "A-aku sepertinya harus ke kamar mandi--"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN